Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, November 4, 2022

Populasi Gen Z Meningkat, Mampukah Kita Menjadikan Mereka Generasi Sekelas Sahabat?




Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)


Jumlah penduduk Indonesia dilaporkan kembali mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pertengahan tahun 2022 penduduk Indonesia naik 1,13% dari tahun sebelumnya yaitu menjadi 275,77 juta jiwa. Saat Indonesia mendapatkan bonus demografi terbaik, di Benua Eropa sebagian besar negara-negara di sana menghadapi krisis demografi karena tingginya tingkat kematian dan penurunan angka kelahiran. Populasi di Eropa pun sudah menua saat ini. Sehingga, banyak negara di Benua Biru itu memberlakukan kebijakan untuk meningkatkan angka kelahiran.


Tidak dipungkiri dengan jumlah penduduk yang cukup besar, maka generasi muda kita juga besar. Berarti generasi Z atau kita sering menyebutnya dengan Gen Z populasinya cukup banyak di negara ini, yang mayoritas muslim. 



Sementara itu, untuk sekala Asia Pasifik menurut kajian McKinsey, populasi Gen Z pada 2025 nanti akan mencapai seperempat jumlah populasi kawasan. Tentu, jumlah yang sangat besar. Sementara itu, populasi Gen Z di Indonesia  berdasarkan hasil sensus penduduk BPS tahun 2020 lansiran katadata, terdapat 74,93 juta gen Z di Indonesia atau sekitar 27,94% dari total penduduk Indonesia.


Potensi demografi tersebut dilengkapi  dengan data Gen z menghabiskan rata-rata 10 jam sehari di sosial media. Tentu akan menjadikan Gen Z sebagai Pelopor Perubahan Dunia melalui dunia digital. Tentu para orang tua memiliki kekhawatiran mampukah Gen Z bagaimana mengoptimalkan potensinya tersebut untuk kebangkitan Islam? Karena perkembangan dunia digital sangat cepat sekali. Jika kita tidak bergerak cepat tentu kita yang akan terlibas.


Dari pendahuluan di atas setidaknya ada beberapa poin yang perlu kita bahas, yaitu: 


1) Seperti apakah potensi Gen Z ini agar kita tidak salah mengarahkan mereka? 


2) Mampukah Gen Z muslim memenangkan potensi kebangkitan Islam? 


3) Bagaimana generasi terdahulu mampu menjadi pionir peradaban?


Mengenal Lebih Dekat Potensi Gen Z


Mengutip dari Wikipedia, pada teori generasi (Generation Theory) yang dikemukakan Graeme Codrington & Sue Grant-Marshall, Penguin, (2004) 5 generasi manusia berdasarkan tahun kelahirannya, yaitu: (1) Generasi Baby Boomer, lahir 1946-1964; (2) Generasi X, lahir 1965-1979; (3) Generasi Y, lahir 1980-1995, sering disebut generasi millennial; (4) Generasi Z, lahir 1996-2009 (disebut juga iGeneration, GenerasiNet, Generasi Internet). DAN (5) Generasi Alpha, dimulai dari tahun 2010 (akhir dari generasi masih ambigu dan belum di tentukan).


Generasi Z adalah generasi yang lahir dalam rentang tahun 1996 sampai dengan tahun 2012 masehi. Generasi Z adalah generasi setelah Generasi Milenial, generasi ini merupakan generasi peralihan Generasi Milenial dengan teknologi yang semakin berkembang. Beberapa diantaranya merupakan keturunan dari Generasi X dan Milenial.


Disebut juga iGeneration, generasi net atau generasi internet. Mereka memiliki kesamaan dengan Generasi Milenial, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, browsing dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka.


Executive Director Nielsen Media, HellenKatherina mencatat bahwa kepemilikan smartphone dalam Gen Z saat ini mencapai 86 persen, lebih banyak dibanding generasi terdahulunya. Gen Z dengan rentang usia 20-24 tahun paling sering menggunakan internet terutama melalui smartphone. Waktu berinternet mereka minimal 4 jam sehari.


Secara indeks, konsumsi internet dari Gen Z mencapai 122. Sedangkan generasi milenial rentang usia 25-39 tahun menduduki urutan kedua yaitu 119. Lalu, generasi X yang usianya 40-54 tahun, indeks penggunaan internetnya hanya 84, dan generasi baby boomers usia di atas 55 tahun, indeks interaksinya dengan internet hanya 37.


Adapun karakteristik dan ciri - ciri umum Generasi Z adalah: 


1) Merupakan generasi digital yang mahir dan gandrung akan teknologi informasi dan berbagai aplikasi komputer. Informasi yang dibutuhkan untuk kepentingan pendidikan maupun pribadi akan mereka akses dengan cepat dan mudah. Anggota generasi Z tidak mengenal dunia tanpa smartphone atau media sosial. Ketika iPhone dirilis pada 2007, anggota tertua dari generasi ini baru berusia 11 tahun dan anggota bungsu belum dilahirkan. Mereka mengetahui semua seluk-beluk teknologi. Bahkan, kemampuan teknologi mereka seakan bawaan dari lahir.


2)  Sangat suka dan sering berkomunikasi dengan semua kalangan khususnya lewat jejaring sosial seperti facebook, twitter, line, whatsapp, telegram, instagram, atau SMS. Melalui media ini mereka jadi lebih bebas berekspresi dengan apa yang dirasa dan dipikir secara spontan.


3) Ketika platform seperti Facebook dan Twitter pertama kali keluar, millennial dan generasi yang lebih tua menggunakannya tanpa memikirkan dampak. Seiring waktu, mereka menyadari bahwa mengumbar hidup di mata publik dapat dengan mudah menghantui mereka. Generasi Z telah belajar dari kesalahan-kesalahan tersebut dan memilih platform yang lebih bersifat privasi dan tidak permanen.


4) Generasi Z dikenal lebih mandiri daripada generasi sebelumnya. Mereka tidak menunggu orang tua untuk mengajari hal-hal atau memberi tahu mereka bagaimana membuat keputusan. Apabila diterjemahkan ke tempat kerja, generasi ini berkembang untuk memilih bekerja dan belajar sendiri.


5) Cenderung toleran dengan perbedaan kultur dan sangat peduli dengan lingkungan sekitar. Tanpa diragukan lagi, generasi Z akan menjadi generasi yang paling beragam yang memasuki lapangan kerja dalam sejarah Amerika Serikat. Mereka terdiri dari berbagai bagian dari kelompok ras atau etnis minoritas. Mereka juga dibesarkan untuk lebih menerima dan menghormati lingkungan dibanding generasi orang-orang sebelumnya.


6) Terbiasa dengan berbagai aktivitas dalam satu waktu yang bersamaan. Misalnya membaca, berbicara, menonton, dan mendengarkan musik secara bersamaan. Hal ini karena mereka menginginkan segala sesuatu serba cepat, tidak bertele-tele dan berbelit-belit.


7) Generasi Z menempatkan uang dan pekerjaan dalam daftar prioritas. Tentu saja, mereka ingin membuat perbedaan, tetapi hidup dan berkembang adalah lebih penting.


8) Cenderung kurang dalam berkomunikasi secara verbal, cenderung egosentris dan individualis, cenderung ingin serba instan, tidak sabaran, dan tidak menghargai proses.


9) Generasi Z benar-benar generasi pertama dunia digital. Smartphone dan media sosial tidak dilihat sebagai perangkat dan platform, tapi lebih pada cara hidup. Kedengarannya gila, tapi beberapa penelitian mendukung klaim ini. Sebuah studi oleh Goldman Sachs menemukan bahwa hampir setengah dari Gen Zers terhubung secara online selama 10 jam sehari atau lebih. Studi lain menemukan bahwa seperlima dari Z Gen mengalami gejala negatif ketika dijauhkan dari perangkat smartphone mereka.


10) Tidak cepat merasa puas. Sebanyak 75% dari Gen Z bahkan tertarik untuk memegang beberapa posisi sekaligus dalam sebuah perusahaan, jika itu bisa mempercepat karier mereka.


Dari ciri Gen Z di atas terdapat potensi positif dan negatif yang ada paga Gen Z ini. Tentu sebagai orang tua ataupun pendidik, kita harus memiliki formula terbaik agar potensi positif yang ada di dalam diri mereka berkembang. Serta mampu menekan potensi negatifnya. Sehingga para Gen Z muslim ini mampu menjadi pionir kebangkitan peradaban Islam.


Meng-upgrade Kemampuan Gen Z Muslim untuk Menenangkan Kebangkitan Islam


Gen Z muslim di negara ini tentunya memiliki potensi yang sama dengan Gen Z lainnya. Tinggal bagi kita meng-upgrade ciri positif mereka, dan memastikan mereka untuk terus berjalan dalam rel yang lurus yaitu Islam. 


Pandemi selama hampir tiga tahun ini, mengajarkan pada kita bahwa dakwah di dunia digital adalah sebuah keniscayaan. Apalagi sebagaimana disebutkan di atas para Gen Z bisa menghabiskan waktu lebih dari 4 jam sehari di dunia maya.


Arus informasi digital pun cukup deras. Para Gen Z muslim harus memiliki benteng yang kuat menghadapi berbagai situasi dan komunitas di dunia maya. Sekejap saja teledor sulit mengembalikan mereka pada relnya. 


Cepatnya arus informasi ini di dunia maya, sebenarnya adalah keuntungan bagi kita untuk bisa turut bermain di sana. Bertemu banyak Gen Z dan berkomunikasi dengan cara mereka. Karena sebagaimana bi'ah Islam yang bisa diterima di seluruh kondisi masyarakat. 


Potensi Gen Z yang tidak bisa lepas dari internet ini akan memudahkan setiap ide-ide Islam diakses oleh mereka. Sehingga ini adalah kesempatan yang harus diprioritaskan agar informasi yang diperoleh para Gen Z ini adalah informasi yang benar.


Untuk itu para Gen Z yang sudah terdakwahi oleh Islam kaffah, harus terus mengupgrade diri dengan beberapa hal berikut: 


1) Terus mengkaji dan mendalami tsaqofah Islam. Agar terbentuk benteng yang kuat, agar tidak mudah terseret arus informasi global yang jauh dari Islam.


2) Terus turut aktif menyuarakan Islam baik di dunia maya maupun dunia nyata. Karena kalau melihat pangsa pasar dakwah, dari, oleh, dan untuk mereka adalah dakwah yang paling mengena.


3) Pendampingan dari para orang tua, musrif-musrifah. Pendampingan adalah perkara yang paling penting agar para Gen Z ini terus berdakwah dari cupu hingga menjadi suhu. Karena tentu saja mereka akan banyak mengalami berbagai problem mulai dari diri sendiri hingga lingkungan atau komunitas yang mereka sasar. Ingat mendampingi bukan hanya mengawasi. 


Dengan tertib dan istiqomah. Maka Gen Z muslim ini tentu mampu menjadi pionir-pionir kebangkitan Islam. Mengubah masyarakat dan peradaban. Inilah yang memang harusnya menjadi cita-cita tertinggi.


Teladan Dari Generasi Terdahulu


Dengan pemahaman yang begitu tertancap kuat, tak heran jika generasi sahabat adalah generasi terbaik, khairu ummah. Di kala itulah, Islam sebagai sebuah institusi negara berhasil tumbuh menjadi mercusuar peradaban dunia.

 

Tentu saja hal itu tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan dengan proses pembinaan intens yang dilakukan oleh Rasulullah saw.. Pemikiran dan perasaan para sahabat dibersihkan dari sisa-sisa pemikiran jahiliah, sehingga benar-benar memahami makna kehidupan yang hakiki.

 

Mereka menjadikan syariat sebagai tolok ukur perbuatan. Bagi mereka, mendapat rida Allah Swt. adalah tujuan dan kebahagiaan. Kehidupan mereka juga diatur dengan syariat Islam kafah di bawah naungan kepemimpinan Islam. Atmosfer keimanan pun tercipta di tengah masyarakat.


Siapa yang tidak mengenal Ali bin Abi Thalib, Mus'ab bin Umair, Sholahuddin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan banyak lagi generasi terdahulu lainnya. Mereka mampu mengharumkan peradaban Islam bukan instan. Banyak hal yang sudah menempa diri mereka. 


Sehingga untuk menuju ke sana, para Gen Z juga tidak boleh patah arang. Mampu berpikir jauh ke depan. Tidak mudah mengeluh, serta terus mengingat bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Setiap ada masalah pasti ada solusinya. Sehingga apa yang diraih generasi terdahulu mampu juga diraih oleh para Gen Z ini.


Khatimah 


Gen Z memiliki banyak potensi, meskipun untuk menggalinya kita perlu berusaha lebih keras lagi agar mereka mampu membangkitkan umat. Sehingga dari pembahasan di atas dapat kita tarik benang merah, yaitu: 


1) Gen Z memiliki potensi positif dan negatif, maka kita harus berusaha untuk mengasah potensi positif mereka, agar potensi negatifnya tidak muncul. 


2) Gen Z akan mampu memenangkan potensi kebangkitan Islam asal ada usaha maksimal ke arah sana. Pastinya terus menerus didampingi hingga cita-cita tertinggi yaitu kebangkitan Islam itu mampu terwujud. 


3) Generasi terdahulu banyak memberikan contoh atau teladan bagi kita. Hingga peradaban Islam mampu dipertahankan hingga 13 abad. Sehingga Gen Z jika ingin mencontoh mereka, harus menjadi generasi yang kuat, berpikir jauh ke depan dan tidak mudah mengeluh. 



#LamRad 

#liveOppresedOrRiseUpAgaints

No comments:

Post a Comment

Adbox