Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, April 6, 2022

Balada Minyak Goreng Dan Negeri Penghasil CPO



Penulis : Siti Fatimah

(Pemerhati Sosial dan Generasi)


Salahkah bila rakyat bertanya, kemanakah perginya minyak goreng ? Mengapa negeri yang katanya gemah ripah loh jinawi mengalami kelangkaan minyak yang disusul oleh mahalnya beberapa komoditas pangan? Pertanyaan seperti inilah yang semestinya harus segera mendapatkan jawaban agar tidak Ada lagi dusta diantara rakyat dan penguasa. Namun, rakyat sekali lagi memang harus bersabar karena jawaban yang diharapkan tidaklah sesuai dengan ekspektasi. Bagaimana tidak, disaat rakyat mengantri minyak yang harganya melambung, berharap bisa mendapatkan harga miring bersubsidi justru para pejabat melontarkan komentar yang memilukan sanubari. Bukannya mengupayakan stock barang terpenuhi dengan harga normal, justru ibu pejabat yang terhormat ini mengaku ngelus dada, kenapa harus antri?,  menurutnya memasak tidak harus mengoreng melainkan dikukus atau direbus. 


Penguasa Minim Empati Dan Solusi


Terkait pernyataan mantan presiden yang juga seorang pejabat dan politikus, tidak seharusnya seorang pejabat yang memiliki kekuasaan melontarkan perkataan yang begitu recehnya. Seharusnya, level seorang pejabat negara memberikan pernyataan  akan upayanya mengusut kelangkaan minyak goreng serta mencegah dari kelangkaan yang disinyalir merupakan ulah dari spekulan dan mafia. Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia, tak lazim mengalami kelangkaan yang menyebabkan naiknya harga minyak goreng dipasaran.


Menteri Perdagangan M. Lutfi berujar bahwa Stok yang dimiliki Kemendag sebesar 551.069 ton telah didistribusikan dalam kurun waktu sebulan. Tetapi anehnya fakta dilapangan tidak sesuai dengan aksi tersebut, dimana-mana minyak goreng seakan raib. Antrian ibu-ibu yang hendak membeli minyak goreng murah bersubsidi dengan harga sekitar 14 ribu per-liter seharusnya benar-benar membuat rakyat berfikir, gudangnya CPO tapi langka minyak gorengnya. Walhasil, begitu aturan HET dicabut, minyak goreng kembali menumpuk di pasaran dengan harga hampir 2 kali lipat dari harga normal. Parahnya pemerintah mengaku menyerah terhadap praktek nakal yang dilakukan para mafia minyak. Akhirnya, rakyat hanya bisa ngelus dada.


Solusi Sudah Ada, Tinggal Penerapannya


Sebenarnya saat ini rakyat sudah memiliki solusi atas semua masalah yang sedang menimpa negeri ini. Problematika yang terjadi mulai dari masalah penistaan agama yang terus saja berulang, kasus kaum Islam liberal, moderat dan Islam Nusantara yang berusaha membelokkan serta menyesatkan akidah umat Islam melalui narasi nikah beda keyakinan, gerakan lepas hijab, praktek kesyirikan berbalut kearifan lokal hingga tuntutan penghapusan 300 ayat Al-Quran. 


Belum lagi masalah pengangguran yang meningkat, kemiskinan yang berujung pada kriminalitas, hingga naiknya berbagai macam komoditas termasuk minyak goreng. Solusi itu sudah ada, namun hingga saat ini umat seperti nya lebih ridho diatur oleh sistem demokrasi kapitalisme dari pada diatur oleh syariat Islam. Padahal Islam sangat jelas mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk aturan dalam bernegara.


Sehubungan dengan masalah minyak goreng, kelangkaan yang terjadi sebenarnya bukan saja akibat dari permasalahan demand and supply, akan tetapi didukung juga oleh faktor globalisasi dimana perusahaan memegang peranan penting dalam mengendalikan suatu negara yang mengikuti arus globalisasi. Perusahaan merupakan pengendali ekonomi yang menentukan harga pasar. Mau tak mau regulasi negara penganut globalisasi akan mengikuti sektor swasta akibat dari sektor publik yang ada telah diswastanisasi.


Selain itu keberadaan pasar modal juga memiliki pengaruh besar terhadap kekacauan yang terjadi seputar minyak. Kontrak jangka panjang atas hasil perkebunan sawit diperdagangkan di pasar modal. Pasar saham inilah yang menjadi alat para investor yang telah menguasai SDA untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya. Kerakusan dan keserakahan mereka melalui mekanisme globalisasi inilah yang menyebabkan  huru- hara naiknya harga dan langkanya minyak goreng.


Untuk dapat keluar dari problematika ini pertama-tama harus melepaskan diri dari pengaruh globalisasi yang selama ini digunakan untuk menjajah negeri-negeri dengan Sumber Kekayaan Alam melimpah, SDM murah serta pangsa pasar yang sangat besar. 


Kedua, penerapan sistem Islam secara Kaffah. Dengan memiliki sistem ekonomi sendiri secara otomatis akan lepas dari segala macam bentuk keharaman seperti riba maupun transaksi non riil yang ada di pasar modal.


Hanya kekuatan khilafah yang mampu kengakhiri dominasi global kapitalisme yang mengakibatkan umat mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan. Hanya Islam yang mampu memberikan Jaminan atas setiap individu terhadap pemenuhan sandang, pangan dan papan karena tugas pemerintah dalam negara khilafah adalah sebagai pelindung  dan periayah. Islam akan meniaga harta, darah dan jiwa manusia bukan malah menerapkan hukum rimba yang penuh dengan kezaliman. Wallahu'alam bishawab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox