Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 9, 2022

BELAJAR PADA KH AHMAD ZEN, BERSIKAP JUJUR TERHADAP AKIDAH ISLAM




Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik



KH Ahmad Zainuddin atau KH Ahmad Zen dipersoalkan karena mengkritik Pancasila dan Soekarno. Pancasila bukan kesepakatan Ulama, Pancasila pengkhianatan Soekarno. Begitu kritiknya.


Atas kritik tersebut, KH Ahmad Zen dilaporkan PDIP ke Polda Jabar dan Polda Metro Jaya. Dituding menyebar fitnah, pencemaran, SARA hingga menyebar hoax.


Namun, substansi kritiknya sebenarnya ingin mengingatkan umat Islam agar meyakini al Qur'an dan hanya menjadikan tauladan Nabi Muhammad SAW. Ingin mengajak umat Islam agar sadar adanya tipuan Pancasila yang menjauhkan umat Islam dari penerapan syariat Islam secara kaffah.


Jika umat ini masih meyakini pancasila, atau berpura-pura menyatakan Pancasila sejalan dengan Islam, maka selamanya umat Islam di negeri ini tidak akan pernah dapat menerapkan syariat Islam, hingga unta masuk ke lobang jarum. Sebab, pancasila bukan ajaran Islam, bertentangan dengan Islam karena tidak mengizinkan syariat Islam diterapkan secara kaffah.


Padahal, perintah menerapkan syariat Islam itu kaffah, bukan sepotong-sepotong. Menerapkan hukum sholat, juga hukum wajibnya hudud. Mewajibkan puasa, juga wajibnya mengemban dakwah dan jihad. Mengharamkan zina, riba, judi, miras, LGBT, pergaulan bebas, penguasaan tambang oleh asing, memungut pajak, dll.


Lantas apa yang membedakan KH Ahmad Zen dengan ulama atau orang yang mengaku 'pengemban dakwah' Islam lainnya?


Beliau tidak lebih dalam hal ilmu, tsaqofah, atau perbendaharaan harta, juga jama'ah. Beliau juga bukan termasuk ulama terkenal dan memiliki banyak fatwa, kitab karangan, dll.


Beliau hanya memiliki dua hal : Jujur dan berani.


Jujur terhadap ilmu, berani menyampaikan dan siap atas konsekuensi perjuangan. Dan orang yang jujur dan berani seperti ini, biasanya hanya terbentuk dari jiwa yang sabar dan ikhlas.


Sabar & ikhlas, membuatnya jujur, takut menyembunyikan ilmu apalagi mengkhianati keyakinan. Maka beliau jujur menyampaikan dakwah yang semestinya disampaikan, bukan sekedar dakwah yang diinginkan orang.


Sabar & ikhlas, membuatnya berani menyampaikan al haq, berikut resiko menanggung beban dakwah. Maka beliau berani menyampaikan dakwah yang semestinya disampaikan, bukan sekedar dakwah yang diinginkan orang.


Mungkin saja, banyak diantara kita -bahkan mayoritasnya- sependapat dengan KH Ahmad Zen, bahwa Pancasila menjadi penghalang untuk tegaknya syariat Islam secara kaffah. Namun, apakah kita memiliki sikap jujur dan berani seperti KH Ahmad Zen?


Kalau kita belum berani bersikap jujur, mungkin kita juga belum ikhlas dan sabar dalam perjuangan. Dan boleh jadi, hal itulah yang menghalangi datangnya pertolongan.


Mungkin, ada kemaslahatan dunia yang kita prioritaskan ketimbang bersikap jujur pada keyakinan dan berani menyuarakan kebenaran secara terbuka. Mungkin, kita menghindari resiko dalam berjuang, sambil bermimpi ada pertolongan turun dari langit tanpa perlu mempersembahkan pengorbanan.


Apapun sebabnya, saya berusaha sekuat tenaga agar tidak menjadi bagian dari 'kita' yang dusta dan pengecut. Saya berusaha untuk konsisten menjadi pejuang yang jujur dan berani, ingin mengikuti jejak KH Ahmad Zen yang begitu lantang menyuarakan kebenaran. []

No comments:

Post a Comment

Adbox