Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, November 10, 2022

Ekonomi Dalam Ancaman Resesi: Mampukah Pendidikan Vokasi Memberikan Solusi?

 



Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)


Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi pada tahun 2020 sebesar -2,07 persen. Hal ini menyebabkan perekonomian Indonesia pada tahun 2020 mengalami deflasi atau penurunan drastis karena perkembangan ekonomi di Indonesia mempunyai pegerakan yang kurang stabil.


Hal tersebut dipengaruhi oleh hantaman pandemi yang meluluh lantakkan seluruh aspek kehidupan. Adapun aspek ekonomi yang paling besar mendapatkan efeknya. Sehingga tahun 2022 ini, ketika pandemi sudah menjadi endemi, ekonomi Indonesia mulai merangkak naik.
 

Namun, hantaman kenaikan harga kebutuhan efek dari naiknya harga BBM, serta ancaman resesi global membuat pelaku ekonomi harus mencari strategi baru. Pemerintah sendiri untuk pemulihan ekonomi memiliki banyak kebijakan. Salah satunya adalah menggencarkan kembali program pendidikan vokasi. Yang bertujuan untuk menggeliatkan lagi dunia usaha, dengan memberikan skill bagi peserta didik. Sehingga, yang menjadi pertanyaan mampukah pendidikan vokasi ini menghadapi tantangan global perekonomian nasional?


Pendidikan vokasi ini dicanangkan sejak tahun 2008. Saat ini program pendidikan vokasi kembali digaungkan, sehingga dalam tulisan ini ada dua poin masalah yang akan dibahas, yaitu:
 

1) Bagaimana pendidikan vokasi dijalankan selama ini?


2) Mampukah out put pendidikan vokasi ini menghadapi tantangan global perekonomian nasional?


Mengulik Pendidikan Vokasi Saat Ini yang Disiapkan Pemerintah


Pendidikan vokasi merupakan penggabungan antara teori dan praktik secara seimbang dengan orientasi pada kesiapan kerja lulusannya. Kurikulum dalam pendidikan vokasi terkonsentrasi pada sistem pembelajaran keahlian (apprenticeship of learning) pada kejuruan-kejuruan khusus (specific trades). Karena itu Presiden Jokowi melihat pendidikan vokasi/kejuruan sangat penting untuk mempersiapkan SDM Indonesia dalam menghadapi persaingan global.


Pendidikan vokasi ini untuk SMK difokuskan di empat sektor unggulan,  yakni SMK Kemaritiman, SMK Ketahanan Pangan, SMK Pariwisata, dan SMK Industri Kreatif.


Dukungan pembinaan untuk semua bidang dimulai dari revitalisasi SMK yang ada, termasuk penambahan program di SMK. Pemerintah juga mengalokasikan dana untuk membangun unit sekolah baru (USB) SMK di daerah dengan potensi tinggi. Untuk penguatan kelembagaan, tata kelola institusi, sertifikasi lulusan dan peningkatan kebekerjaan, dibangun sektor kewirausahaan yang berbasis keunggulan lokal.


Lulusan SMK secara umum diharapkan dapat mendorong pelibatan peran aktif dan peningkatan kapasitas masyarakat dalam mengelola potensi wilayah setempat. Dengan demikian, keberadaannya dapat memberikan manfaat dan keberlanjutan sumber daya yang ada.


Sedangkan untuk perguruan tinggi saat ini ada 4 universitas negeri yang sudah menerapkan program pendidikan vokasi ini. Universitas tersebut adalah: Institut Pertanian Bogor (IPB),Universitas Airlangga (Unair), Universitas Diponegoro (Undip),
dan Universitas Sebelas Maret (UNS).


Pendidikan vokasi perguruan tinggi berorientasi pada penguasaan keahlian terapan tertentu. Program pendidikannya meliputin Diploma: D1/Ahli Pratama, D2/Ahli Muda, D3/Ahli Madya dan D4/Sarjana Terapan yang adalah setara dengan program pendidikan akademik strata 1. 


Mahasiswa lulusan vokasi akan diberikan keterampilan khusus yang menjadi bekalnya di masa depan yaitu pengalaman kerja. Mereka juga akan menyandang gelar vokasi atau gelar ahli madya saat sudah selesai menyelesaikan studi.


Pendidikan vokasi ini memang belum terlalu familiar ditelinga masyarakat. Namun efek penerapan pendidikan vokasi tentu akan segera dirasakan. Terutama untuk anak-anak SMK. Dari tujuan yang diinginkan sudah sangat jelas. Mendapatkan tenaga ahli tanpa kesulitan tapi dengan harga yang murah karena lulusan SMK. Ini tentu mudah sekali tergambar siapa yang diuntungkan? Tentu para kapitalis yang membutuhkan tenaga kerja murah.
 

Termasuk dari lulusan perguruan tinggi, tidak lepas dari sistem kapitalis. Tentu saja sebagai ahli madya mereka belum bisa disebut ahli. Dari sisi gaji tentu mereka dibawah. Meskipun dari sisi skill tidak sama, atau bahkan lebih.


Out Put Pendidikan Vokasi Dalam Arus Ekonomi Global


Program Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pusat Unggulan besutan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mendapat kritik mulai dari kalangan pengamat pendidikan hingga kelompok guru.


Pengamat Pendidikan dari Vox Populi Institut Indonesia, Indra Charismiadji mengungkapkan pendidikan vokasi masih menjadi salah satu jenjang pendidikan penyumbang terbesar pengangguran.

 
Mengutip data Badan Pusat Statistik per 2020, didapati bahwa SMK mendominasi jumlah pengangguran. Sebesar 13,55 persen dari tingkat pengangguran terbuka (TPT) dari lulusan SMK. Indra pun menuturkan, persoalan tersebut tak bisa diselesaikan hanya dengan memberikan pelatihan ke pendidik di SMK maupun sumber daya lulusan SMK.


Jika kita kembali meresapi cita-cita luhur dunia pendidikan, yakni mencetak generasi pembangun peradaban, sudah selayaknya kita mengajukan pertanyaan di mana korelasi antara tujuan pendidikan vokasi dengan peran sentral generasi sebagai pembangun peradaban?


Di tengah serbuan tenaga kerja asing, banjir barang-barang impor, penguasaan SDA oleh korporasi global, bukankah generasi muda memiliki peran vital untuk menekan segala bentuk penjajahan itu? Anehnya melalui sistem pendidikan generasi kita justru dipersiapkan untuk menjadi sekrup-sekrup yang menopang keberlangsungan penjajahan ekonomi atas negeri ini.


Jika mereka dicetak sebagai pekerja (buruh) tentu saja mereka kesulitan untuk bertarung dengan para korporat asing. Bisa-bisa generasi kita menjadi budak di negeri sendiri. Siapa yang tidak miris melihat suramnya masa depan generasi muda dengan program-program yang seolah manis tapi beracun.


Khatimah 


Dari uraian di atas ada beberapa hal yang bisa kita simpulkan, yaitu:


Pertama. Pendidikan vokasi sudah dilaksanakan di tingkat SMK dan perguruan tinggi, saat ini difokuskan dalam 4 titik, maritim, ketahanan pangan, pariwisata, dan industri kreatif. Tujuannya adalah mendapatkan out put ahli siap kerja.
 

Kedua. Pendidikan vokasi ini banyak mendapatkan kritik dari pengamat. Banyaknya pengangguran dari lulusan SMK tidak berbanding lurus dengan tujuan pendidikan vokasi. Termasuk tidak adanya korelasi pendidikan vokasi dengan peran generasi muda sebagai penopang pembangunan. Karena dalam pendidikan vokasi mereka dicetak sebagai pekerja (buruh). Sehingga hal ini akan menyulitkan generasi kita bersaing dan mempertahankan negerinya dari rongrongan kapitalis.

#LamRad
#liveOppresedOrRiseUpAgaints

No comments:

Post a Comment

Adbox