Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, September 14, 2022

Mewaspadai Masuknya Ide Feminisme dalam Agenda Y-20 yang Berpotensi Merusak Pemuda Dan Keluarga



Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)


Sebagai negeri muslim terbesar Indonesia memiliki potensi generasi muda yang cukup tinggi. Dari 270 juta penduduknya, 60% nya adalah pemuda. Selain itu, generasi muda Indonesia juga cukup berprestasi di kancah internasional. 


Tentu hal ini membuat khawatir para kampium kapitalis. Mereka tidak akan rela jika pusat peradaban berpindah di tangan pemuda muslim.  Sehingga kapitalis berupaya dengan sekuat tenaga tanpa henti untuk membajak potensi pemuda Islam. Program Youth 20 (Y20) yang akan dihadiri banyak negara pun tidak luput dari campur tangan mereka. Rangkaian Y20 summit terus digelar hingga puncaknya nanti di Bali November 2022.


Sebagaimana tertuang dalam empat area prioritas utama dalam Y20:


Pertama, ketenagakerjaan pemuda.  Area prioritas ini  menawarkan solusi atas pengangguran di kalangan pemuda  yang sudah ada, ditambah dengan kondisi pandemi yang menyempitkan peluang kerja. Untuk itu, para pemuda membutuhkan perlindungan dan dukungan untuk pekerjaan mereka di masa depan, salah satunya dengan mengaktifkan jejaring pengamanan sosial, terutama bagi mereka yang bekerja dalam bentuk pekerjaan sektor informal dan non-standar. Promosi kewirausahaan sosial di kalangan para pemuda  akan memberi kesempatan untuk menentukan masa depan mereka sendiri, berkontribusi pada penciptaan lapangan kerja, dan mengatasi tantangan masyarakat melalui solusi yang inovatif dan berdampak.


Kedua, transformasi digital. Kaum muda memainkan peran sentral dalam mengatur munculnya solusi digital, bahkan untuk masalah yang paling umum. Namun, partisipasi dalam tata kelola digital terhambat oleh kurangnya ketrampilan digital dan kemampuan mereka untuk mengintegrasikan dan memanfaatkan teknologi digital ke dalam kehidupan sehari-hari dengan cara yang bermakna.


Ketiga, planet yang berkelanjutan dan layak huni. Pemuda, sebagai penghuni planet saat ini dan di masa depan, memiliki peran penting dalam diskusi tentang keadaan planet. Sebab, keadaan planet akan mempengaruhi kesejahteraan kita. Untuk itu, diperlukan transformasi pada ekonomi utama, mulai dari sistem pangan, sistem energi, sistem perkotaan, dan sistem produksi/konsumsi. 


Keempat, keberagaman dan inklusi. Meningkatnya ketidaksetaraan merupakan masalah yang dihadapi oleh para pemuda, seperti gangguan pendidikan, berkurangnya pasar kerja, dan meningkatnya intoleransi. Hal ini membuat pemuda, terutama mereka yang terpinggirkan dan rentan, berisiko tereksploitasi. Untuk itu, masalah keberagaman dan inklusi harus dibahas untuk meningkatan ketahanan pemuda dalam menghadapi bencana di masa depan.


Pada area prioritas keempat, yakni keberagaman dan inklusi, terdapat peluang feminisme membajak potensi pemuda, terutama pada muslimah muda. Dengan dalih menghilangkan ketidaksetaraan dan mewujudkan sikap inklusif munculah fenomena kebebasan merusak muslimah dan peradaban bangsa semisal : fenomena waithood, childfree, LGBT, HAM (my body is my otority). Fenomena-fenomena tersebut hanyalah istilah baru sebagai akibat dari gencarnya ide feminisme. Dari poin inilah masyarakat perlu memahami dan mewaspadai sehingga tidak larut pada euforia menyambut Y-20 ini. 


Dari pendahuluan di atas setidaknya ada dua masalah yang perlu dibahas dalam materi ini, yaitu: 


1) Mengapa ide feminisme memiliki potensi bahaya untuk generasi muda? 


2) Langkah apa sajakah yang harus dilakukan untuk mencegah penetrasi bahaya feminisme? 


Potensi Bahaya Feminisme pada Generasi Muda Muslim


Ide dan promosi feminisme terus berkembang akhir-akhir ini mempengaruhi para pemuda yaitu dengan budaya childfree (hidup tanpa anak) dan waithood (menunda menikah). Budaya ini akan mempengaruhi populasi manusia dan merusak generasi suatu bangsa. 


Feminisme juga menciptakan dampak  yaitu meningkatnya hubungan-hubungan di luar nikah. Hal ini dikarenakan ide kebebasan pribadi dan seksual bagi perempuan memantik peningkatan besar dalam hubungan di luar nikah dan peningkatan jumlah anak yang lahir di luar nikah, serta berpengaruh pada meningkatnya kasus aborsi di. Angka aborsi di Indonesia menurut BKKBN 2021 sebanyak 20% dan dilakukan oleh remaja.


Dalam buku Mengkritik Feminisme yang ditulis oleh dr. Nasreen Nawaz menyebutkan bahwa dampak Feminisme dan Kesetaraan Gender dalam keluarga adalah sebagai berikut: 


Pertama. Menurunnya tingkat pernikahan dan meningkatnya hubungan di luar nikah

Kedua. Kebingungan dan konflik pernikahan.

Ketiga. Menekan perempuan masuk dunia kerja.

Keempat. Hak anak terabaikan. 

Kelima. Kehidupan kaum perempuan semakin tertekan.

Keenam. Erosi tanggung jawab laki-laki terhadap keluarga.

Ketujuh. Devaluasi peran keibuan.


Jelas sekali bahwa apa yang disampaikan oleh dr. Nasreen Nawaz tentang bahaya feminisme sudah kita rasakan bersama. Keluarga sebagai benteng terakhir umat Islam dalam sistem kapitalis pun saat pelan namun pasti mulai terkoyak. 


Sehingga jika kita terus terlarut dalam euforia Y-20, bangga menjadi sebagai penyelenggara event besar internasional. Sama saja kita membuka pintu lebar-lebar agar generasi muda kita terkontaminasi dengan ide-ide mereka termasuk ide feminisme yang sangat bertentangan dengan Islam. 


Pencegahan Bahaya Penetrasi Feminisme pada Pemuda Muslim 


Gerakan feminisme diakui telah membawa banyak perubahan dalam konteks kapitalisme. Akan tetapi, jika kita menelaah perkembangan ide ini di mana pun, kita akan mendapati kenyataan bahwa feminisme tidak akan membawa kebaikan apa pun. Bahkan, yang terjadi adalah makin rusaknya tatanan masyarakat akibat rancunya relasi dan pembagian peran di antara mereka. Feminismelah yang bertanggung jawab atas guncangnya struktur keluarga. Termasuk rusaknya generasi muda karena kurangnya peran ibu dalam mendidik dan menyiapkan generasi, akibat tereksploitasinya wanita di kehidupan umumnya. 


Islam hadir di tengah-tengah kita sebagai solusi atas terpinggirkannya wanita. Islam mengentaskan wanita dari jurang kehinaan. Memberikan kedudukan yang mulia bagi wanita dan menjaganya laksana mutiara. 


Sehingga, apa yang diajarkan Rasulullah saw. tentang memuliakan wanita, sama sekali bukanlah feminisme, melainkan demikianlah Islam telah mengaturnya. Hukum-hukum syara' yang datang dari Allah Swt. telah menempatkan pria dan wanita dalam kedudukan yang sama dari sisi insaniyah, dan membedakan keduanya dalam kaitan dengan fitrah feminitas dan maskulinitasnya. Sehingga jelas sekali disini Islam tidak mengenal feminisme dan turunannya. 


Agar generasi muda kita bisa terbebas dari rayuan dan propoganda feminisme maka ada beberapa hal yang harusnya kita pahamkan kepada mereka, antara lain: 


Pertama. Memahamkan kepada para pemuda kedudukan laki-laki dan perempuan dalam Islam. Kedudukan keduanya adalah sama tidak berat sebelah, baik dalam ranah khusus maupun ranah publik. 


Kedua. Memahamkan hak dan kewajiban perempuan baik dalam konteks keluarga, masyarakat, maupun negara. Sehingga mereka para generasi ini tidak mudah tergiur dengan ide-ide feminis yang seakan-akan membela kepentingan perempuan namun sejatinya membuat perempuan semakin terpuruk. 


Ketiga. Memahamkan pada generasi muda agar tidak mudah silau dengan kemajuan negara-negara Barat. Sehingga tidak serta merta mengambil apapun yang ditawarkan mereka. 


Islam itu sempurna dan paripurna, semua yang kita cari ada di dalamnya. Apalagi jika Islam diterapkan secara menyeluruh, maka kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tentu akan tercapai, hingga jualan feminisme ini benar-benar tidak laku. Tinggal bagaimana kita bergerak untuk terus memperjuangkan agar tegak Islam sebagai agama sekaligus sebagai negara bisa segera terwujud. 


Khatimah 


Dari pembahasan di atas tentang ide feminisme ada benang merah yang bisa kita ambil, yaitu: 


Pertama. Ide feminisme telah mempengaruhi para pemuda yaitu dengan budaya childfree (hidup tanpa anak) dan waithood (menunda menikah). Ide kebebasan yang dicanangkan membuat para pemuda enggan untuk komitmen menikah sehingga berpengaruh pada meningkatnya kasus seks bebas dan turunannya. 


Kedua. Feminisme tidak ada dalam ajaran Islam. Sehingga agar pemuda muslim bisa terlindungi dari penetrasi feminisme maka haruslah dipahamkan kepada mereka tentang kedudukan laki-laki dan wanita dalam Islam, hak dan kewajiban masing-masing, serta menjadikan para pemuda muslim tidak mudah silau dengan berbagai ide atau gagasan dari Barat.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox