Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, June 10, 2022

Khilafah Adalah Penjaga

 



M. Arifin (Tabayyun Center)


Dalam genggaman Kapitalisme, dunia gelap tanpa cahaya. Manusia menyembah berhala modern. Mereka hidup tanpa moral layaknya binatang ternak. Darah dengan mudah tertumpah. Harta dirampas sekelompok pemodal. Kemiskinan merajalela. Hukum dan keadilan raib di rakyat jelata. Selaksa persoalan itu menumpuk tanpa pernah terselesaikan. Kenyataan ini terjadi karena hukum-hukum Allah SWT disingkirkan dari kehidupan. Sebabnya, sudah 100 tahun (Hijriah) Khilafah Islamiyah absen di kancah perpolitikan baik lokal, regional maupun internasional.


Khilafah bukan sekadar kewajiban, namun sekaligus merupakan mahkota kewajiban (tâjul-furûdh) dan kewajiban paling utama (afdhalul-wâjibât). Tanpa Khilafah banyak sekali kewajiban yang tidak terlaksana secara sempurna. Karena itu berdiam diri dari aktivitas memperjuangkan Khilafah ini adalah dosa yang sangat besar. Hal itu karena Khilafah adalah satu-satunya metode praktis untuk melangsungkan kembali hukum-hukum Islam secara sempurna di berbagai bidang kehidupan.


Adanya Khilafah menjadikan umat memiliki pelindung. Ketakwaan masyarakat akan terjaga. Jihad pun dengan mudah terlaksana atas komandonya. Rasulullah saw. bersabda:


"Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu laksana benteng; orang-orang berperang di belakang dia dan berlindung kepda dirinya. Jika dia memerintah dengan berlandaskan takwa kepada Allah dan keadilan, dia akan mendapatkan pahala. Jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa". (HR al-Bukhari).


Telah lama sekularisme, liberalisme, demokrasi, sosialisme, marxisme dan paham kufur lainnya terus menggasak akidah kaum Muslim saat ini. Melalui berbagai media paham tersebut masuk ke rumah-rumah keluarga muslim tanpa filter sedikitpun. Semua ini terjadi karena ketiadaan Khilafah.


Islam tidak memaksakan agama kepada seseorang. Namun, Islam tidak membenarkan seorang Muslim untuk murtad. Seorang Muslim yang murtad dari Islam akan diberi nasihat dan diberi waktu untuk bertobat selama tiga hari. Jika dia tetap dengan kemurtadannya, dia akan dibunuh.


Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah! (HR al-Bukhari).


Gonta-ganti keyakinan adalah penyakit hati yang harus ditindak secara tegas. Jika tidak, akidah masyarakat akan tercemar dan rusak. Ketegasan Rasulullah saw. dalam persoalan akidah ini merupakan bentuk penjagaan Islam atas akidah.


Karena berasal dari Allah SWT, hukum Islam telah terbukti keadilannya bukan hanya untuk umat Islam, namun bagi sengenap warga negara dalam naungan Khilafah. Prinsip keadilan hukum ini dijamin Allah SWT (Lihat: QS al-Maidah [5]: 50; lihat juga penafsiran Wahbah Az-Zuhaili tentang ayat ini dalam At-Tafsîr al-Munîr, VI/224).


Sejarah pun menjadi saksi akan keadilan hukum Islam dalam naungan Khilafah. Di antara kisah yang cukup masyhur adalah sengketa baju besi Khalifah Ali bin Thalib ra. dengan seorang Yahudi. Saat itu Khalifah—yang notabene memiliki kekuasaan sangat besar—dikalahkan di pengadilan oleh Yahudi tersebut, yang sebetulnya telah mencuri baju besi milik Khalifah itu. Pasalnya, di pengadilan itu Khalifah dianggap tidak mampu menghadirkan saksi yang memadai oleh qâdhî. Karena takjub akan keadilan hukum Islam, Yahudi itu pun masuk Islam dan mengembalikan baju besi itu kepada Khalifah sbagai pemiliknya. Karena masuk Islam, Khalifah justru menghadiahkan baju besi itu kepada Yahudi tersebut (HR al-Hakim).[]

No comments:

Post a Comment

Adbox