Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, October 18, 2022

G-20 DALAM SPEKTRUM PENJAJAHAN AS



Lukman Noerochim (Analis FORKEI)


Konferensi Tingkat Tinggi G-20 akan digelar di Bali. Konferensi Tingkat Tinggi G20 Bali adalah pertemuan ketujuh belas Kelompok Duapuluh mendatang. KTT tersebut dijadwalkan akan berlangsung di Bali, Indonesia, pada tahun 2022. Presidensi Indonesia akan mulai berlangsung dari 1 Desember 2021 hingga KTT pada kuartal keempat tahun 2022.


Group of Twenty (G20) pada awalnya digagas sebagai forum bersama guna membahas isu-isu ekonomi dunia. Forum G20 merupakan transformasi dari forum G8 yang beranggotakan Kanada, Inggris, Amerika Serikat, Italia, Prancis, Jerman, Jepang dan Rusia.


Forum G20, selain berisikan negara elit, juga melibatkan negara-negara dengan perekonomian berkembang. Seluruh negara anggota G20 antara lain AS, Argentina, Brasil, Australia, Kanada, Meksiko, Turki, Indonesia, Korea Selatan, Jepang, China, Jerman, Inggris, India, Arab Saudi, Afrika Selatan, Italia, Indonesia, Prancis, Rusia, ditambah Uni Eropa. Jika G8 hanya terdapat perwakilan negara dari 3 benua maka G20 sudah merepresentasikan negara dari lima benua.


Secara kumulatif, negara-negara yang tergabung dalam G20 diperkirakan menguasai sekitar 90 persen produk domestik bruto (PDB) ekonomi dunia, 80 persen volume perdagangan dunia, dan merepresentasikan dua pertiga populasi penduduk dunia. Singkatnya, kekuatan ekonomi negara G20 mencerminkan kekuatan pasar dan arus lalu lintas perdagangan barang dan jasa terbesar di dunia.


Namun demikian, G20 bukan sebuah organisasi internasional yang memiliki legitimasi formal dan sistem administrasi yang baku seperti Bank Dunia, IMF, ADB, atau WTO. Kepemimpinan G20 digilir di antara peserta yang disebut dengan istilah presidensi. Tugas presidensi adalah menyelenggarakan pertemuan-pertemuan selama satu tahun bertugas. Tahun 2022 ini Indonesia mendapatkan giliran sebagai petugas presidensi G20 terhitung sejak tanggal 1 Desember 2021 sampai 22 November 2022 nanti.


Forum G20 tidak memiliki sekretariat tetap. Oleh karena itu forum G20 sangatlah cair. Dalam forum yang cair tentu sulit diharapkan suatu aksi yang solid dengan satu tujuan yang bermanfaat secara nyata untuk semua. Kalaupun di forum G20 ada kesepakatan bersama, itu hanya akan menjadi pernyataan bombastis yang tidak bergigi dan tidak mengikat negara anggota.


Misal, kelompok G20 menyumbang 80 persen dari total emisi dunia. Mereka menyadari hal ini dan telah mencapai kesepakatan untuk mengatasi perubahan iklim, termasuk janji untuk mengurangi emisi dan kandungan berbahaya bagi lingkungan. Bagaimana langkah konkret pengurangan emisi di masing-masing negara? Tidak ada! Justru negara-negara yang terhimpun di G20 menjadi negara terdepan dalam ekspansi industri yang berdampak buruk terhadap lingkungan.


Pembahasan pokok Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) membahas isu terkait keuangan (finance track) dan non-keuangan (sherpa track). Isu utama di bidang keuangan membahas krisis global, reformasi lembaga keuangan internasional, perpajakan, korupsi, sampai perdagangan. Isu non-keuangan G20 yang dibahas cakupannya beragam seperti kemiskinan, perubahan iklim, kesetaraan gender, terorisme, geopolitik, energi, sampai imigran.


G20 tak lebih dari forum konsultasi atau kongsi informal yang diinisiasi oleh negara-negara industri maju guna menegosiasi berbagai kebijakan ekonomi global, dengan misi utama mengokohkan sistem kapitalisme-neoliberal di dunia.


Jika sebelumnya di forum G8 mereka sudah sangat terbiasa bernegosiasi dan berbagi lahan bisnis dunia, di forum G20 mereka bukan saja mengokohkan lahan bisnis lebih besar. Mereka juga mendapatkan dukungan atas berbagai kerusakan yang mereka timbulkan untuk ditanggung oleh seluruh negara anggota. Baik kerusakan lingkungan maupun merusakkan tatanan ekonomi akibat krisis.


Padahal kerusakan lingkungan dan krisis ekonomi yang terjadi bukan karena tidak melibatkan negara berkembang dalam berbagai forum dunia. Akar masalah kebangkrutan lingkungan dan ekonomi dunia adalah akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis!


Jadi pelibatan negara berkembang di dalam forum ini tidak lebih dari sekadar pemanis wajah buram kapitalis. Sepanjang perjalanan aktifitas G20 tidak ada satu pun pembahasan yang memberikan dampak positif terhadap negara-negara berkembang baik dalam sektor keuangan (financial sector) maupun non keuangan seperti kerusakan lingkungan.


Sejak pendirian G20 pada tanggal 26 September 1999 di Berlin, Jerman, forum ini belum bisa menjadi forum yang dapat memberikan kontribusi penting dalam pemecahan persoalan perekonomian dan lingkungan dunia. Masih banyak negara-negara berkembang yang tidak lepas dari krisis ekonomi. Realitas ini mengkonfirmasi bahwa forum ini mengalami stagnasi.


Jangankan memberikan kontribusi terhadap negara yang bukan anggota, bahkan terhadap negara yang menjadi anggota pun tidak dirasakan dampak yang nyata. Sebut saja, misalnya, negara-negara seperti Brazil, Afrika Selatan, India termasuk Indonesia yang hingga kini masih terus berkutat dengan krisis ekonomi dan lingkungan. 


Oleh karena itu forum G20 merupakan forum untuk mengukuhkan ideologi kapitalis. Dengan transformasi G8 menjadi G20, Amerika Serikat memiliki kepentingan ingin mengukuhkan sistem neoliberalisme kepitalisme dalam ekonomi politik di dunia. Bagi negara-negara berkembang yang terlibat status keanggotaan G20 sama sekali tidak membawa dampak terhadap perbaikan ekonomi dan lingkungan di negaranya.


Berbagai forum dunia justru menjadi racun bagi negara berkembang. Melalui berbagai forum resep-resep kapitalis di sosialisasikan, berbagai agenda ekonomi disusupkan. Melalui forum juga negara yang hobi berutang seperti Indonesia akan semakin dibenamkan ke dalam perangkap utang yang dalam.


Bagi negara pengemban kapitalis utama seperti Amerika forum seperti G20 sangat penting untuk menghegemoni gagasan negara anggota untuk memuluskan berbagai agenda penjajahan ekonomi.


Slogan awal G20 untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi global yang kian kuat, seimbang, berkelanjutan, dan inklusif tidak pernah terealisir. Kenyataan justru menunjukkan sebaliknya. Ekonomi dunia semakin terancam bangkrut, semakin mengalami ketimpangan yang parah dan eksklusivitas ekonomi kian nyata. Semakin hari realitas menunjukkan bahwa ekonomi bukan untuk semua manusia melainkan untuk orang-orang tertentu saja. G20 hadir dan berupaya untuk menutup aroma busuk borok-borok ekonomi akibat penerapan kapitalisme. Oleh karena itu G20 bagian dari masalah bukan bagian dari solusi.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox