Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, August 11, 2022

INI TENTANG PERJUANGAN, TENTANG BERSUNGGUH-SUNGGUH DALAM DALWAH




Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik


Ini bukan soal seberapa lama engkau meniti, seberapa jauh jarak kau tempuh, seberapa banyak  capaian yang kau dapat dan seberapa hal yang luput. Bukan. Sekali lagi, bukan soal itu.


Bukan seberapa banyak air mata menetes, atau tawa bahagia yang pernah tersungging. Bukan seberapa besar tantangan, seberapa besar hambatan, seberapa besar gangguan, sehingga engkau harus menghindarinya.


Bahkan, bukan pula soal seberapa sakit kau tahan, seberapa lirih perih mu saat merintih. Seberapa banyak kebahagiaan kau bagi dan betapa rapihnya kau simpan kepedihan seorang diri. Seberapa banyak orang memandangmu tangguh, sementara dihadapan tuhanmu engkau mengaku rapuh.


Ini soal perjuangan, soal kesungguhan dalam dakwah, soal komitmen, soal jatidiri dan soal janji. Janji kepada Ilahi, untuk tetap menuhankan-Nya dan hanya beribadah kepada-Nya.


Kawan, tengoklah generasi terdahulu. Betapa bahagianya mereka dalam jalan dakwah, meniti risalah, mengokohkan komitmen perjuangan.


Coba ikut merasakan, betapa bahagianya Abu Bakar RA, yang menahan perih gigitan kalajengking, untuk memastikan Baginda yang mulia tetap nyaman dalam asuhannya di Gua persembunyian. Betapa bahagianya Abu Bakar, ketika mendapatkan janji dari Tuhannya melalui lisan Baginda Nabi yang mulia "LA TAHZAN, INNALLAHA MA'ANA".


Kalimat itu membahagiakan Abu Bakar dan mencukupkan dirinya untuk terus Istiqomah dalam perjuangan, meniti jalan dakwah bersama Baginda Rasulullah Muhammad SAW. Abu Bakar adalah pembantu dakwah Nabi di bumi bersama Umar, melengkapi pembantu Nabi di langit Jibril dan Mikail.


Hari ini, maukah kita menjadi pembantu dan penolong agama Allah SWT ? maukah kita, mendapatkan kedudukan yang tingggi dan kokoh karena menolong agama Allah SWT.


Semua itu tak mungkin didapat saat kita menghindari benturan, menepi, mencari posisi aman, terus bermimpi tentang kemenangan tanpa mempersembahkan pengorbanan. Menjadi besar dikalangan sendiri, tapi tidak bersikap besar sebagai pembesar dihadapan umat.


Sibuk dengan sejumlah kongklusi, tanpa melakukan verifikasi di lapangan. Banyak berasumsi tanpa melakukan kalkulasi berdasarkan interaksi dan aksi membersamai umat.


Diri dirundung ketakutan, sambil terus sibuk bicara narasi keselamatan.


Taukah kita ?


Bukankah seorang Nelayan saat melaut memang harus menghadapi gelombang di lautan ? apa jadinya, jika untuk tujuan keselamatan, kapal disandar di dermaga, sambil asyik memancing ikan dari atas kapal. Lalu dengan gagahnya mengatakan :


"Sungguh, memancing ikan dari atas kapal, dengan posisi bersandar di dermaga adalah pilihan  mencari ikan yang paling aman. Ikan tetap dapat, tak ada resiko kapal dihempas dan tenggelam"


Dakwah tidak boleh berdiam, parkir di dermaga, sambil bicara pentingnya menyelamatkan kapal, lupa pada tujuan berlayar untuk mencari ikan. Dakwah harus terjun ke laut, mengarungi samudera, membersamai gelombang, mengenali karakternya, menghindari hempasan, memanfaatkan ayunan gelombang, sambil memainkan arah kemudi dan layar. Sampai, kita berada diposisi lautan yang tenang, yang penuh dengan ikan, dan kita siap menebar jaring, untuk hasil yang sangat menggembirakan.


Begitulah dakwah, penuh tantangan dan harus melawan dan menghadapinya, untuk kemudian menundukkannya. Pelaut yang ulung, bukan yang menempatkan kapal bersandar di dermaga. Tetapi yang terus mengarungi lautan, hingga sampai mampu menundukkannya.


Keselamatan dakwah dan pengembannya, adalah ketika dia dalam kesungguhan dan diuji dengan hambatan agar bersabar. Bukan selamat, sikap picik dan peragu, takut dan khawatir berbenturan, hanya dengan dalih mencari keselamatan.


Sesungguhnya, al Haq dan al Batil pasti berbenturan. Namun, Allah SWT telah menjamin, al Haq pasti menang.


Mari kita simak ulang, nasehat Al-Allamah Al-Imam Asy-Syeikh Al-Qadhi Taqiyuddin An-Nabhany _rahimahullah_ , dalam kitab beliau At-Tafkir halaman 102:


والأممُ والشعوبُ الْمُنْحطة، وَاْلأَفْراَدُ الْكُسَالَى أو الذين يَتَجَنَّبُوْنَ الأَخْطَارَ أو الذين يَتَمَلَّكُهُمُ الْحَيَاءُ أو الخَوْفُ أو الاِعْتِمَادُ على الغير، فإن هؤلاء جميعاً غيرُ جَادِّيْنَ فيما يُفَكِّرُوْنَ به. لأن الانحطاطَ يجعل المرءُ يَسْتَهْوِي الأَسْهَلَ، فلا يعني نفسُه باِلْأَشَقِّ اْلأَصْعَبِ، وَاْلكُسَلَ يَتَنَافىِ مع الجِدِّيَّةِ، وَاِتْقَاءَ الأخطارِ يُصْرِفُ عن الجِدِّيَّةِ، والحياءَ والخوفَ والاعتمادَ على الغير يَحُوْلُ دون الجِدِّيَّةِ. 



"…(mereka) Umat dan bangsa-bangsa yang terbelakang, mengalami kemunduran-kemerosotan, individu-individu pemalas, mereka yang berusaha menjauhi bahaya, atau mereka yang dikuasai oleh perasaan malu (yang tidak pada tempatnya), rasa takut, atau ketergantungan kepada orang lain, sungguh mereka itu, semuanya tidak bersungguh-sungguh atas semua hal yang mereka pikirkan. Karena, sungguh, bahwa keterbelakangan itu akan menjadikan seseorang cenderung menyukai yang paling mudah, paling gampang. Meski itu bukan berarti dirinya dalam kondisi yang paling sulit. Karakter malas dan bersungguh-sungguh itu saling menafikan, saling meniadakan. Menahan diri dari berbagai hal yang membayakan akan memalingkan (seseorang) dari bersungguh-sungguh. Adapun rasa malu, takut serta sikap tergantung kepada orang lain itu, akan menjadi dinding penghalang yang memisahkan dirinya dengan karakter bersunguh-sungguh."


Lebih lanjut, beliau menegaskan:


ولذلك لا بد مِنْ رَفْعِ اْلفِكْرِ وَالْقَضَاءِ عَلَى الْكَسَلِ وحُبِّ اقْتِحَامِ اْلأَخْطَارِ، والتفريقِ بين الحياءِ وبين ما يجب أن يُسْتَحْيىَ منه، والشجاعةِ وجعل الاعتماد على النفس سجية من السجايا، حتى توجد الجدية في الأفراد والشعوب والأمم. لأن الجدية لا توجد بشكل عَفَوِي بل لا بد من اصطناع إيجادها


"Oleh karena itu, menjadi suatu keniscayaan, untuk (senantiasa) adanya upgrade, usaha meningkatkan pemikiran, menghilangkan karakter malas, dan (selanjutnya) menyukai keterlibatan dalam hal-hal yang “berbahaya, membahayakan”; membedakan antara (perasaan) malu, dengan hal-hal yang memang harus malu; menjadikan karakter berani, dan percaya diri sebagai suatu temperamen, sifat-perangai sehingga akan diperoleh (karakter) bersungguh-sungguh pada setiap individu, bangsa-bangsa serta umat. Karena, sungguh, karakter bersungguh-sungguh itu tidak terwujud secara spontan, namun meniscayakan adanya rekayasa untuk merealisasikannya."[]

No comments:

Post a Comment

Adbox