Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, February 6, 2022

Dua Belas Permintaan NU Khithah Atas Pilihan Kebijakan Ibu Kota Negara Baru



Reportase Kajian Pakar & Pernyataan Sikap Tentang Ibu Kota Negara Baru, Jum'at, 04 Februari 2022


NU Khithah sekali lagi menunjukkan peran penting dan strategisnya untuk bangsa dan umat di tingkat nasional dan global. Hal itu ditunjukkan oleh penyelenggaraan sebuah acara berjudul Kajian Pakar & Pernyataan Sikap Tentang Ibu Kota Negara Baru pada hari Jum'at, 04 Februari 2022, jam 19.30 sd 22.00 WIB. Acara online yang diselenggarakan secara offline di kantor Sekretariat NU Khithah, Waru, Sidoarjo, Jawa Timur dihadiri oleh para pimpinan & pengurus NU Khithah. Dihadiri pula oleh para tokoh, Alim Ulama,  masyayikh, habaib dari Aliansi Ulama & Tokoh Jawa Timur. Total yang hadir di Sekretariat NU Khithah sejumlah 42 orang terdiri dari para tokoh dan Ulama.


Acara yang berisi 3 agenda utama yakni kalimat Minal Ulama, Hasil Kajian Pakar dan Pernyataan Sikap itu mendapatkan respon dan antusiasme peserta dan penonton di berbagai kanal youtube antara lain KKNU 1926, Refly Harun, Mimbartube, Amazing Pasuruan, dan Ahmad Khozinuddin. Sampai dengan sekarang sejak reportase ini dibuat sudah dilihat kurang lebih sejumlah 110 ribuan viewer atau netizen yang menyaksikan acara tersebut. Jumlah ini akan terus bertambah dari hari ke hari. 


Acara yang dibuka sebagaimana tradisi warga Nahdliyyin dengan bacaan Ummul Kitab Surah Al Fathikhah oleh Al Mukarram Shohibul Fadhilah K.H. Suyuthi Thoha selaku Rais 'Aam Syuriah NU Khithah sekaligus pendiri dan Pengasuh PP. Mansyaul Huda Banyuwangi di ujung timur selatan selat Banyuwangi yang berdekatan dengan Australia. Pasca pembukaan dilanjutkan Sambutan oleh cucu Hadratus Syaikh K.H. Wahab Chasbullah salah satu Muassis dan pendiri NU, K.H. Agus Solachul 'Aam Wahib Wahab Chasbullah atau sering disapa Gus Aam selaku Ketua Umum NU Khithah yang menyampaikan maksud dan tujuan penyelenggaraan kegiatan keumatan ini.


Selain penyampaian tujuan acara, juga disampaikan ucapan syukur dan terima kasih secara khusus pada para pengurus NU Khithah dari berbagai daerah dan para pakar dari berbagai latar kompetensi keahlian yang turut hadir. Di antara para pengurus NU Khithah yang ikut bergabung hadir baik secara offline di kantor sekretariat NU Khithah maupun via zoom antara lain : K.H. Ghozi Wahib Wahab dari Jogjakarta, K.H. Hasan dari Banyuwangi, K.H. Malik dari Sidoarjo, K.H. Nurun Tajalla dari Sampang, Gus Mohammad Ali dari Sidoarjo, Gus Shofie dari Surabaya, Gus Andi dari Banyuwangi, K.H. Abdullah Munif dari Pasuruan, K.H. Mohammad Makmun dari Tulungagung, K.H. Achmad Fauzi dari Surabaya, Gus Abdul Razaq dari Sidoarjo, Gus Ishaq Mashuri dari Lasem, Gus Wachid Muin dari Mojokerto, K.H. Jakfar Shodiq dari Madura, K.H. Dr. Badruddin Subky dari Bogor, H. Rizky dari Jakarta, K.H. Khathath dari Jakarta, K.H. Dimyati dari Tulungagung, Gus Luthfi dari Jombang, Dr. H. Ahmad Badhawi Saluy dari Jakarta, Ustadz Mohammad Junaedi, Ustadz  Kartika, Ustadz Munif Maulana, dan Ustadz Abu Anas.


Sedang dari kalangan pakar yang menyampaikan hasil kajiannya antara lain : Dr. Rizal Ramli, Laksamana TNI AL Purn. Slamet Soebijanto, Laksamana TNI AL Tedja Adhie Purdijatno, Prof. Widi Agoes Pratikto, Prof. Daniel M. Rosyid, Chusnul Mariyah Ph.D, Dr. Abdullah Hehamahua, dan Drs. Sumarno M.Hum. mewakili Prof. Aminuddin Kasdi. Sedang kalimat hikmah minal Ulama disampaikan oleh Dr. H. Ahmad Badhawi Saluy dari Jakarta, K.H. Dr. Badruddin Subkhy dari Bogor, K.H. Khathath dari Jakarta dan K.H. Djakfar Shodiq dari Madura. Dari kalangan pakar dan Ulama yang turut hadir via zoom namun hanya ikut menyimak saja sesuai nama terlihat di papan zoom antara lain : K.H. Abdul Wahab Chasbullah dan Dr. H. Muhammad Hidayat Nur Wahid. Sedianya juga turut hadir para tokoh dan Ulama nasional sebagaimana disampaikan oleh Gus Aam antara lain : H. Yusuf Martak dari Jakarta, K.H. Wafi' Maimoen Zubair putra Mbah K.H. Maimoen Zubair dari Rembang, K.H. Thoha Yusuf Zakariya dari Bondowoso, K.H. Munahar Mukhtar dari Jakarta, H. Tamsil Linrung, dan H. Slamet Maarif. Namun sampai dengan acara selesai belum berkesempatan hadir.


Acara yang secara khidmat diikuti oleh sekitar 250 partisipan zoom dari dalam negeri (Aceh, Padang, Jakarta & sekitarnya, Bandung, Jawa Tengah, Rembang, Jawa Timur, Madura, dan berbagai daerah lain di seluruh penjuru tanah air) dan luar negeri (AS, Australia, Malaysia dan lain) itu dimulai dan diakhiri sesuai yang dijadwalkan. Di akhir NU Khithah menyampaikan 12 permintaan terkait kebijakan IKN baru yang telah diundangkan. Dua belas permintaan itu berisi dua belas perspektif sebagai dasar penolakan kebijakan IKN antara lain aspek historis, aspek keuangan negara, aspek ekosistem, aspek geologis, aspek kepentingan, aspek kepentingan asing, aspek pertahanan, aspek law making process, aspek keuangan syariah, aspek keharaman penjajahan asing, aspek tata kelola negara, dan diakhiri aspek pentingnya dan mengajak konsolidasi seluruh komponen negara dan tokoh masyarakat untuk benar benar mengedepankan kepentingan rakyat terutama menghadapi krisis ekonomi dan pandemi sebagai skala prioritas utama kebijakan negara. Pernyataan sikap itu dibacakan oleh Gus Wachid Muin sebagai Dhurriyat dari Hadratus Syaikh Mbah KH. Wahab Chasbullah. Acara diakhiri dengan doa penutup oleh Al Mukarram Shohibul Fadhilah K.H. Suyuthi Thoha.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox