Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, June 24, 2022

Legalisasi Ganja Penyumbang Perusak Generasi

 



Oleh Triani Agustina


Bermula dari Negeri Gajah Putih, isu pelegalan ganja tampaknya cukup meresahkan bagi masyarakat Indonesia. Indonesia memang bukanlah negara agama, namun masyarakat Indonesia kebanyakan adalah kaum beragama yang tentu jeli akan halal-haramnya suatu benda. Masyarakat semestinya juga telah mengetahui bahwa ganja, narkoba, miras dan kawan-kawannya merupakan barang yang banyak mudharat atau bahkan berbahaya  bagi tubuh dan mental nihil akan manfaat. Berbeda dengan perjalanan Thailand yang berjuang menjadi negara Asia pertama melegalkan budidaya, jual-beli dan konsumsi ganja. Mereka juga sudah mengizinkan penggunaannya untuk kepentingan medis sejak 2018. Perjalanan legalisasi ganja telah dimulai tahun 1930-an, ganja mulanya digunakan sebagai obat tradisional sebelum hingga akhirnya dilarang pada 1930-an. Kemudian di tahun 1935, pemerintah Thailand mengesahkan Cannabis Act dan mengkriminalisasi kepemilikan, penjualan, serta penggunaan mariyuana. Undang-undang tersebut telah berjalan hingga berpuluh-puluh tahun. Sampai akhirnya tahun 2018, Thailand melegalisasi penggunaan ganja yang juga berdasarkan pertimbangan WHO.


Barang haram tetaplah haram, Islam menetapkan sesuatu yang haram bukanlah tanpa sebab. Islam mengharamkan suatu benda pasti mengandung mudharat yang tentu merugikan manusia, baik dalam skala kecil maupun besar sifatnya tetap mengandung zat haram. Hal ini terbukti seperti yang diberitakan oleh tempo.co, bahwa Thailand sejak hari kamis (9 Juni 2022) telah resmi menghapuskan ganja dan rami sebagai zat yang dikendalikan dari daftar narkotika Kategori 5. Yakni warga dilarang menghisap ganja sembarangan di tempat umum. Sebab asap dari ganja dianggap sebagai gangguan. Denda untuk pelanggaran tersebut adalah maksimum 25 ribu baht atau sekitar Rp 10 juta, dan/atau tiga bulan penjara. Ekstraksi ganja yang mengandung lebih dari 0,2 persen THC, menurut beratnya, akan tetap diakui sebagai zat Tipe 5 dan diatur dalam ketentuan yang berkaitan dengan pengendalian dan pemberantasan narkotika.


Beberapa pekan kemudian setelah ganja dengan kadar tertentu legal di Thailand, yakni laporan media lokal terdapat empat laki-laki (pelajar berusia 16 tahun dan 17 tahun) dirawat di rumah sakit di Ibu Kota Bangkok akibat overdosis ganja. muncul sejumlah laporan overdosis. Selain itu satu orang yang mengalami overdosis ganja, kemudian meninggal karena gagal jantung. Korban tewas tersebut adalah seorang laki-laki (51 tahun) awalnya mengeluh menderita nyeri dada. Beliau kemudian meninggal karena gagal jantung di Rumah Sakit Charoen Krung Pracharak. Dan banyak korban lainnya dengan berbagai kondisi akibat mengonsumsi ganja.


Dari berita tersebut dapat disimpulkan bahwa para pemangku kebijakan Thailand menyatakan untuk membatasi penggunaan ganja untuk mengurangi korban overdosis dan lain sebagainya, namun permasalahan utamanya tidak lain ialah tumbuh subur liberalisme. Liberalisme membuat masyarakat Thailand kecanduan akan ganja, tanpa sadar menjadi salah satu penyumbang hancurnya generasi penerus bangsa. Selama dapat memakai barang halal mengapa harus memakai barang haram?


Selain itu dalam sistem kehidupan sekuler kapitalisme saat ini, kebebasan berperilaku begitu sangat diagung-agungkan. Negara pun dapat kehilangan nyali mengatur warga negaranya karena momok demokrasi yang mengharuskannya untuk mengakomodir semua kepentingan, termasuk kelompok para kapitalis dan liberalis. Akibatnya benar dan salah menjadi kabur, halal-haram tak dapat jelas dibedakan. Sistem seperti ini pun telah menyeret ‘orang baik’ yang tak kenal ganja ikut untuk berbuat maksiat seperti ikut-ikut mencoba ganja hingga ketagihan dan pelaku maksiat semakin menyebar luas. Sehingga terasa percuma membuat aturan pembatasan pemakaian ganja.


Berbeda jika negara dalam naungan Islam atau yang disebut khilafah, sebab negara akan menjaga ketat masyarakat hingga ke akar-akarnya. Tidak akan membiarkan barang haram sedikit pun ada bahkan menyebar luas ke masyarakat luas. Sehingga masyarakat akan sibuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Menjalani dan menerapkan pengobatan dengan cara serta bahan yang halal lagi baik.✓]

No comments:

Post a Comment

Adbox