Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, July 30, 2022

Bunuh Diri Tak Lolos PTN, Generasi Semakin Sakit

 


Oleh Unix Yulia

(Komunitas Menulis Setajam Pena)


Mengakhiri hidup secara sengaja atau bunuh diri, beberapa tahun belakangan semakin marak terjadi. Berbagai tekanan hidup, entah tentang ekonomi, pendidikan, gaya hidup ataupun yang lainnya, tanpa diserta pendidikan agama yang kuat menjadi faktor seseorang melakukan jalan tersebut. Lalu, siapa yang bertanggung jawab dengan kejadian seperti ini?


Kasus bunuh diri terbaru yang sempat ramai menjadi perbincangan yaitu seorang perempuan yang dinyatakan tak lolos PTN (Perguruan Tinggi Negeri). Sebelumnya perempuan tersebut bernazar akan memberikan santunan anak yatim jika diterima. Namun ketika tidak diterima, ia bernazar akan melakukan bunuh diri. (suara.com, 13/07/2022)


Kejadian yang menimpa pelajar seperti ini tidak hanya 1 kali terjadi. Tahun 2020 kemarin seorang mahasiswa di Kalimantan Timur nekat gantung diri, dikarenakan 7 tahun kuliah tak kunjung lulus. Alasan ini didapatkan setelah kasus melalui penyelidikan polisi. 


“Dia diajak ngomong baru nyambung. Katanya kuliah 7 tahun enggak lulus-lulus. Ngajukan skripsi ditolak terus sama dosennya. Sehingga dia diduga stres akhirnya bunuh diri.” tutur Kanit Reskrim Polsek Sungai Pinang, Iptu Fahrudi. 


Dua kejadian tersebut hanya segelintir contoh, masih banyak kasus sama yang dialami oleh seorang pelajar/mahasiswa. Alasannya karena tekanan zaman, pendidikan di sekolah/universitas mentereng, lulus dengan nilai cumlaude, lulus cepat dll akan lebih dipandang atau mendapat nilai lebih dan nantinya bisa mendapat pekerjaan di perusahaan bonafit. Di zaman serba bebas seperti saat ini tentu hal tersebut tidak asing lagi, karena segala sesuatu dinilai dari segi harta dan kekuasan. Sehingga orang berlomba-lomba mendapatkan harta/materi untuk  eksistensi dan keberlangsungan hidupnya. 


Kasus bunuh diri yang dilakukan oleh pelajar menjadi salah satu bukti gagalnya sistem pendidikan saat ini dalam membangun kepribadian kuat seorang siswanya. Dalam sistem pendidikan saat ini agama dipisahkan dari kehidupan. Dibangku sekolah pendidikan agama hanya diberikan waktu 2 jam pelajaran selama satu minggu, tentunya hal itu sangatlah kurang, mengingat agamalah yang menjadi pengokoh kehidupan. Bagaimana seorang pelajar bisa menjalani kehidupan yang baik apabila pondasinya saja tidak kuat? 


Selain itu, tekanan kehidupan juga menjadi faktornya. Seperti sulit mendapatkan kebutuhan, entah pendidikan, kesehatan ataupun yang lainnya. Apalagi pada sistem saat ini, pendidikan yang berkualitas hanya bisa didapatkan oleh si kaya. Asalkan mempunyai harta, bisa langsung tunjuk sekolah mana yang diinginkan. Sedangkan untuk masyarakat golongan bawah harus berjuang mati-matian bahkan banyak yang harus putus sekolah. Naudzubillah


Berbeda apabila sistem pendidikan islam yang diterapkan, membangun kepribadian islam menjadi tujuan utamanya,  selain itu juga menguasai ilmu kehidupan. Ketika tsaqofah Islam sudah kuat serta ilmu kehidupan sudah didapatkan insyaallah seseorang bisa menjalani kehidupan dengan baik. Semuanya didasarkan pada ridho Allah serta halal dan haram. Selain itu, negara wajib menyediakan pendidikan bagi seluruh warganya dan memperolehnya secara mudah.  Sehingga kejadian bunuh diri pelajar tidak terulang kembali.


Wallahu a’lam bi showab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox