Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, April 19, 2022

Prof. Mahfud MD Keliru!

 



Mahfud Abdullah (Direktur Indonesia Change)


Sebagaimana dikutip dari cnnindonesia.com (4/4/2022), Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD menyebut haram hukumnya mendirikan sebuah negara layaknya pada zaman Nabi Muhammad SAW. "Kita enggak bisa dan dilarang membentuk negara seperti yang dibentuk oleh nabi, enggak boleh. Haram hukumnya," kata Mahfud saat Ceramah Tarawih dengan tema 'Titik Temu Nasionalis-Islam dan Nasionalis-Sekuler dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara' di Masjid UGM, Sleman, Minggu (3/4).


Kontan pernyataan Prof. Mahfud MD membuat heboh di masyarakat. Jika Prof. Mahfud MD mengharamkan kaum Muslim untuk mencontoh Nabi saw. dalam bernegara, dia harus bertanggung jawab menghadirkan dalil al-Quran atau as-Sunnah yang tegas mengharamkannya. 


Apalagi para ulama tidak berbeda pendapat tentang kewajiban mengikuti Sunnah Nabi Saw. Terdapat banyak nas al-Quran juga hadis yang memerintahkan kaum Muslim untuk menaati Rasulullah saw. Allah SWT, misalnya, berfirman:


قُل إِن كُنتُم تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِي يُحبِبكُمُ ٱللَّهُ وَيَغفِر لَكُم ذُنُوبَكُم وَٱللَّهُ غَفُور رَّحِيم  


Katakanlah, "Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (TQS Ali Imran [3]: 31).


Imam Ibnu Katsir mengomentari ayat ini: “Ayat yang mulia ini menilai setiap orang yang mengakui dirinya cinta kepada Allah, sementara sepak terjangnya bukan pada jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad saw., sebagai orang yang berdusta dalam pengakuannya, sebelum ia mengikuti syariah Nabi saw. dan agama yang beliau bawa dalam semua ucapan dan perbuatannya.” (Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, 2/26).


Beliau lalu menukil sabda Rasulullah saw.:


مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ


Siapa saja yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu ditolak (HR al-Bukhari dan Muslim).


Membangkang Sunnah Nabi saw. adalah dosa besar. Bahkan Allah SWT menyebut para pelakunya hakikatnya tidak beriman sekalipun mereka mengklaim beriman (Lihat: QS an-Nisa’ [4]: 65).


Kaum Muslim juga diperintahkan untuk mengikuti sekaligus memegang teguh Sunnah Nabi saw. dan Sunnah Khulafaur-Rasyidin. Beliau bersabda:


فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ


Wajib atas kalian berpegang teguh pada Sunnahku dan Sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah dia dengan gigi geraham kalian (HR Ahmad dan Abu Dawud).


Apalagi Khilafah juga telah menjadi ijmak para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Syaikh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menuturkan:


إِتَّفَقَ اْلأَئِمَّةُ رَحِمَهُمُ اللهُ تَعَالىَ عَلىَ أَنَّ اْلإِمَامَةَ فَرْضٌ


Para imam mazhab (yang empat) telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib… (Al-Jaziri, Al-Fiqh ‘ala al-Madzâhib al-Arba’ah, V/416).


Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, XII/205).


Lalu bagaimana bisa yang selama ini wajib bisa berubah hukumnya menjadi haram?[]

No comments:

Post a Comment

Adbox