Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 9, 2022

Kyai Ahmad Zainuddin Sentil Habis Soal Mempertahankan Aqidah itu Seperti Apa

 



Oleh: Rizqi Awal

Pengamat Kebijakan Publik 


Mempelajari ilmu aqidah wajib hukumnya bagi setiap Muslim. Penjelasan akan hukum tersebut sudah banyak kita dengar; entah dari pelajaran di pesantren, atau dari penjelasan para ulama di sekitar kita ketika pengajian. Sejak kecil kita sudah ditempa dengan dasar-dasar ilmu keimanan, tentunya tanpa melibatkan pemikiran teologis yang kompleks dan berbelit, seperti pengenalan sifat-sifat wajib dan mustahil serta jaiz bagi Allah, nama-nama malaikat, adanya surga neraka dan sebagainya, meskipun kewajiban mempelajari ilmu aqidah dimulai sejak adanya taklif.


Mengenai kewajiban tersebut, Syekh Ahmad al-Dardîri menyebut hal ini dalam karyanya, Kharîdah al-Bahiyyah:


وَوَاجِبٌ شَرْعًا عَلَى الْمُكَلَّفِ مَعْرِفَةُ اللهِ الْعَلِيِّ فَاعْرِفِ


Dan wajib secara syara’ bagi seorang mukalaf mengetahui Allah Yang Maha Tinggi, maka ketahuilah! (Syekh Ahmad al-Dardîr, Kharîdah al-Bahiyyah, Rembang: al-Maktabah al-Anwariyyah, h. 4).


Secara bahasa aqidah berarti mengikatkan sesuatu. Kalau dikatakan bahwa seseorang meng-i’tiqadkan sesuatu maka itu maknanya dia telah mengikatkan keyakinan itu di dalam hatinya. Yang dimaksud dengan istilah aqidah adalah segala sesuatu yang menjadi ideologi bagi seseorang. Aqidah adalah amalan hati yang berupa keimanan di dalam hati terhadap sesuatu dan pembenaran/tashdiq tentangnya. Pokok-pokok aqidah Islam biasa dikenal dengan istilah rukun Islam, yaitu mencakup: iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari akhir, dan iman kepada takdir (lihat at-Tauhid li ash-Shaff al-Awwal al-’Aali, hal. 9).


KH. Ahmad Zen, sedang mengajari kepada kita, terkait bagaimana pijakan ucapannya adalah merujuk kepada Aqidah Islam. Beliau sangat yakin benar, bahwa hukum Allah SWT itu berada di atas hukum manusia. Wajar bila implementasi aqidah bagi beliau adalah mempertahankan kedudukan syariat Islam sebagai kewajiban dan membela perjuangannya adalah keharusan.


Kunci itulah, yang membuat ia yakin, sebagaimana pendidikan agama yang ia dapatkan, dan tugasnya sebagai seorang alim adalah berdiri tegak lurus dalam menyampaikan kebenaran, bila perlu meluruskan apa apa yang dianggap mampu mencoreng aqidah Islam beliau.


Wajar beliau mengkritik soal pengkhianatan terhadap tokoh tertentu atas hasil piagam Jakarta. Mungkin setelah beliau menggali banyak pernyataan, penelitian dan opini dari berbagai pakar, terkait pembatalan penyertaan tujuh kata dalam butir ke satu Pancasila. 


Justru harusnya kita malu, yang selama ini berpegang dan berucap aqidah ahlus sunnah wa jamaah, atau juga memegang pendapat Ibnu Taimiyah dalam perkara aqidah, harusnya kita berani mengungkapkan apa dan bagaimana kesalahan kita selama ini dalam sebuah metodelogi, ideologi, lambang dan apa pun yang tidak sesuai dengan Islam.


Kejujuran dan keberanian beliau dalam melakukan opini, adalah bukti bagaimana selama ini beliau Ikhlas dan berjanji untuk tetap lurus dalam ajaran Islam ini secara kaffah.


Kenapa harus ngotot memenjarakan beliau? Justru yang mau memenjarakan beliau lah harusnya menyadari bahwa keberadaan beliau adalah sebuah kunci jawaban atas probelematika kehidupan masyarakat hari ini.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox