Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 9, 2022

Urgensi Eksistensi Negara Untuk Mencegah Pembajakan dan Penyesatan Generasi Muda




Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice)


Beragam isu global pembajakan dan penyesatan generasi muda terus bergulir di negeri muslim terbesar ini. Mengutip Gatra (2020), keterlibatan aktif anak muda menjadi penentu dalam tercapainya pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) demi menciptakan tatanan dunia yang lebih baik pada 2030. Karakteristik anak muda yang dibutuhkan untuk menyukseskan SDGs sebagaimana menurut PBB yaitu pemikir kritis (critical thinkers); pembuat perubahan (change-makers); inovator; komunikator; dan berjiwa pemimpin (leaders).


Dari total populasi dunia saat ini yang diperkirakan mencapai 7,5 miliar penduduk, 16% diantaranya atau sekitar 1,2 miliar penduduk merupakan orang muda berusia antara 15 hingga 24 tahun. Kaum muda ini sangat berperan untuk menghadapi ancaman dan tantangan terburuk bagi pembangunan berkelanjutan, termasuk dampak perubahan iklim, pengangguran, kemiskinan, ketidaksetaraan gender, konflik, dan migrasi.


Di Indonesia sendiri fenomena para pemuda tidak terlepas dari keinginan untuk menunjukkan eksistensinya. Namun sayangnya tingginya keinginan untuk eksis menjauhkan mereka dari permasalahan dan tantangan nyata pembangunan. Alih-alih turut memikirkan justru apa yang kebanyakan pemuda Indonesia lakukan memunculkan persoalan baru. Sebut saja Citayam Fashion Week yang viral beberapa waktu kemudian diikuti oleh beberapa daerah cukup menampar kita. Bahwa para pemuda ingin diakui keberadaannya. 


Inilah yang menjadi PR bangsa Indonesia. Jika memang tidak ingin para pemudanya ke depan dibajak oleh kapitalisme sekuler yang menjadi Soko Guru pelaksanaan sistem kenegaraan di negeri ini. Kenapa? Karena kapitalisme menjadikan empat pilar kebebasan dalam menjalankan kehidupan, yaitu; kebebasan berpendapat, kebebasan beragama, kebebasan kepemilikan, dan kebebasan berperilaku. Inilah yang sejatinya membuat ketar-ketir para orang tua, pendidik, dan orang-orang yang masih peduli dengan generasi. Ok, generasi butuh tempat untuk melejitkan potensi, sehingga masyarakat dan negara juga harus peka, bukan menjudge tanpa solusi.


Dari uraian di atas, maka ada beberapa permasalahan yang bisa kita angkat di sini, yaitu: 


1) Bagaimana harusnya para pemuda dalam menghadapi era kapitalisme, agar bisa tetap pada koridor syariah?


2) Bagaimana seharusnya strategi negara agar mampu menjaga potensi generasi yang sesuai dengan syariah?


Menjaga Potensi Pemuda Muslim di Era Kapitalisme


Negeri ini berlimpah penduduk usia muda dan produktif. Ada sekitar 60 juta lebih jumlah penduduk usia muda dengan rentang usia 15—34 tahun. Harusnya ini menjadi bonus demografi karena akan muncul generasi penerus berkualitas.

Sayang, banyak anak muda Indonesia justru hidup dalam kondisi tidak beruntung. Mereka terjerat kemiskinan, putus sekolah, terlibat kriminalitas, hedonis, dan tidak punya tujuan hidup.


Pada 2018, penelitian Departemen Kaderisasi Pemuda PP Dewan Masjid Indonesia (DMI) menyebutkan hanya 33,6% anak muda rajin salat ke masjid setiap hari. Masih banyak anak muda yang hidupnya jarang atau bahkan tidak pernah ke masjid sama sekali.


Kualitas agama anak muda makin terpuruk akibat kampanye kontra radikalisme dan terorisme, terutama di dunia pendidikan sekolah maupun kampus. Pada 2012, sengaja dilontarkan tuduhan bahwa rohis sekolah adalah sarang perekrutan para teroris. Sejak itu kondisi pengajian-pengajian di sekolah–juga di kampus–makin dijauhi anak-anak muda. Ditambah dengan makin menumpuknya tugas sekolah dan kampus, mengkaji Islam atau sekedar sholat berjamaah di masjid menjadi tantangan yang sulit ditaklukkan. 


Alhasil, dari penelitian Reckitt Benckiser Indonesia pada 2019 terhadap 500 remaja di lima kota besar di Indonesia menemukan 33 persen remaja pernah berhubungan di luar nikah. Di antara mereka ada yang berzina karena semata-mata mencari kesenangan, tanpa harus kenal. Sebagian lagi karena terjun ke dunia prostitusi, baik pria maupun wanita, dengan alasan mencari kemewahan atau kesenangan saja. Ini belum ditambah lagi remaja yang terlibat LGBT.


Allah Swt. berfirman,


اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَهُوَ الْعَلِيمُ الْقَدِيرُ


“Allah-lah Yang menciptakan kalian dari keadaan lemah. Lalu Dia menjadikan (kalian) setelah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan (kalian) setelah kuat itu lemah (kembali) dan beruban. Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui dan Mahakuasa.”(QS Ar-Rum [30]: 54)


Pemuda di manapun berada mereka adalah ujung tombak pembangunan, kemajuan, dan peradaban. Jika suatu bangsa atau Kaum kehilangan jati diri pemudanya, maka bisa dipastikan mereka akan kehilangan generasi. Mereka para pemuda adalah kelompok manusia yang cerdas dan lebih mudah menerima petunjuk dan perubahan. Sehingga potensi pemuda seperti ini harus dijaga dan dipupuk agar tidak salah pertumbuhan. Termasuk dijaga dari pembajakan kapitalisme. 


Dahsyatnya kekuatan kapitalisme sangat terasa saat ini. Jika kita tidak pandai-pandai menempa dan mendudukkan posisi pemuda mereka akan tergilas. Sehingga agar pemuda bisa tetap eksis di era kapitalisme ini, maka ada beberapa hal yang harus dikuatkan, yaitu: 


Pertama, mengukuhkan akidah Islam sebagai landasan kehidupan dunia dan akhirat. Para pemuda disadarkan bahwa mereka adalah ciptaan Allah Swt. dan kelak akan kembali kepada-Nya. Dengan kuatnya akidah, anak-anak muda akan sadar kalau hidup-mati mereka adalah semata untuk Allah Swt..


Dengan akidah Islam ini juga para pemuda akan dibuat yakin bahwa hanya Islam satu-satunya ideologi yang benar sehingga mereka akan menolak ideologi lain seperti kapitalisme atau sosialisme-komunisme. Kedua ideologi itu terbukti batil dan jadi penyebab kerusakan umat manusia.


Kedua, memahamkan para pemuda bahwa tujuan hidup yang tertinggi adalah mendapatkan rida Allah Swt.. Caranya dengan menaati aturan-aturan-Nya dan memperjuangkan agama-Nya.


Sebaliknya, dunia bukan tujuan hidup. Dunia hanyalah sarana untuk mendapatkan rida Allah Swt.. Itulah tujuan sekaligus kebahagiaan hakiki untuk seorang muslim. Nabi saw. bersabda,


ﺇنَّ اﻟسَّعَادَةَ كُلَّ السَّعَادَةِ طُوْلُ العُمْرِ فِيْ طَاعَةِ اللهِ

“Sungguh kebahagiaan yang sebenarnya adalah menghabiskan umur untuk taat kepada Allah.” (HR Ad-Dailami)        


Ketiga, membimbing para pemuda untuk membangun habit/kebiasaan islami sejak awal, menaati Allah Swt., dan meninggalkan kemaksiatan. Para ulama mengatakan, “Siapa saja yang membiasakan sesuatu (sejak dini) akan terbiasa hingga dewasa.”


Mereka didorong agar giat beribadah, berbakti pada orang tua, rajin menuntut ilmu, dan mengerjakan berbagai amal saleh. Inilah pemuda yang dicintai Allah sebagaimana sabda Nabi saw.,


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ …وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ


“Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:…pemuda yang tumbuh dalam ibadah pada Allah.” (HR Al-Bukhari)


Selain itu, para pemuda harus ditempa agar tidak memperturutkan hawa nafsu seperti memakai narkoba, haus popularitas, bergaul bebas dengan lawan jenis, dan lain-lain. Inilah para pemuda yang dicintai Allah sebagaimana sabda Nabi saw.,


يَعْجَبُ رَبُّكَ مِنْ شَابٍّ لَيْسَتْ لَهُ صَبْوَةٌ


“Tuhanmu mengagumi pemuda yang tidak memiliki shabwah [tidak diperbudak oleh hawa nafsu].” (HR Ahmad)


Keempat, mendorong para pemuda memiliki kepedulian terhadap kondisi umat serta menjadikan mereka pengemban dakwah yang akan memperjuangkan tegaknya agama Allah Swt.. Bukan pemuda yang egois; hanya memikirkan amalan pribadi dan tidak peduli pada nasib umat. Allah Swt. jelas membutuhkan mereka yang mau berjuang dan membela agama-Nya (Lihat: QS Ash-Shaff [61]: 14).


Menjaga pemuda muslim di negeri muslim terbesar ini adalah sebuah keniscayaan. Dan ini adalah tugas kita bersama, mereka bisa melejitkan potensi dan prestasi tapi tetap dalam koridor syar'i. Sehingga ancaman lost generasi bisa kita hadang termasuk ancaman kapitalisme global.


Strategi Negara dalam Menjaga Potensi Pemuda


Melejitkan potensi pemuda agar tetap terjaga eksistensinya namun masih dalam koridor syar'i adalah tanggung jawab negara. Namun jika negaranya sendiri ternyata adalah pengikut kapitalisme sejati maka cukup sulit jika harus tetap dalam koridor syar'i. Bahkan bisa jadi justru kebalikannya, sebagaimana yang terjadi pada para pemuda Citayam dan yang lainnya. 


Potensi pemuda memang harus diasah dan dijaga agar terus berprestasi, tidak hanya dunia namun juga akhirat. Sayangnya kondisi ideal untuk menjaga pemuda hanya dalam penjagaan negara Islam atau Khilafah yang menerapkan Islam secara kaffah. 


Dalam negara Khilafah menjaga kemurnian aqidah adalah tugas negara. Termasuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat menjadikan halal haram sebagai standar hidupnya. Sehingga potensi pemuda melenceng dari syariah bisa sangat diminimalisir. 


Dalam negara Khilafah juga memberikan fasilitas bagi para pemuda untuk berkembang maju dan berprestasi tentu tetap dalam koridor syar'i. Bahkan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi dijamin oleh negara. Khalifah memberikan hadiah emas seberat buku yang ditulis, ini adalah contoh kepedulian negara terhadap prestasi para penulis. 


Sebagai bentuk penghargaan kepada pemuda, negara mendudukkan pemuda sesuai pada pada porsinya yaitu sebagai mata dan telinga umat. Tidak muluk-muluk bukan? Karena pemuda adalah sosok yang cerdas dan enerjik, sehingga apa yang terjadi dan dikeluhkan oleh umat bisa cepat sampai ke telinga penguasa, dan segera diatasi jika terjadi permasalahan. 


Dengan begitu, pemuda tidak ada yang hidup terkatung-katung dijalanan. Mencari panggung kesana-kemari. Negara sendiri yang akan menyediakan, membiayai, dan memfasilitasi. Karena negara akan benar-benar mengelola kepemilikan umum, dan kekayaan alam semua untuk kepentingan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi dan korporasi. Sehingga kepengurusannya terhadap pemuda tidak setengah hati.





Referensi:

Buletin Kaffah No. 254 (7 Muharam 1444 H/5 Agustus 2022 M)

No comments:

Post a Comment

Adbox