Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, October 13, 2022

RESESI SEKS MELANDA DUNIA, Apakah Penyebab Utamanya?

 


Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)


Fenomena “resesi seks” kini tengah terjadi di banyak negara di dunia, mulai dari wilayah Barat hingga Asia. Istilah ini merujuk pada menurunnya mood pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, dan punya anak. China tengah menghadapi rekor populasi yang makin berkurang karena angka kelahiran yang makin rendah. Pada 2021, Cina mencatat rekor angka kelahiran menjadi yang terendah sejak 1949.


Fenomena ini menjadikan beberapa ahli menganggap Negeri Tirai Bambu tengah menghadapi resesi seks. Resesi seks di Cina ramai jadi perbincangan usai sebuah laporan berjudul The Challenges of Law Birth rate in Cina rilis di Wiley pekan lalu. Istilah “resesi seks” ini merujuk pada keengganan warga Cina untuk menikah dan angka kelahirannya yang rendah.


Dalam laporan tersebut, pada 2021 jumlah populasi di Cina menurun secara signifikan. Banyak penduduk di Cina yang memutuskan hanya memiliki satu anak karena biaya membesarkan yang melejit, terutama di kota-kota besar.


Salah satu pekerja industri di pusat kota Changsha, Li, mengaku tidak cukup punya biaya untuk membesarkan anak, bahkan untuk satu anak. “Saya tak bisa punya anak lagi. Membesarkan satu anak seperti memasukkan uang Anda ke dalam mesin penghancur kertas. Tidak mungkin, saya bisa punya yang lain,” kata Li kepada Radio Free Asia, pada Januari lalu.


Membesarkan anak-anak di Cina butuh banyak biaya. Menurut warga Cina, setiap orang tua dari keluarga kelas menengah ke bawah harus mati-matian untuk membiayai pendidikan satu anak saja. Bagaimana dengan di Indonesia ataupun di negeri-negeri muslim lainnya bukankah biaya hidup tiap tahun juga makin tinggi? 


Dari uraian di atas, ada beberapa poin yang penting dibahas dalam materi ini, yaitu: 


1) Apakah yang menjadi faktor penyebab resesi seks di dunia? 


2) Mengapa negara - negara besar seperti Amerika bisa terkena imbas resesi seks? 


3) Bagaimana Islam memandang resesi seks ini?


Faktor-Faktor Penyebab Resesi Seks yang Ada di Dunia Saat ini


Resesi seks diartikan sebagai merosotnya gairah pasangan untuk melakukan hubungan seksual, menikah, hingga memiliki anak. Fenomena tersebut menimbulkan masalah demografi yang serius, dan memberikan dampak terhadap berbagai aspek kehidupan.


Melansir dari The Atlantic, fenomena resesi seks sendiri secara umum bisa terjadi karena sejumlah faktor, yaitu:


1. Menemukan kesenangan dengan cara lain.


Salah satu faktor yang menyebabkan adanya fenomena resesi seks diketahui karena saat ini, sangat mudah untuk manusia melakukan dan mencari kesenangan dengan cara yang lain tanpa melakukan hubungan seksual dengan lawan jenisnya.


Mengutip dari berbagai sumber, dari tahun 1992 hingga tahun 1994, sejumlah pria di Amerika melaporkan masturbasi dalam minggu tertentu meningkat dua kali lipat menjadi 54 persen.Tidak terkecuali jumlah wanita yang melakukan masturbasi meningkat lebih dari tiga kali lipat, menjadi 26 persen.


Menyadur dari artikel Economist, tidak hanya Amerika dan China, kaum muda yang ada di negeri Sakura juga memiliki pandangan tersendiri pada seks. Beberapa kaum muda memandang seks sebagai mendokusai atau “melelahkan”. Oleh karenanya, sebagian dari mereka kerap mengunjungi toko onakura untuk melakukan masturbasi di depan karyawan wanita.


2. Adanya pandangan bahwa seks menyakitkan.


Tidak hanya itu, penyebab adanya resesi seks adalah adanya pandangan bahwa seks menyakitkan.


3. Masalah ekonomi.


Permasalahan ekonomi juga menjadi salah satu faktor adanya resesi seks. Para pria dengan pendapatan lebih rendah atau tanpa pekerjaan cenderung tidak aktif melakukan aktivitas seksual, termasuk para pria dan wanita yang masih berstatus pelajar.


4. Tingkat pernikahan yang rendah.


Penyebab lain yang menjadi faktor adanya resesi seks adalah tingkat pernikahan yang cenderung menurun.


5. Fokus kerja dan kelelahan.


Kemungkinan lain yang disebutkan menjadi faktor adanya resesi seks adalah stres kerja dan kelelahan. Orang-orang bekerja sepanjang hari dan menghadapi hari yang lelah dan berat, dan pada akhirnya mereka terlalu lelah untuk mendapatkan mood terlebih untuk melakukan hubungan seksual.


Lantas, apa saja efek atau atau dampak negatif dari resesi seks? Efek resesi seks sendiri tentu saja memicu rendahnya angka kelahiran, hal tersebut menyebabkan populasi terancam menyusut. Hal yang kemudian dikhawatirkan adalah populasi lansia yang akan lebih mendominasi di masa mendatang, sementara usia produktif terus berkurang sehingga memiliki risiko pada aspek sosial, hingga ekonomi.


Resesi Seks Melanda Negara Besar, Mulai China hingga Amerika


Sejumlah negara maju disebut mengalami 'resesi seks' dalam dekade terakhir mulai dari China hingga Amerika Serikat. Mengutip jurnal The Atlantic, istilah 'resesi seks' merujuk pada penurunan rata-rata jumlah aktivitas seksual yang dialami suatu negara sehingga mempengaruhi tingkat kelahiran yang rendah. China, misalnya, pada 2021 mengalami angka kelahiran terendah sejak 1949. Di tahun ini, jumlah kelahiran bayi sekitar 11 juta, menurun dibanding pada 2016 dengan 18 juta kelahiran.


Pada 2018 lalu, Atlantic merilis laporan soal resesi seks di AS. Artikel tersebut mengungkapkan kekhawatiran kelompok remaja dan dewasa di Negeri Paman Sam yang hanya sedikit melakukan hubungan seksual. Merujuk data Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC) dari 1991 hingga 2017, persentase murid SMP dan SMA yang melakukan hubungan seks turun menjadi 40 persen dari 54 persen.


Selain dua negara itu, Inggris dan Jepang juga dilaporkan mengalami hal serupa. Melihat fenomena tersebut, mengapa resesi seks terjadi di negara maju?


Apa yang tengah terjadi di Cina ini dinilai oleh pengamat masalah perempuan, keluarga, dan generasi dr. Arum Harjanti sebagai dampak dari penerapan sistem sekularisme dan kapitalisme.


“Terjadinya resesi seks di Cina ini sesungguhnya merupakan dampak dari sistem sekularisme dan kapitalisme yang diterapkan sehingga menghasilkan biaya hidup mahal, termasuk biaya pendidikan yang membuat rakyat Cina enggan menikah dan memiliki anak,” ungkapnya kepada MNews, Senin (29/08/2022).


Semua ini, lanjut Arum, sejatinya adalah buah penerapan sistem kapitalisme yang membiarkan rakyat berjuang sendirian memenuhi kebutuhan hidupnya termasuk kebutuhan pendidikan. 


Dan akibat buruk sistem ini nyatanya tidak hanya terjadi di Cina. Beberapa negara lainnya juga mengalami resesi seks akibat tingginya biaya hidup, terlebih pada negara yang mengalami inflasi cukup tinggi. Ketika beban hidup rakyat makin tinggi, maka perkawinan pun akan dihindari lantaran ketidakmampuan finansial.


Sehingga tidak aneh, Amerika yang sejatinya adalah kampium demokrasi kapitalis juga dilanda resesi seks ini. Sebagaimana negara kapitalis pada umumnya, tentu di Amerika juga mengalami hal sama. Karena negara berfungsi sebagai regulator saja, rakyatnya dibiarkan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.


Jika resesi seks ini dibiarkan tanpa penyelesaian apapun. Bisa jadi angka kelahiran yang zero persen akhirnya berakhir minus. Tentu hal ini akan berpengaruh dengan keberlangsungan generasi suatu bangsa. Apa iya, akhirnya nanti generasi manusia akan punah?


Resesi Seks dalam Pandangan Islam


Rasullullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Tirmizi, Nasa’i, dan Ahmad, “Ada tiga orang yang memiliki hak untuk ditolong Allah: orang yang berjihad di jalan Allah, budak mukatab yang ingin membayar tebusannya dan orang yang menikah dengan maksud menjaga kesucian.”


Dan sabda Rasulullah SAW:


تَزَوَّجُوا الْوَدُوْدَ الْوَلُوْدَ فَإِنِّيْ مُكَاشِرٌ بِكُمُ الأُمَمَ


“Nikahilah perempuan yang pecinta (yakni yang mencintai suaminya) dan yang dapat mempunyai anak banyak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan sebab (banyaknya) kamu di hadapan umat-umat (yang terdahulu)” [Shahih Riwayat Abu Dawud, Nasa’i, Ibnu Hibban dan Hakim dari jalan Ma’qil bin Yasar]


Dalam Islam Negara wajib memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok bagi individu rakyat yang tidak mampu bekerja karena lemah atau ada keterbatasan fisik. Islam juga mewajibkan negara untuk menjamin kebutuhan akan pendidikan dan kesehatan dengan gratis. 


Islam lanjutnya, memerintahkan untuk memudahkan para pemuda yang mau menikah, bahkan memberikan bantuan finansial bagi yang tidak mampu. Termasuk menyediakan lapangan pekerjaan. Bahkan dalam sejarah, Khalifah Umar bin Abdul Aziz membantu semua kebutuhan pemuda yang ingin menikah. 


Dengan jaminan pendidikan dan layanan kesehatan dari negara, rakyat tidak perlu mengeluarkan dana lagi. Hal ini tentu saja membuat setiap individu rakyat hidup nyaman dan tidak dihantui rasa takut menghadapi kehidupan masa depan sehingga dapat merencanakan pernikahan dengan tenang dan aman. Sehingga resesi seks dalam naungan negara Islam tidak perlu terjadi. Karena Allah sudah menjamin kehidupan umat Islam dalam naungan Khilafah.


Daftar Pustaka


https://muslimahnews.net/2022/08/30/10711/


https://www.suara.com/lifestyle/2022/08/19/065001/apa-itu-resesi-seks-ini-dampak-efek-negatifnya


https://www.cnbcindonesia.com/news/20220429101851-4-335993/fenomena-resesi-seks-di-banyak-negara-indonesia-aman



No comments:

Post a Comment

Adbox