Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, March 22, 2022

KALAU MAU BEBAS DARI BELENGGU OLIGARKI, TEGAKKAN KHILAFAH



Oleh: Ahmad Khozinudin

Sastrawan Politik


Sejumlah nama digadang-gadang akan dapat menyelamatkan masa depan bangsa ini. Dari Anies Baswedan yang berulangkali disebut sebagai Capres idola, tidak terlalu jauh dengan Jokowi yang pada mula menjadi capres juga sudah seperti 'Ratu Adil' yang dimitoskan akan menyelamatkan negeri ini, hingga nama Habib Rizieq Shihab.


Belakangan, Syahganda Nainggolan mengatakan hanya Habib Rizieq Shihab yang bisa menyelesaikan persoalan di negeri ini, khususnya terkait belenggu oligarki. Kalau ingin bebas dari oligarki, Habib Rizieq Shihab harus menjadi Presidennya. Demikian, ungkap Syahganda Nainggolan.


Namun, sebelum berhalusinasi lebih jauh tentang masa depan Indonesia, penulis ingin ungkap fakta rusaknya sistem demokrasi sekuler, yang menyebabkan semua skenario perubahan menjadi mentok. Penulis ungkapkan hal ini, agar Umat Islam tidak kembali kepada lubang yang sama, apalagi menjadi korban utopia demokrasi secara berulang-ulang.


Pertama, kalau bicara Presiden itu harus bicara partai. Sebab, tak mungkin menjadi Presiden tanpa berasal dari partai atau didukung oleh partai.


Partai politik, justru tempat berhimpunnya oligarki. Rizal Ramli menyebut dengan istilah peng peng, penguasa sekaligus pengusaha. Di Parpol, tempatnya peng peng.


Jadi, mustahil mencalonkan capres dengan kemampuan seperti apapun, kalau tidak direstui oligarki parpol. Keinginan memiliki capres pilihan rakyat, hanya mungkin terlaksana jika partai merestui. Jika tidak?  Wassalam.


Kedua, jika calon direstui partai maka capres harus tunduk pada kehendak partai. Enak saja mau ngurus negara suka suka sendiri, harus mendengarkan partai. 


Kalau tidak ada partai, tak mungkin lolos nyapres. Kalau tidak lolos nyapres, tak mungkin jadi presiden. Jadi, pada akhirnya semua presiden ada dibawah bayang-bayang partai.


Ketiga, jadi capres via partai saja tidak cukup. Harus memenangkan suara. Untuk memenangkan suara rakyat, wajib punya uang.


Nah, uang inilah yang dikuasai oligarki. Oligarki, nantinya bisa langsung bertransaksi dengan capres, atau melalui partai. Ujung-ujungnya, oligarki pula yang mengendalikan kekuasaan di negeri ini.


Karena itu, segera alihkan perjuangan dari sekedar dukung mendukung capres menjadi perjuangan yang memperjuangkan syariah Islam dan khilafah. Perjuangan syariah Islam dan khilafah, akan steril dari pengaruh oligarki disebabkan:


Pertama, tidak berkhalwat dengan sistem demokrasi, tidak perlu ikut pilpres, sehingga tidak perlu tunduk pada partai dan oligarki. Perjuangan syariah dan khilafah murni dengan dakwah, pemikiran dan politik, mencontoh perjuangan Rasulullah Saw yang berjuang menegakkan Islam di Mekkah dan akhirnya mendapatkan kekuasaan di Madinah.


Target perjuangan adalah dukungan umat dan ahlun nusyroh. Target ini dapat diraih dengan dakwah, kampanye setiap hari tentang syariah dan khilafah, tanpa harus menunggu musim Pemilu lima tahun sekali.


Kedua, perjuangan syariah dan Khilafah hanya terikat dengan kedaulatan syara' bukan kedaulatan rakyat. Sehingga, tak dapat di infiltrasi oleh pemikiran kufur demokrasi yang mengilfintrasi pemikiran umat Islam dengan sihir 'kedaulatan rakyat'.


Perjuangan ini tak butuh suara pemilu, tetapi suara nurani umat Islam yang menginginkan kembali kepada syari'at Allah SWT. Untuk memahamkan pentingnya kembali kepada Allah SWT dibutuhkan dakwah, bukan disuap dengan uang seperti saat Pemilu.


Ketiga, perjuangan syariah dan Khilafah mendapatkan kabar gembira dan janji kemenangan dari Allah SWT dan Rasul-Nya. Perjuangan seperti ini tidak membutuhkan kalender Pemilu, kemenangannya dapat datang setiap saat.


Dan saat perjuangan ini mendapatkan ujian, pengembannya qanaah karena tak merasa tertipu oleh sosok. Perjuangannya murni karena Allah SWT.


Masih banyak alasan lainnya, namun itu saja sudah cukup untuk menjadi alasan untuk segera meninggalkan demokrasi sekuler dan segera kembali kepada Islam, Syariah dan Khilafah. Bukankah apa yang penulis utarakan benar adanya? Bukankah, dalam benak dan hati sanubari pembaca, menyetujui pendapat penulis? []

No comments:

Post a Comment

Adbox