Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, March 28, 2022

Minyak Goreng Ambyar, Rakyat Terkapar



Oleh :  Salma Shakila


Gini amat ya hidup di negara dengan sistem kapitalis. Dulu waktu tarif dasar listrik naik, rakyat disuruh cabut meteran listrik. Ini harga minyak goreng naik, disuruh cara masak diganti dengan dikukus atau direbus. Lha kalau masak rempeyek mah, kalau dikukus atau direbus bisa jadi bubur kan. Karena memang teknik memasak yang salah. Ambyar...ambyar.... Para pejabat negeri ini koq tidak ada empatinya sama rakyat. Selain tak memberi solusi jitu, koq sering menyakiti rakyat begitu.


Terutama soal masalah minyak goreng, pakai analisis dari kacamata orang awam pun sudah terbaca kalau ada masalah. Diantaranya ada permainan harga dan penimbunan,  juga karena bahan baku dijual keluar negeri dan dialihkan untuk yang lain. Misal sehari sebelum pemerintah mencabut pemberlakuan HET minyak kemasan, minyak goreng di retail modern banyak yang kosong. Eh besoknya ketika pemerintah mengumumkan kalau harga dikembalikan pada harga pasar, minyak goreng ini berjejer rapi di toko retail modern dengan harga fantastis. Lha cuma jarak sehari saja, stok sudah sebanyak itu. Darimana? Apa nggak bisa gitu, stok yang dipajang dicicil biar kelihatan alamiah, biar tak menyakiti rakyat.


 Alih-alih melawan para mafia  minyak goreng yang mempermainkan harga dan stok minyak goreng pemerintah justru terkesan kalah dan membiarkan para mafia berpesta di atas penderitaan rakyat. Kemudian beredar kabar bahwa mafia minyak goreng tidak ada yang ada adalah rakyat yang menambah  stok minyak goreng di rumah-rumah mereka dan ibu-ibu yang tidak kreatif dalam cara masak yang selalu digoreng. Apa bisa itu membuat masalah minyak goreng sampai berbulan-bulan seperti ini?


=====


Ujung pangkal dari permasalahan ini adalah penerapan sistem ekonomi kapitalisme yang sangat memanjakan para pemilik modal untuk bisa menguasai SDA milik rakyat terlebih yang menyangkut hajat hidup orang banyak atau kebutuhan layanan publik. Para spekulan beraksi mempermainkan harga yang membuat rakyat menderita.


Karena ternyata walaupun Indonesia adalah penghasil CPO terbesar di dunia tapi ternyata produsen CPO ini tidak terintegrasi dengan produsen minyak goreng harus membeli CPO dengan harga sesuai pasar internasional. Inilah yang menyebabkan produsen minyak goreng enggan menjual minyak goreng dengan harga HET sesuai ketetapan masyarakat. Dan lihatlah  ketika penetapan harga dicabut stok minyak melimpah dengan harga sangat mahal.


Karena produksi CPO dan minyak goreng ini dikendalikan penuh oleh swasta maka mereka mudah saja untuk melakukan penimbunan. Dugaan adanya kartel harga pada komoditas minyak goreng menjadikan para pengusaha yang tergabung di dalamnya leluasa untuk menentukan harga. Padahal harga CPO intenasional sempat mengalami penurunan tapi harga minyak goreng tidak kunjung turun.


====


Untuk bisa melepaskan dari situasi dan berulangnya keadaan ini tidak bisa hanya sekadar menggunakan berbagai regulasi yang tak menyentuh akar masalah. Akar masalah sesungguhnya adalah kebebasan kepemilikan akibat memperlakukan sistem ekonomi kapitalisme. Dengan prinsip ini, siapapun bebas memiliki harta baik milik individu maupun umum. Maka dari itu sistem ekonomi kapitalisme memungkinkan seseorang memiliki apapun baik itu kepemilikan umum maupun kepemilikan individu. Karena memang sifat bawaan dari sistem ini sejak awal adalah rakus dan jahat.


Bisanya segelintir orang menguasai kepemilikan umum menjadikan mereka bisa mengeruk keuntungan yang besar di atas penderitaan rakyat karena memang produk yang mereka kuasai menyangkut hajat hidup orang banyak. Kemudahan penguasaan mereka menguasai lahan-lahan yang terkait dengan penguasaan hajat hidup orang banyak ini didukung dengan adanya globalisasi yang mengakibatkan lenyapnya berbagai hambatan, tarif,  beamasuk, pajak, hingga proteksi suatu negara dalam menjaga ekonominya.


Suasana semakin kacau akibat adanya kontrak jangka panjang yang pada awalnya diinvestasikan dalam saham, surat berharga sekarang beralih pada komoditas pangan. Sehingga komoditas pangan menjadi suatu yang banyak dicari yang mengakibatkan harganya melonjak tinggi.


====


Tentu jika kita berdiam diri maka situasi tidak ada berubah menjadi baik.  Maka tidak ada lain kita harus berganti sistem menuju sistem yang mampu menjamin kebutuhan rakyatnya yang tidak lain sistem itu adalah sistem Islam yang datang dari Allah Yang Maha Pencipta dan menguasai alam dan seisinya.


Sistem Islam teruji secara empirik dan historis menyejahterakan rakyatnya. Pengaturan dalam Islam yang disebut khilafah akan memposisikan dirinya sebagai periayah atau pengurus kebutuhan rakyat.


Untuk menjamin harga-harga kebutuhan pokok stabil, maka khilafah akan memastikan ketersediaan bahan baku dengan cukup dalam negeri juga ketersediaan lahan untuk kebutuhan produksi hingga distribusi. Khilafah tidak akan mengikuti mekanisme pasar internasional karena khilafah punya kedaulatan ekonomi yang kuat sehingga terkait keputusan ekonomi tidak terkait dengan negara lain.


Terkait dengan distribusi di pasar, khilafah tidak akan mematok harga. Karena pematokan harga dilarang dalam Islam.


Barang dan jasa dalam Islam akan mengikuti mekanisme pasar. Jika terjadi kelangkaan pada komoditas tertentu yang mengakibatkan kenaikan harga maka khilafah akan mensuplay barang yang didapat dari daerah lain yang surplus. Sehingga harga kembali stabil. Jadi dalam hal ini negara melakukan interpensi pasar agar harga menjadi stabil.


Selain itu khilafah akan meminta Qodi Hisbah untuk melakukan pemantauan sampai ke pasar-pasar untuk memastikan harga pangan dan lainnya sesuai harga pasar dan tidak memberatkan rakyat. Dengan demikian tidak ada celah bagi para spekulan untuk bermain di sektor distribusi barang dan jasa.


Iklim perekonomian dalam Islam berlaku sesuai Islam. Tidak akan ada politik transaksional antara pengusaha dan penguasa seperti yang terjadi pada sistem kapitalisme. Para penguasaha dalam Islam menyadari bahwa kepemimpinan yang harus dipertanggungjawabkan  di hadapan Allah.


Wallahu 'alam Bisshowab.

No comments:

Post a Comment

Adbox