Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, August 30, 2022

BAHAYA WABAH VIRUS BARU MASUK INDONESIA (MONKEYPOX)

 


Oleh : Ummu Akbar


JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan akan mengumumkan temuan kasus cacar monyet atau monkeypox pertama di Indonesia.


Melalui konferensi pers, Sabtu (20/8/2022) pukul 17.00 WIB melalui zoom dan kanal YouTube Kementerian Kesehatan. "Kementerian Kesehatan akan menyampaikan keterangan pers penemuan pasien pertama terkonfirmasi monkeypox melalui live streaming YouTube Kementerian Kesehatan RI, Sabtu, 20 Agustus 2022 Pukul 17.00 WIB sampai dengan selesai," kata Sekretaris Ditjen Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi saat dikonfirmasi Kompas.com melalui pesan singkat. Cacar monyet berstatus darurat kesehatan global sejak Sabtu (23/7/2022) lalu oleh World Health Organization (WHO) atau Organisasi Kesehatan Dunia.


Menurut Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus, cacar monyet memenuhi kriteria untuk ditetapkan sebagai keadaan darurat lantaran sudah terjadi di lebih dari 70 negara. "Kami memiliki wabah yang telah menyebar ke seluruh dunia dengan cepat melalui mode penularan baru yang kami pahami terlalu sedikit dan yang memenuhi kriteria dalam peraturan kesehatan internasional," kata Tedros dikutip dari Associated Press (AP).


Cacar monyet merupakan penyakit langka yang disebabkan oleh virus cacar monyet. Virus cacar monyet berasal dari famili yang sama dengan virus penyebab cacar. Oleh karena itu, gejalanya juga mirip dengan cacar biasa. Penyebab cacar monyet adalah virus cacar monyet yang merupakan anggota genus Orthopoxvirus dan famili Poxviridae.


Saat ini, terdapat dua jenis virus cacar monyet, yaitu yang pertama ditemukan di Afrika Tengah atau Basin Kongo, dan Afrika Barat. Virus yang berasal dari Basin Kongo disebut lebih menular dan menimbulkan gejala yang lebih parah.


Cacar monyet adalah penyakit yang ditularkan melalui binatang atau zoonosis. Penyakit ini pertama kali ditemukan pada kera yang dipelihara untuk penelitian pada tahun 1958. Oleh karena itu, cacar jenis ini disebut cacar monyet. Penularan dari binatang ke manusia diyakini terjadi akibat perjalanan internasional ke negara-negara yang terpapar virus ini, atau melalui binatang impor. Penularan ini bisa terjadi jika manusia melalukan kontak dengan cairan tubuh atau luka terbuka pada hewan yang terinfeksi.


Selain kera, virus ini juga telah ditemukan pada tupai, tikus, primata, dan spesies lainnya. Saat ini cacar monyet tengah menjadi kondisi gawat di berbagai dunia dan diyakini penularan dari manusia ke manusia memiliki dampak yang lebih cepat dibandingkan dari hewan ke manusia. Penularan cacar monyet antar manusia terjadi akibat kontak dekat dengan droplet, lesi kulit, dan benda yang terkontaminasi virus tersebut. Ibu hamil juga bisa menularkan penyakit ini kepada bayi melalui dua cara, yaitu melalui plasenta ketika masih di dalam kandungan dan ketika proses melahirkan.


Saat ini, cacar monyet memang banyak terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria, tetapi makin lama wabah berlangsung, makin besar peluang virus untuk berkembang biak. Sebuah penelitian di New England Journal of Medicine memperkirakan 95% infeksi cacar monyet didapat melalui hubungan seks, terutama hubungan seks di antara laki-laki.


Prof. Paul Hunter dari University of East Anglia berkata, “Cara termudah untuk mencegahnya adalah dengan menutup semua jaringan seksual yang sangat aktif selama beberapa bulan sampai hilang, tetapi saya rasa itu tidak akan pernah terjadi. Pelajaran dari infeksi menular seksual—dari sifilis di abad pertengahan hingga sekarang—adalah orang masih berhubungan seks. Satu-satunya hal yang akan menghentikan itu adalah kampanye vaksinasi massal. "Tetapi pemerintah Barat tidak akan mungkin menutup tempat pertemuan homoseksual atau mencegah puluhan ribu orang berkumpul untuk pawai kebanggaan tahunan.”


Masalahnya adalah cacar monyet dapat berubah. Makin lama dunia Barat tidak melakukan apa-apa, makin besar kemungkinan virus tersebut akan beradaptasi dengan lebih baik untuk menyebar di semua sektor komunitas masyarakat.


Jika itu terjadi, maka seluruh dunia akan menderita, bukan hanya Barat yang telah menjadi sangat liberal sehingga berakibat membahayakan kita semua.


ketika menghadapi kebebasan sesat yang dengan bangga disebarkan Barat, atau harus mengambil risiko saat menyinggung para pendukung penyimpangan seksual yang telah mendominasi masyarakat. Mereka akan mengabaikan fakta yang jelas, termasuk mengabaikan kampanye vaksin, apalagi tidak ada cukup dosis yang tersedia dengan efektivitasnya yang juga belum terbukti.


Barat “berjudi” dengan kesehatan planet ini atas nama liberalisme dan mengabaikan prinsip-prinsip ilmiah pengendalian infeksi. “Ketika epidemi ini terus meluas, kaum liberal ideologis masih menuntut lebih banyak hak homoseksual tanpa memedulikan masyarakat luas.”


Kembali kepada kasus kaum Nabi Luth, pada dasarnya Allah telah menciptakan manusia berpasang-pasangan, laki-laki dengan perempuan. Oleh karena itu, hubungan seksual sesama jenis sejatinya telah melenceng jauh dari fitrah agama. Hal itu merupakan pelanggaran terhadap ketentuan Allah dan pastilah akan mendapat hukuman yang setimpal.


Rasulullah dalam haditsnya yang diriwayatkan ‘Abdullah bin ‘Umar telah memperingatkan tentang konsekuensi membiarkan amoralitas.

“Rasulullah saw. menoleh kepada kami dan berkata, ‘Hai Muhajirin, ada lima hal yang dengannya kamu akan diuji, dan aku berlindung kepada Allah agar kamu tidak hidup untuk melihatnya. Yang pertama , tidak pernah muncul kemaksiatan di antara suatu kaum sehingga mereka melakukannya secara terang-terangan, kecuali wabah dan penyakit yang tidak diketahui oleh para pendahulunya akan menyebar di antara mereka."


Allah SWT pun telah menegaskan dalam Alquran, “Dan, Allah menciptakan kamu dari tanah kemudian dari air mani, kemudian Dia menjadikan kamu berpasangan (laki-laki dan perempuan).” (QS Fathir [35]: 11).


Wallahu ‘alam Bishawab.[]


No comments:

Post a Comment

Adbox