Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, May 11, 2022

Meminimalisir Permasalahan Pasangan Pejuang: Selangkah Lebih Maju untuk Mewujudkan Cita-cita



Endah Sulistiowati (Dir. Muslimah Voice) 


Indonesia bercita-cita mewujudkan generasi emas di tahun 2045. Generasi emas (Gold generation) digadang-gadang akan menjadi generasi penerus bangsa yang akan menentukan masa depan dan integritas bangsa Indonesia. Generasi emas yang terdiri atas generasi muda yang penuh optimisme dan gairah untuk maju.


Para pejuang Islam bercita-cita mewujudkan generasi yang bersyaksiyah Islamiyah atau berkepribadian Islam yang selalu menjadikan syariat Islam sebagai tolok ukur perbuatan. Sehingga tingkah laku, perbuatan, dan perkataan selalu merujuk bagaimana Islam mengatur. Sehingga generasi robani yang santun, cerdas, humble, maju bisa dibentuk. 


Islam bisa tegak dan diterapkan secara Kaffah adalah cita-cita final para pejuang Islam. Sehingga butuh step-step dalam mewujudkannya. Dan inipun perlu dukungan dari masing-masing pasangan sehingga bisa terus bersinergi. 


Tidak muluk-muluk cita-cita tersebut, cita-cita tersebut bukanlah cita-cita yang utopis. Semua masih berada dalam lingkaran yang bisa digapai dan diusahakan oleh para pejuang.


Satu yang harus diperhatikan, cita-cita tersebut akan mudah terwujud jika para pejuang benar-benar komitmen. Sadar akan tujuannya, dan berani keluar dari zona nyaman. Termasuk mampu mengelola rumah tangga dengan baik, tanpa masalah yang berarti. Karena bagaimanapun pasangan adalah salah satu kunci sukses perjuangan untuk menggapai cita-cita. 


Dari pendahuluan di atas setidaknya ada beberapa masalah yang selayaknya dibahas, yaitu: 


1) Apakah tantangan berat bagi pasangan pejuang? 


2) Apa langkah tepat bagi para pasangan pejuang untuk meminimalisir permasalahan?



Tiga Tantangan Berat Bagi Pasangan Pejuang 

Masing-masing pasangan memiliki tantangan dan permasalahan dengan tingkat yang berbeda-beda. Adakalanya bagi sebagian pasangan bukan masalah, tapi menjadi masalah jika terjadi pada pasangan yang lain. Sehingga kita tidak bisa menjudge apa yang terjadi pada satu pasangan pejuang. 


Namun yang bisa kita lakukan adalah memetakan permasalahan tersebut. Sehingga masalah bisa diminimalisir agar tidak jauh berkembang. Adapun yang sering terjadi di kalangan pasangan pejuang adalah: 


1) Syock dengan kehidupan berkeluarga. Hidup berumah tangga memang jauh beda ketika masih lajang. Apalagi ketika pernikahan belum lama langsung lahir anak-anak. Ibarat baru belajar menjadi suami/istri langsung dipaksa belajar jadi ayah/ibu. 


Sehingga para pasangan pejuang memang harus benar-benar menyiapkan fisik dan mental ketika bersiap untuk melaju ke gerbang pernikahan. Jangan yang indah-indah saja yang dibayangkan, begitu ada masalah tergagap-gagap hingga melupakan tujuan utama. 


2) Pergaulan. Pergaulan di luar sana memang akan memberikan pengaruh yang signifikan. Apalagi kebutuhan ekonomi keluarga menuntut untuk dipenuhi, mau tidak mau harus bergaul dengan seluruh lapisan masyarakat. Bahkan banyak dari pejuang nafkah harus terbawa arus, hingga akhirnya justru memilih mundur dari perjuangan. Kalau sudah begini bagaimana cita-cita perjuangan bisa dicapai? 


Para pasangan pejuang harus saling menguatkan kalau sudah begini. Jangan sampai malah menjadi kompor bagi pasangan untuk resign dari perjuangan demi mengejar cuan. 


3) Futur. Sehebat apa pun seseorang, tak ada yang bisa mengalahkan kekuatan kolektivitas. Kebersamaan merupakan salah satu syarat perjuangan mencapai kemenangan. Dalam dunia bisnis hampir tak ada satu perusahaan yang tak menjalin kemitraan. Dalam dunia politik dan militer, negara-negara imperialis menjalin persekongkolan satu dengan lain untuk mencabik-cabik umat dan mencegah kebangkitan Islam. 


Dalam dunia perjuangan? Apalagi. Kebersamaan, keberjemaahan, kesatuan, unity atau apalah namanya adalah syarat untuk menggapai pertolongan Allah Swt.. Penghulu umat ini, Rasulullah saw. mewasiatkan akan kebaikan hidup berjemaah, 


Artinya “Dua orang lebih baik dari seorang, tiga orang lebih baik dari dua orang, dan empat orang lebih baik dari tiga orang. Tetaplah kamu dalam jemaah. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mempersatukan umatku kecuali dalam petunjuk (hidayah).” (HR Ahmad)


Untuk itulah para pasangan pejuang harus bisa menghindar dan bangkit melawan penyakit futur. Penyakit yang sangat berbahaya di dunia perjuangan. Sekali menginfeksi perlu berdarah-darah untuk menghentikan serangannya. 


Memang kita tidak bisa menghindari masalah, masalah itu harus dihadapi dan diselesaikan. Sedangkan cita-cita itu tetap harus diperjuangkan dan diwujudkan. 


Jadi, tidak mentang-mentang menikah dengan yang sefikrah kita bebas dari jeratan masalah. Bahkan, dengan berani menikah itulah kita sudah berani akan menerima banyak amanah. Apalagi menikahi sesama pejuang, tentu akan lebih banyak lagi amanah yang akan ditanggung. 


Tips Untuk Para Pejuang Meminilisir Permasalahan


Ketika seorang yang mendedikasikan dirinya sebagai pejuang. Terutama pejuang Islam, tentu menginginkan pendamping hidup yang memiliki tujuan hidup yang sama, sejalan, seide, sefikrah. Sehingga mereka cenderung memilih pasangan yang berada dalam jamaah dakwah yang sama. Bukan ashobiyah sih menurut penulis, tapi lebih merasa save dan tujuan hidup akan lebih mudah tercapai. Ingat itu! 


Tapi bukan berarti pernikahan akan mulus-mulus saja, tanpa halangan dan rintangan, bahkan ada pula yang rumah tangganya harus berakhir di meja-meja persidangan. Pegat tresno, putus cinta, bercerai. Ya Allah, astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah. Apakah mereka tidak memahami hakikat pernikahan? Tidak! Mereka sangat paham, tapi mungkin ada beberapa hal yang memang sudah tidak bisa sejalan lagi.


Untuk mewaspadai hal-hal tersebut di atas, alangkah baiknya para pejuang ini menjalankan KISS (Komunikasi, Integritas, Sinkronisasi, dan Sinergi) versi Ustadz Fikri dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Mari kita preteli satu-satu. KISSnya versi Ustadz, penjelasannya versi penulis: 


1) Komunikasi. Antara suami istri membangun komunikasi adalah hal utama dan pertama yang harus dilakukan. Bagusnya komunikasi antara kedua belah pihak, maka akan mudah bagi mereka menyelesaikan setiap permasalahan bersama. 


Ingat suami bukan ahli nujum yang mengetahui isi hati istri. Demikian juga istri bukan paranormal yang bisa membaca pikiran suami. So, bicarakan, sampaikan, apa yang menjadi unek-unek, apa yang dirasakan mengganjal tentang pasangan.


2) Integritas. Dari Wikipedia Integritas adalah kata yang berasal dari bahasa latin yaitu, “integer” yang artinya utuh dan lengkap. Integritas adalah sifat atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan dan kejujuran.


Artinya suami istri harus memiliki kepercayaan satu sama lain. Mereka memiliki ikatan yang kuat untuk meletakkan kepercayaan pada pasangan. Apalagi sebagai pejuang mereka juga ditempa dengan ilmu dan pembinaan. Sehingga dalam rumah tangga inilah kepiawaian mereka kudu dipertaruhkan.


3) Sinkronisasi. Menikah ibarat menggabungkan dua kepala, susah sih. Sehingga perlu adanya sinkronisasi antara apa yang ada di kepala istri dengan apa yang ada di kepala suami. Agar ketika suami berjalan ke Barat istri tidak berjalan ke Timur. Dengan sinkronisasi ini pasangan akan mudah untuk menentukan jalan yang dipilih agar cita-cita tersebut bisa segera dicapai. 


4) Sinergi. Setelah terjadi dan terlaksana dari poin satu hingga poin ke tiga, maka sudah saatnya pasangan pejuang ini bersinergi, bekerja sama, bahu membahu agar tujuan pernikahan dan tujuan perjuangan bisa segera diraih. 


Memang kadar permasalahan antar pasangan pejuang itu berbeda. Namun ketika kita bisa memetakan setiap masalah dengan solusi yang tepat semua masalah insya Allah bisa diselesaikan kecuali kematian. 



No comments:

Post a Comment

Adbox