Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, September 5, 2022

Vivo itu Disubsidikah?

 


Oleh: Rizqi Awal

Pengamat Kebijakan Publik 


PT Pertamina merespons harga BBM Vivo yang turun di tengah kenaikan harga BBM Pertamina. Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Irto Ginting mengatakan hal tersebut tidak akan mempengaruhi penjualan Pertamina di tengah kenaikan harga. Sebab, jenis bahan bakar Vivo pun berbeda dengan Pertamina.


Menurutnya, Vivo, sama seperti perusahaan-perusahaan lain yang menjual BBM, masih harus mengikuti regulasi formulas batas atas dari Kementerian ESDM.


"BBM yang dijual oleh Vivo merupakan Jenis bahan bakar umum (JBU), sehingga masing-masing badan usaha yang menentukan harga ecerannya sesuai dengan formula batas atas yang ditentukan Kementerian ESDM," ujar Irto kepada CNNIndonesia.com, Minggu (4/9).


"Masyarakat mempunyai pilihan untuk membeli BBM JBU dari semua badan usaha," lanjutnya. 


Diketahui, SPBU Vivo menurunkan harga BBM di tengah kenaikan harga BBM Pertamina. Untuk BBM jenis Revvo 89 yang harga sebelumnya Rp9.290 per liter turun menjadi Rp8.900 per liter .


Kemudian, Revvo 92 yang sebelumnya dijual Rp17.250 per liter menjadi Rp15.400 per liter. Lalu, untuk Revvo 95 menjadi Rp16.100 dari sebelumnya Rp18.250. 


kualitas bensin dibagi menjadi 3, yaitu:


1. Kualitas rendah dengan angka oktan 87.


2. Kualitas menengah dengan angka oktan 89-90.


3. Kualitas premium dengan angkat oktan 91-94.


Sebagai perbandingan, bensin Premium dari SPBU Pertamina memiliki nilai oktan atau RON (Research Octane Number) 88.


Pertalite memiliki angka oktan 90, sedangkan Revvo 89 dari SPBU Vivo nilai oktannya sebesar 89.


Artinya, nilai oktan Revvo 89 satu angka lebih rendah dibandingkan Pertalite. 


Lantas kenapa pemerintah seperti kebakaran jenggot dengan penetapan harga Revvo 89 yang jauh dari angka nilai pertalite 90 dengan selisih Rp 1.100,- 


Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Tutuka Ariadji mengaku sudah ada pembicaraan dengan manajemen Vivo terkait hal tersebut.


"Dengan adanya penyesuaian harga Pertalite, Vivo akan menyesuaikan harganya segera," ujarnya, dikutip dari CNN Indonesia. 


Apalagi Vivo ini jelas perusahaan swasta yang tidak mendapat subsidi sekalipun. Tetapi mengapa mereka berani menurunkan harga Rp 8.900,-? Perlu kita bertanya, meskipun sebagian besar kita impor minyak, lantas kenapa Vivo berani dengan nilai segitu, sementara Pertamina jauh lebih mahal meskipun angka oktannya lebih baik? Berapa sebenarnya ongkos total produksi minyak "bersubsidi" itu menurut Pertamina?


Belakangan sebutan Pertalite sebagai BBM Bersubsidi pun dikritik oleh sebagian pengamat, karena dasarnya Pertalite bukanlah BBM bersubsidi. 


Kembali lagi pertanyaannya mengemuka, kenapa VIVO jauh lebih murah? Apakah ada yang mensubsidi mereka? Padahal sekali lagi mereka adalah perusahaan swasta. Saya rasa nih, Vivo tidak mungkin bakar uang, meskipun alasan yang kita dengar bahwa Vivo tengah menghabiskan stock Revvo 89 sehingga dijual murah.


Cengkeraman Kapitalisme tampak jelas dan nampak dari persaingan SPBU ini. Ini belum melibatkan Shell, Total dan sejumlah SPBU asing dan swasta di Indonesia, yang menjual BBM non-subsidi yang selisih harganya bisa jadi hanya Rp 1.000 dengan Pertamax.


Selain itu, penulis nampak masih berpikir apakah memang iya tambang minyak di Indonesia relatif sedikit? Atau jangan jangan riset dan inovasi kita untuk mencari ladang minyak lain dan energi terbarukan yang lainnya belum serius? Atau jangan jangan selama ini Kapitalisme mencengkeram nyata dalam urusan BBM di negeri ini!


Pada akhirnya, saya menyerukan agar pemerintah kembalikan harga BBM pada nilai yang paling murah dan dapat diakses oleh warga negara secara umum, ditambah meningkatkan kapasitas dan kualitas transportasi publik dan menjadi fasilitator dalam alur logistik kebutuhan masyarakat dengan aman, murah dan terjamin. Dan kita wajib berusaha menolak setiap kenaikan BBM yang berakibat menzalimi rakyat banyak![]

No comments:

Post a Comment

Adbox