Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, July 4, 2022

Jahatnya Kapitalisme Menjerumuskan Generasi Muda ke Jurang Krisis Identitas

 


Penulis: Nindira Aryudhani, S.Pi., M.Si.


Pada setiap masa, generasi muda adalah aset peradaban. Begitu pun pada masa RI (revolusi industri) 4.0 saat ini. Untuk Indonesia sendiri, hal ini terbukti oleh adanya bonus demografi. Tidak heran, ini sejatinya lahan subur untuk menanam harapan masa depan bangsa.


Kendati pandemi Covid-19 sempat memakan banyak korban dari kalangan muda, ternyata tidak menyurutkan langkah kapitalisme global untuk tetap menggarap mereka. Berbagai program pun dicanangkan. Namun sejauh mana kapitalisme mampu merealisasikan program demi program itu? Akankah berhasil ketika kacamata pengelolaan generasi muda masih kapitalistik? Tidakkah ini laksana tambalan demi tambalan bagi borok kapitalisme itu sendiri? 


Pemuda, Kunci Pembangunan Berkelanjutan


Beragam isu global pembajakan dan penyesatan generasi muda terus bergulir. Mengutip Gatra (2020), keterlibatan aktif anak muda menjadi penentu dalam tercapainya pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) demi menciptakan tatanan dunia yang lebih baik pada 2030. Karakteristik anak muda yang dibutuhkan untuk menyukseskan SDGs sebagaimana menurut PBB yaitu pemikir kritis (critical thinkers); pembuat perubahan (change-makers); inovator; komunikator; dan berjiwa pemimpin (leaders).


Dari total populasi dunia saat ini yang diperkirakan mencapai 7,5 miliar penduduk, 16% diantaranya atau sekitar 1,2 miliar penduduk merupakan orang muda berusia antara 15 hingga 24 tahun. Kaum muda ini sangat berperan untuk menghadapi ancaman dan tantangan terburuk bagi pembangunan berkelanjutan, termasuk dampak perubahan iklim, pengangguran, kemiskinan, ketidaksetaraan gender, konflik, dan migrasi.


Di Indonesia, jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) mencapai 70% dari total penduduk dan diperkirakan akan mencapai puncaknya pada 2028-2030. Pada periode itu, diprediksi akan menjadi puncak fenomena bonus demografi yang dapat dioptimalkan untuk produktivitas dan kemajuan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. 


Presidensi G20 dan KTT Y20


Pada 2022 ini, Indonesia sedang memegang mandat Presidensi G20, yakni forum kerja sama multilateral antar 19 negara utama dan Uni Eropa di bidang ekonomi dan pembangunan internasional. Diantara agenda maraton G20, ada KTT Y20. Y20 adalah wadah bagi pemuda/pemudi dari negara anggota untuk saling berdialog. Y20 mendorong para pemuda sebagai pemimpin masa depan untuk meningkatkan kesadaran terhadap permasalahan global, untuk bertukar ide, berargumen, bernegosiasi, hingga mencapai konsensus.


Di Y20 ini, akan ada empat isu prioritas yang diusung, yaitu ketenagakerjaan pemuda, transformasi digital, planet yang berkelanjutan dan layak huni, serta keberagaman dan inklusi. Hasil pertemuan Y20 akan dituangkan dalam sebuah dokumen bernama Komunike yang akan diserahkan kepada Leaders di G20 Summit.

 

Perwakilan Indonesia pada pertemuan Y20 disebut Indonesia’s Youth Diplomacy (IYD). IYD adalah organisasi non-profit kepemudaan yang secara aktif berkontribusi dalam memfasilitasi pemberdayaan inklusif bagi pemuda-pemudi Indonesia untuk menyuarakan pemikiran yang kritis serta berpengaruh di tingkat nasional dan internasional.


Media, Sarana Jahat Kapitalisme


Isu keberagaman dan inklusi di Y20 adalah salah satu bukti nyata penguatan arus moderasi beragama di Indonesia. Ini sekaligus landasan argumentatif bagi realisasi kurikulum merdeka dan kampus merdeka. Sementara tiga isu lainnya memfasilitasi pemuda sebagai pemutar roda ekonomi kapitalisme. Terlebih dengan adanya ancaman inflasi global pasca pandemi, dunia Barat tentu merasa sangat membutuhkan pembangkit ekonomi. Atas dasar ini, berikut menilik potensi generasi muda, akan sangat efektif dimanfaatkan oleh kapitalisme. 


Berikutnya, perusahaan-perusahan multinasional Barat turut berperan menjadi instrumen sekularisasi. Terlebih mereka yang bergerak di sektor media. Sebagaimana kita ketahui, media adalah pilar penting yang menjadi sarana  penyebaran ide kebebasan produk kapitalisme, yaitu kebebasan berekspresi atau bertingkah laku.


Lihatlah, beberapa hari yang lalu dunia perfilman animasi dihebohkan dengan munculnya film produksi Disney, Lightyear, yang memuat konten L687. Berikutnya, adalah Ms. Marvel, film yang mengisahkan superhero Muslim -bahkan muslimah- pertama, besutan Disney dan Marvel. Alih-alih mengandung pembelajaran berupa nilai-nilai Islam, film ini justru memposisikan pemeran utamanya sebagai superhero seperti pada umumnya yang jauh dari karakter pahlawan Islam. 


Selanjutnya perihal dunia game dan gamers. Kita mengenal game Free Fire dan e-sports. Menurut data 2019, setiap harinya ada 40 juta orang login untuk bermain di game virtual Free Fire, yang dibangun oleh Forrest Li, warga Singapura yang kini masuk jajaran crazy rich dunia. Kita juga pernah mendengar e-sports, yakni game terpopuler di dunia. E-sports adalah jenis olahraga berbasis peralatan elektronik seperti PC (komputer), HP (Mobile phone) atau PlayStation (PS). 


Perihal kosmetik, marak jenama-jenama kosmetik baru yang mendadak populer dengan kata kunci “skin care” dan “glowing” di kalangan remaja putri. Ada juga arus fesyen yang digandrungi remaja putri, diantaranya gaya pakaian minimalis dengan warna netral. Produk fesyen itu pun meliputi produk berjenama internasional (branded). Sosok-sosok endorser, selebgram serta YouTuber fesyen dan kecantikan ramai berjejal di aplikasi-aplikasi yang biasanya digandrungi anak muda, seperti TikTok, Instagram dan YouTube. 


Di bidang ekonomi digital dan teknologi keuangan, anak muda juga memainkan peran strategis. Keberadaan cryptocurrency (mata uang kripto), bitcoin, hingga bisnis start-up, mayoritas pelakunya adalah anak muda. Kondisi ini pun mau tidak mau menghijaukan bisnis teknologi komunikasi berbasis aplikasi android. Dengan kata lain, menggenjot produksi smartphone. 


Berdasarkan laporan Newzoo, pada 2020, Indonesia adalah negara pengguna smartphone urutan keempat dunia dengan jumlah 170,4 juta pengguna. Perkembangan pasar smartphone global mencapai 1,35 miliar unit pada 2021. Angka ini mendekati level pra pandemi sebesar 1,37 miliar yang tercatat selama 2019. Ini menunjukkan bahwa pandemi praktis telah mengalihkan dunia nyata ke dunia maya. Namun lihatlah, penguasa negeri ini malah memanfaatkan momentum tersebut untuk membuat kebijakan digitalisasi UMKM, padahal mayoritas pelaku UMKM itu adalah perempuan muda. Tidakkah ini malah mengeluarkan para calon ibu maupun ibu muda dari perannya sebagai ibu generasi?

 

Di bidang media sosial, kita harus tahu bahwa media sosial adalah sarana yang sangat dimanfaatkan oleh kaum L687. Menurut sebuah studi dari Juli 2020 hingga Januari 2021, yang mengumpulkan data berupa unggahan, kepsyen, video, dll, dari berbagai media sosial seperti TikTok, Instagram dan Twitter, dapat diketahui bahwa komunitas gay telah mengembangkan strategi di media sosial untuk melawan stigma. Strategi tersebut terbagi dalam empat kategori, yakni literasi tentang gay, gerakan sosial, pengungkapan orientasi, dan berbagi keintiman.


Ini masih belum soal program United Nations Development Programme (UNDP), sebuah badan PBB, yang pada 2016 menjalin kemitraan regional dengan Kedutaan Swedia di Bangkok, Thailand, dan USAID, untuk mendukung komunitas lesbian, gay, biseksual, transgender dan inter seks (L6871). Mereka mengucurkan dana sebesar US$ 8 juta (sekitar Rp 108 miliar) untuk mendukung jaringan L687 dengan fokus ke empat negara (Indonesia, Cina, Filipina dan Thailand).


Inilah bukti-bukti jahatnya kapitalisme. Tentu masih banyak bukti kejahatan lainnya. Namun mereka membalut kejahatan itu dengan beragam konferensi dan konvensi internasional sehingga tampil prestisius. Padahal semua itu bertujuan membuat pemuda terjerumus. 


Pembelokan Identitas Pemuda, Butuh Gambaran Pemuda Muslim Sejati


Mencermati semua ini, sungguh minat generasi muda untuk merumput di ladang hijrah dan taat syariat, dianggap mengkhianati sekularisme sekaligus merupakan kerugian sistemis bagi kapitalisme. Bagaimanapun, mega proyek sekularisasi tidak akan pernah membiarkan pemuda menuju jalan ketaatan. Radikalisme dan terorisme memperoleh stigma sehingga generasi muda malah antipati terhadap ajaran agamanya sendiri. Fenomena L687 pun gencar menggerus identitas pemuda sehingga mereka yang tadinya pemuda berdaya menjadi “melambai” tanpa daya. 


Jika dikembalikan pada target “manis” Y20 tadi, jelas sekali pemetaan pemuda dari seluruh dunia tidak ubahnya menjadikan mereka sekadar penambal borok kapitalisme. Pemuda dari dunia Islam sebagai unsur terbanyak penduduk bumi, adalah sasaran empuk. Pencanangan Y20 bertujuan membelokkan, bahkan menghancurkan potensi besar pemuda agar makin jauh dari fitrahnya sebagai makhluk ciptaan Allah Taala.


Allah Taala berfirman dalam Surah Adz-Dzariyat [51] ayat 56:


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ


“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah kepada-Ku.”


Juga Surah Ar-Ruum [30] ayat 30:


فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ


“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”


Oleh karena itu, hendaklah kita tidak berhenti memberikan gambaran pemuda Muslim sejati. Para pemuda terbaik adalah generasi awal Islam. Mereka sebenar-benarnya sosok pahlawan. Kisahnya adalah realitas, bukan sebatas romantika sejarah, alih-alih dongeng fantasi. Mereka adalah para pemuda di zaman Nabi Muhammad saw.. Mereka membersamai Nabi Saw. sejak masa belia. Hati mereka dipenuhi cahaya iman sehingga mereka begitu ringan dan rida membela Islam. Mereka para pejuang, garda dan perisai bagi dakwah beliau saw.. Merekalah para sahabat Rasulullah saw., yang keberadaannya bagai mata air. Aliran jejaknya menghidupkan titik awal tegaknya peradaban Islam yang gemilang.


Khilafah Menjaga Generasi


Gambaran sosok para pemuda sahabat Rasulullah saw. tadi adalah konter bagi serangan pemikiran terhadap generasi muda Muslim di era digital ini. Mekanisme konter lainnya tentu saja hanya dapat diakomodasi oleh sistem kehidupan Islam, sebagaimana kehidupan yang pernah menghasilkan generasi awal Islam tersebut. Itulah Khilafah Islamiah, yang memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga generasi muda Muslim. 


Khilafah menyadari sepenuhnya bahwa generasi muda adalah konstruktor peradaban. Segala lini akan Khilafah jaga agar generasi muda menjadi sosok-sosok tangguh dan memiliki kepekaan politik. Pada titik inilah urgensi kristalisasi ideologi Islam pada generasi muda. Mereka harus memposisikan akidah Islam pada perasaan maupun pemikirannya sebagai landasan kehidupan sehingga identitas mereka jelas dan tidak mudah terpengaruh oleh pemikiran dari luar Islam.


Khilafah juga memperkuat peran keluarga. Khilafah menjamin jalur nafkah halal para ayah bagi keluarganya. Khilafah menjamin kesempurnaan dan keutuhan porsi pengasuhan oleh kaum ibu sehingga anak-anak dapat terasuh sesuai Islam dan tumbuh menjadi pembela Islam. Bersamaan dengan itu, Khilafah menjamin kualitas pendidikan di sekolah menuju terwujudnya sosok yang berkepribadian Islam. 


Khilafah juga akan menempatkan modernisasi dan teknologi digital berdasarkan konsep madaniyah (bentuk-bentuk fisik) menurut Islam agar semata-mata sebagai sarana menuju ketaatan kepada Allah Taala serta dalam rangka meningkatkan laju dakwah Islam, bukan malah untuk menyelisihi dan menyudutkan Islam. Sebaliknya, Khilafah akan membongkar borok-borok sekularisme dan memosisikannya sebagai ide busuk yang tidak layak diambil. 


Khatimah


Sungguh, satu-satunya lawan yang sebanding bagi ideologi kufur kapitalisme adalah ideologi yang sahih, yaitu Islam. Tidaklah pada tempatnya memperbaiki generasi muda hanya dengan perbaikan akhlak, alih-alih revolusi mental. Justru hal ini butuh revolusi ideologis dan politis berdasarkan Islam. Langkahnya mulai dari membentuk individu yang bertakwa, masyarakat yang sadar dan mampu berperan sebagai unsur kontrol sosial (dakwah Islam), serta adanya negara berideologi Islam, Khilafah Islamiah, selaku pengambil kebijakan yang sahih menurut hukum syariat Islam.

Wallahualam bissawab. []

No comments:

Post a Comment

Adbox