Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, January 5, 2022

Mengulik Sejarah Blok Cepu, Pemilik Kandungan Minyak Terbesar




Endah Sulistiowati

Dir. Muslimah Voice


Sejarah salah satu ladang minyak tertua di dunia ini sebetulnya dimulai saat Belanda bercokol di Indonesia sekitar tahun 1870. Setelah berbagai pemindahan kekuasaan Blok Cepu pertama kali dieksplorasi oleh perusahaan minyak Royal Dutch/Shell DPM (Dordtsche Petroleum Maatschappij) sebelum Perang Dunia II. Dulu konsesi minyak di daerah ini bernama Panolan. Sumur Ledok-1 dibor pada bulan Juli 1893 merupakan sumur pertama di daerah Cepu. Setelah sempat dijadikan tempat pendidikan Lemigas (Lembaga Minyak dan Gas Bumi) tahun 1965, drama ladang minyak yang termasuk dalam cekungan Jawa Timur-Laut itu dimulai –tepatnya setelah pemerintah memberikan izin Technical Evaluation Study (TES) kepada Humpuss Patragas pada tahun 1990. Humpuss Patragas adalah perusahaan milik Tommy Soeharto, anak bungsu mantan Presiden Soeharto.


Dalam perjanjian tersebut, Humpuss Patragas memiliki izin untuk melakukan eksplorasi ulang di sumur-sumur tua yang sudah ditemukan minyaknya dan tempat-tempat baru yang belum ada sumur minyaknya. Namun karena keterbatasan dana dan teknologi saat itu, Humpuss Patragas tidak bisa melakukan penggalian lebih dalam, sehingga yang diambil adalah minyak-minyak yang berada di lapisan dangkal. Terbayang mendapatkan limpahan minyak, akhirnya Humpuss menggandeng Ampolex, perusahaan eksplorasi minyak dari Australia untuk bekerjasama –dengan perjanjian Ampolex mendapatkan 49 persen dan Humpuss masih menjadi operator Blok Cepu.


Pengeboran tidak juga dilakukan karena di tengah jalan Mobil Oil mengakuisisi Ampolex, sehingga sambil menunggu proses akuisisi rampung pengeboran pada tahun 1996 dihentikan. Drama berlanjut ketika Humpuss menjual seluruh sahamnya kepada Mobil Oil waktu krisis finansial melanda pada tahun 1998.


Setelah kegagalan tersebut kemudian ExxonMobil membeli hak eksplorasi lapangan Cepu, lalu dengan menggunakan resolusi tinggi melakukan seismik 3-D untuk pemetaan lapisan bawah permukaan. Berita mengejutkan terdengar ketika pada Februari 2001 Mobil Cepu Ltd –anak perusahaan dari ExxonMobil yang bekerjasama dengan Pertamina menemukan sumber minyak mentah dengan kandungan 1,478 miliar barel dan gas mencapai 8,14 miliar kaki kubik di lapangan Banyu Urip. Ini merupakan penemuan sumber minyak paling signifikan dalam dekade terkahir.


Tak berapa lama masalah kemudian muncul. ExxonMobil dan Pertamina terlibat dalam negosiasi yang lama dan panjang untuk pembagian dan pengerjaannya. Pada tahun 2006 akhirnya presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono memecat dewan direksi Pertamina dan menunjuk ExxonMobil sebagai operator utama. Sebuah kontrak perjanjian pengelolaan Blok Cepu selama 30 tahun dibuat dan ditandatangani. Komposisi penyertaan saham masing-masing 45 persen untuk ExxonMobil dan Pertamina serta 10 persen untuk pemerintah setempat dengan perincian 4,48 persen Bojonegoro, 2,18 persen Blora, 2,24 persen Jawa Timur dan 1,09 persen Jawa Tengah. (https://sphc.co.id/index.php/post/69/apa_itu_blok_cepu_?_dan_bagaimana_sejarah_berdirinya_blok_cepu_?)


Jadi sudah terbayangkan bagaimana luasnya wilayah Blok Cepu ini. Kenapa juga Blok Cepu begitu fenomenal di kancah internasional. Karena kandungan minyaknya melimpah dan keuntungan yang didapat pun meruah.


Blok Cepu memang mulai dieksplorasi sebelum kemerdekaan, tapi bukan berarti Blok Cepu adalah milik penjajah ataupun milik asing. Blok Cepu tetap milik masyarakat Indonesia karena posisinya jelas-jelas berada di Nusantara ini. Sehingga yang lebih berhak mendapatkan kemanfaatan dari hasil eksplorasi Blok Cepu ini adalah warna negara Indonesia.


Coba kita bayangkan keuntungan yang bisa diperoleh Indonesia jika Blok Cepu ini benar-benar dikelola oleh BUMN kita yaitu Pertamina! Bisa jadi kelangkaan BBM yang sering m menghiasi berita, ataupun keluhan masyarakat tentang tingginya harga BBM yang selangit tidak akan terjadi. Karena sudah tugasnya SDA yang ada dikelola oleh negara untuk digunakan sebaik-baiknya bagi rakyat sebagaimana yang termaktub dalam UUD 45 di pasal. Bahwa mendapatkan kesejahteraan adalah hak rakyat yang harus berusaha dipenuhi oleh negara. Karena kedudukan negara bukanlah sebagai korporasi yang memperjual-belikan kekayaan SDA, tapi negara adalah pelayan rakyat yang akan memberikan segala kemudahan dan menjamin terpenuhinya semua kebutuhan pokok termasuk BBM ini.


Apalagi jika merujuk pada luasnya wilayah eksplorasi Blok Cepu, kita bisa menghitung pendapatan kasar yang diperoleh Indonesia jika memberanikan diri untuk mengambil alih Blok Cepu. Bagaimana dengan asing? Asing cukup menjadi tenaga ahli yang digaji oleh negara Indonesia, artinya mereka digaji dan menjadi pekerja saja bagi Luasan Indonesia. 


Wilayah kerja pertambangan Blok Cepu keseluruhan adalah 919,19 km persegi –dengan perhitungan 624,64 km persegi di Kabupaten Bojonegoro, 255,60 km persegi di Kabupaten Blora dan 38,95 km persegi di Kabupaten Tuban. ExxonMobil memastikan Blok Cepu bisa menghasilkan minyak mentah 170.000 barel per hari, dan memberikan penghasilan 4 juta dollar AS per hari kepada pemerintah, dengan asumsi harga minyak mentah 35 dollar per barel.


Total cadangan minyak di Blok Cepu menurut konsultan dari Amerika mencapai 2 miliar barel. Perlu diketahui 25 persen sumber daya alam yang tak dapat diperbaharui berupa minyak yang diambil dari bumi Indonesia adalah minyak-minyak yang berada di lapisan dangkal, salah satu ladang yang bernama Blok Cepu ini dilakukan pengeboran lebih dalam.


Bagaimana masih ikhlas-ikhlas saja jika Blok Cepu terus dieksplorasi asing?

No comments:

Post a Comment

Adbox