Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, December 1, 2022

Narkoba Menggurita, Selamatkan Para Pemuda



Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)
 

Mengutip dari Pusiknas Polri, kejahatan narkoba dan psikotropika di Indonesia menembus angka 15.455 kasus dalam semester pertama di 2022. Bahkan data di Pusiknas Bareskrim Polri menunjukkan perkara narkoba menjadi kejahatan tertinggi kedua setelah pencurian dengan pemberatan atau curat. Namun dampak kejahatan narkoba lebih berbahaya.


Narkoba tak hanya berdampak pada kesehatan penyalahguna. Tapi transaksi dan jaringan narkoba berkaitan dengan terorisme lintas negara dan pencucian uang. Tindakan kriminal lain pun muncul akibat narkoba. Sehingga tidak salah jika dikatakan narkoba sebagai sumber kejahatan.
 

Kejahatan narkoba ini melibatkan banyak komponen masyarakat. Dari oknum Polisi, TNI, masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar. Sebut saja kasus narkoba yang menimpa Kapolda Jatim baru-baru ini.


Berdasarkan data dari Badan Narkotika Nasional (BNN), lanjut, penyalahgunaan narkoba di Indonesia mengalami peningkatan 0,03% pada 2019 dibandingkan 2017. Dengan kata lain, pada 2019, tercatat ada 3,6 juta pengguna narkoba, 63% di antaranya pengguna ganja. Dari angka 3,6 juta pengguna narkoba, Aam mengungkapkan, 70% di antaranya adalah masyarakat dalam usia produktif, yakni 16-65 tahun. Dari 70% tersebut 27% adalah pelajar.


Narkoba Jangan Dianggap Remeh


Sebagai bagian dari masyarakat yang peduli dengan kondisi generasi muda, kita tidak bisa memandang remeh kasus narkoba. Mungkin sepertinya lingkungan di sekitar kita baik-baik saja. Kasus narkoba ini seperti puncak gunung es saja. Senyap namun mematikan. Jika kita tidak waspada, narkoba bisa melibas siapa saja.


Narkoba memiliki efek yang luar biasa jika mengkonsumsinya. Dari gangguan fungsi otak hingga kematian. Bisa kita bayangkan bagaimana kondisi generasi muda kita jika sampai terjerat narkoba. Awalnya gratisan, hingga mereka harus turut memperdagangkan jika tetap mau mengkonsumsinya.
 

Di sisi lain, perdagangan narkoba memang memiliki potensi cuan yang cukup besar. Tidak sedikit kalangan pelajar dan mahasiswa yang akhirnya terjun turut memperjual belikan narkoba ini.


Gurita narkoba di tingkat pemuda semestinya menampar khalayak, betapa kita mulai dihinggapi krisis moralitas generasi. Terlebih, generasi muda adalah masa depan negara. Jika pemudanya rusak, bagaimana nasib negara ini. Saat ini saja Indonesia sudah berada dalam kondisi terjajah dari segala sisi. Bukan tidak mungkin rusaknya generasi mempermudah penjajah untuk balik nama negara ini. Padahal ini baru dari sisi narkoba. Bagaimana rusaknya generasi dari sisi pergaulan, seks bebas, turunnya moralitas dan empati. Sungguh sangat memprihatikan sekali.


Sistem Sanksi dalam Islam terhadap Masalah Narkoba


Sudah sering kali, penangkapan pengedar narkoba dan penghancuran barang bukti dilakukan, dari yang amatiran hingga profesional tingkat internasional. Tapi mengapa narkoba ini terus saja jaya?


Yah, hukum yang kurang tegas. Tidak memiliki efek jera. Serta kondisi yang memungkinkan narkoba tetap bisa dijual belikan, bahkan di dalam penjara pun, para pengedar masih bisa menjalankan bisnis narkoba. Belum lagi oknum polisi yang menjadi tameng perdagangan narkoba. Inilah yang menjadikan narkoba sulit diberantas. Apalagi saat ini kita tinggal di bawah sistem kapitalis, yang memandang segala sesuatu dari sudut pandang materi dengan azas manfaatnya. Justru semakin melanggengkan perdagangan narkoba.


Sebagai muslim harusnya kita menjadikan Islam sebagai solusi dalam setiap masalah termasuk narkoba. Ideologi Islam itu lengkap dan paripurna, memuat segala permasalahan manusia mulai dari urusan kecil hingga urusan pemerintahan dan politik (pengurusan segala kebutuhan umat/rakyat oleh negara).

 
Sistem Islam juga mengatur tentang sanksi dalam masalah penyalahgunaan narkoba. Dalam tulisan K.H. M. Shiddiq al-Jawi yang berjudul “Hukum Seputar Narkoba Dalam Fiqih Islam” disebutkan bahwa sanksi bagi mereka yang menggunakan narkoba adalah ta’zir. Hukuman ta’zir yaitu sanksi yang jenis dan kadarnya ditentukan oleh kadi (hakim) dalam sistem pemerintahan Islam, misalnya dipenjara, dicambuk, dan lain-lain.

 
Sanksi ta’zir dapat berbeda-beda sesuai tingkat kesalahannya. Pengguna narkoba yang baru berbeda hukumannya dengan pengguna narkoba yang sudah lama. Hukuman itu juga berbeda bagi pengedar narkoba, atau bahkan bagi pemilik pabrik narkoba. Ta’zir dapat sampai pada tingkatan hukuman mati. (Saud Al Utaibi, Al Mausu’ah Al Jina`iyah Al Islamiyah, 1/708-709; Abdurrahman Maliki, Nizhamul Uqubat, 1990, hlm. 81 & 98).


Setegas itu Islam memberikan solusi dan sanksi terhadap kasus narkoba. Islam juga sangat menjaga para generasinya, sehingga berbagai hal yang masuk, termasuk informasi akan melalui seleksi yang sangat ketat. Wallahu'alam bishshawab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox