Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, April 30, 2022

OTAK KERUH PROFESOR BUDI SANTOSO PURWOKARTIKO HARUS DI RUQYAH

 



Oleh : Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik



Sebenarnya, secara hukum pernyataan SARA yang dilontarkan oleh Budi Santoso Purwokartiko (BSP) telah memenuhi unsur pasal 28 ayat (2) Jo pasal 45A ayat (2) UU ITE, ancamannya 6 tahun penjara. Atau subsider, memenuhi ketentuan pasal 156a KUHP tentang delik penodaan agama, dengan ancaman 5 tahun penjara.


Namun, saya malas membahasnya secara hukum. Sudah pasti, tindakan itu akan berlindung pada bungker kekuasaan. Aparat penegak hukum pasti tak bernyali, meskipun tindakan tersebut delik umum, artinya untuk memprosesnya tidak butuh adanya laporan dari masyarakat.


Karena itu, saya lebih suka membahasnya dalam aspek sosial dan moral, agar ada sanksi sosial dan moral yang dapat memberikan efek pada profesor atau orang yang mengaku akademisi dan intelektual lainnya agar tak ngasal dalam bicara. Saya kira, hal ini lebih efektif ketimbang membuat laporan polisi tetapi nantinya tidak ditindaklanjuti.


Sangat sembrono, mengungkap hasil wawancara yang sifatnya rahasia ke ruang publik. Apalagi dengan tendensi tertentu. Diduga, hal ini telah melanggar kode etik. LPDP wajib menindak lanjuti dugaan pelanggaran etik ini.


Saya sama sekali tak merasa bangga dengan kemampuan bahasa Inggris cas cis cus, karena itu bukan parameter utama menilai keberhasilan pendidikan. Betapa banyak generasi now yang sangat fasih bahasa Inggris, sangat saintis, tetapi krisis moral dan bahkan mengalami demoralisasi pada tingkat yang sangat akut.


Saya tidak mengesampingkan nilai-nilai kualitatif maupun kuantitatif untuk mengukur kompetensi seseorang. Tapi, semua itu tetap nol nilainya jika tidak didasari dengan asas akidah Islam.


Apalagi, saat BSP dengan sombong dan sinisnya menyatakan :


_"Mereka bicara tentang hal-hal yang membumi: apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontribusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme dan sebagainya. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati."_


_"Pilihan kata-katanya juga jauh dari kata-kata langit: insaallah, barakallah, syiar, qadarullah, dan sebagaianya."_


Ini maksudnya apa ? apa hebatnya sih si BSP sehingga begitu lancang berani mencela syiar dan kalimat Thoyyibah dalam agama Islam ? Kalau dia PKI sah-sah saja berkata demikian. Namun, sebagai makhluk beragama apalagi dengan label profesor, kata-kata itu jauh dari rasa pantas.


Yang sangat membuat darah mendidih adalah ketika BSP  menceritakan 12 mahasiswi yang diwawancarainya *tidak satu pun menutup kepala ala manusia gurun.* Otaknya benar-benar open mind. 


Astaghfirullah, kalau BSP tak pakai kerudung, tak menggunakan jilbab, silahkan saja karena dia laki-laki. Atau, kalaulah dia mengumbar aurat istri dan anak perempuannya (kalau punya), mempertontonkan ketelanjangan, silahkan saja.


Tapi apa maksudnya menghina kewajiban menutup aurat muslimah, dengan kerudung dan jilbab, disebut sebagai penutup kepala ala manusia gurun ?


Semestinya, diskusi semacam ini kalaulah menghinggapi batinnya cukuplah di forum internum. Tak perlu di aktualisasikan apalagi didemonstrasikan melalui sosial media.


Sepertinya, Professor satu ini perlu di Riqyah dulu otaknya biar bisa berfikir jernih. Keruh sekali isi kepalanya. [].



https://youtu.be/AESIH0Rs5lk

https://youtu.be/AESIH0Rs5lk

https://youtu.be/AESIH0Rs5lk


No comments:

Post a Comment

Adbox