Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, August 8, 2022

GORENGAN KASUS 'PAKSA JILBAB' DI SMAN BANGUNTAPAN JOGJA, KONFIRMASI DI INDONESIA ADA ISLAMOPHOBIA



Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik


Jahat sekali mereka kaum kafir dan munafik terhadap syariat Allah SWT untuk menutup aurat. Mereka kompak membully syariat tentang kewajiban memakai jilbab diruang publik bagi setiap muslimah yang telah memasuki usia baligh. Mereka mengedarkan narasi 'paksa jilbab', seolah memakai jilbab adalah kejahatan yang sangat luar biasa.


Tapi mereka, begitu permisif dengan perilaku pacaran hingga perzinahan, termasuk kegiatan tawuran. Bukannya melarang perzinahan, mereka malah sibuk kampanye menggunakan kondom untuk remaja termasuk anak sekolah. 


Mereka, sama saja menjerumuskan remaja pada zina yang berdampak pada putus sekolah, hamil diluar nikah, aborsi, terjerat kejahatan prostitusi, eksploitasi seksual, perdagangan dan perbudakan anak, kehancuran keluarga, dan masih banyak lagi dampak negatif akibat pergaulan bebas remaja dan pemuda pemudi yang terjerumus dalam perzinahan. Yang seperti ini mereka dukung, lindungi, bahkan dipromosikan sebagai kebebasan dan HAM.


Sekarang saya mau tanya, apa dampak negatif menggunakan jilbab? apakah otak jadi sempit, sehingga mengenakan jilbab menyebabkan kedunguan? atau jilbab bikin gerah, yang akhirnya menyebabkan penyakit pada pemakainya ? jilbab menghalangi proses belajar mengajar ? atau apalagi?


Tidak ada satupun bukti dampak negatif menggunakan jilbab. Malah, dampak positifnya banyak.


Dalam Islam, jilbab adalah kewajiban. Seluruh muslimah yang sudah baligh, sudah didatangi haid, wajib mengenakan jilbab saat berada di area publik seperti pasar, jalan-jalan, taman, perkantoran, termasuk sekolah.


Anak SMA sudah pasti baligh. Bahkan atas banyaknya rangsangan sosial, hari ini mungkin saja banyak anak perempuan SD yang sudah baligh karena sudah haid.


Sejak Baligh, muslimah diwajibkan mengenakan jilbab dalam area publik. Dirumah atau tempat khusus, barulah mereka boleh melepaskan, dan boleh nampak tempat perhiasan mereka pada mahram mereka.


Kasus 'Paksa Jilbab' di SMAN Banguntapan Jogja, sudah tidak bisa dianggap kasus biasa. Ini adalah kasus yang mengkonfirmasi Islamophobia itu nyata. Mereka begitu takut dan membenci ajaran Islam soal jilbab, dan mengedarkan fitnah 'paksa jilbab' untuk mendelegitimasi ajaran Islam tentang jilbab.


Padahal, hasil klarifikasi Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) DIY ke SMAN 1 Banguntapan terkait aduan memaksa siswi pakai hijab, Disdikpora mengungkap tak ada pemaksaan siswi untuk mengenakan jilbab atau hijab.


"Tidak ada pemaksaan dalam memakai jilbab itu," kata Wakil Kepala Disdikpora DIY, Suhirman, usai klarifikasi terhadap SMAN 1 Banguntapan di Kantor Disdikpora DIY, Senin (1/8/2022).


Ia menjelaskan saat ini pihaknya baru melakukan klarifikasi terhadap sekolah. Sementara untuk siswi masih belum bisa dimintai keterangan.


"Belum bisa diajak ngomong karena mungkin (trauma). Kalau sudah bisa (memberikan) lebih informasi," jelasnya.


Ia juga memastikan siswi tersebut sampai saat ini tak ada perundungan dari teman-temannya.


Sementara soal pihak SMAN 1 Banguntapan menyediakan paket seragam yang di dalamnya ada jilbab, Suhirman mengaku Disdikpora menemukan jika paket seragam itu untuk umum. Suhirman juga kembali menegaskan tidak ada pemaksaan mengenakan hijab dari guru BK atau pihak sekolah.



Lalu kenapa semua media teriak teriak soal pemaksaan jilbab? Dimana letak pemaksaannya?


Lalu atas dasar apa, SINUWUN Sri Sultan HB X menonaktifkan sementara Kepala sekolah (kepsek), dua guru Bimbingan Konseling (BK) dan satu wali kelas SMAN Banguntapan? APAKAH SINUWUN SUDAH MELAKUKAN KLARIFIKASI LANGSUNG? ATAU PUNYA TENDENSI TERGAHAP AJARAN JILBAB HINGGA MAIN NONATIFKAN SEPIHAK? ATAU MEMANG MENGANUT ISLAMOPHOBIA?


Aneh, seorang SINUWUN Sri Sultan HB X yang memimpin Jogja bertindak diktator, sepihak mengambil kebijakan tanpa melakukan pembuktian atau setidaknya melakukan klarifikasi. Padahal, Disdikpora DIY mengungkap tak ada pemaksaan siswi untuk mengenakan jilbab.


Kalau SINUWUN Sri Sultan HB X ingin bertindak adil kepada siswi yang dianggap dizalimi karena jilbab, kenapa berbuat zalim kepada Kepala sekolah (kepsek), dua guru Bimbingan Konseling (BK) dan satu wali kelas SMAN Banguntapan ? Semestinya SINUWUN juga bertindak adil kepada Kepala sekolah (kepsek), dua guru Bimbingan Konseling (BK) dan satu wali kelas SMAN Banguntapan.


Kasus 'Paksa Jilbab' ini adalah bukti adanya Islamophobia. Pak Mahfud MD harus tahu, jangan asal klaim di negeri ini tidak ada Islamophobia.


Semestinya, segenap orang tua dan para tokoh bangsa di negeri ini memiliki kesadaran akan kewajiban dan tanggung jawab untuk mendidik setiap muslimah menggunakan jilbab. Bukan malah menjerumuskannya untuk mengumbar aurat, dengan mengedarkan narasi paksa jilbab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox