Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, November 19, 2021

Sitang Menjerit

 


Oleh: Azizah Huurun'iin


Indonesia kembali terluka. Ditengah pandemi yang masih naik turun melanda, Allah menghadirkan ujian untuk belahan Indonesia yang dijuluki wilayah hijau.


Sitang, Kalimantan Barat. Kota indah yang berbatasan dengan Sungai Kapuas, tengah berduka. Pasalnya banjir bandang melanda satu kota, menenggelamkan segalanya. Para penduduk akhirnya tinggal dipengungsian dataran tinggi.


Banjir tersebut tak kunjung surut meski tiga pekan terlewat, dan sudah terhitung hampir satu bulan banjir mengungkung Sitang. Penduduk kota mencoba bersabar, meski ditengah bencana seperti itu, minimnya perhatian dari pemerintah pusat seringkali membuat mereka harus bersabar menahan lapar dan jengah dengan kondisi pengungsian yang penuh.


Fokusnya masyarakat sekarang adalah bagaimana agar bisa bertahan hidup ditengah banjir melanda dan seharusnya fokus pemerintah adalah menanggulangi kebutuhan serta memberikan solusi permanen atas bencana banjir.


Tak sekali dua kali, banjir melanda Indonesia. Dan sepanjang 50 tahun terakhir selain Jakarta yang selalu menjadi sungai setiap tahunnya, kasus Sitang ini adalah kasus terbesar, bahkan dibarengi dengan banjirnya kec. Sukaresmi.


Namun mata pemerintah masih belum menjangkau ke arah mana solusi sempurna untuk permasalahan negara ini. Bahkan kali ini, pemerintah pusat tampak abai, dan menganggap enteng. Buktinya bapak negara sibuk bersepeda motor ria, ketimbang berusaha mencari cara agar bisa mengunjungi kota yang terkena bencana.


Penyebab banjirpun sejak dulu adalah hal yang sama. Apalagi pula Kalimantan yang penuh akan kekayaan alamnya, maka para pengusaha swasta berebut menancapkan perusahaan disana. Kalau dilihat dari petanya, kota Sitang diapit oleh banyak lahan sawit. Juga banyaknya bangunan infrastruktur dan pemukiman menyebabkan tergusurnya lahan hijau. Pun karena itu, daerah aliran sungai meluap kearah yang salah saat hujan. Pepohonan untuk menampung curah hujan juga telah ditebang oleh pengusaha tak berhati yang melakukan tebang pilih lalu meninggalkan tanpa menanam kembali.


Sungai Kapuas meluap. Marah atas kedangkalan berpikir masyarakat yang egois, menebang ataupun membangun lahan tanpa memikirkan efek lain dari apa yang mereka lakukan. Kota Sitang yang terkena batunya. Banyak fakta telah ditemukan kalau perusahaan ilegal kerap menebang pohon, atau membangun dan dengan seenaknya pula membakar lahan.


Solusi yang pemerintah berikan? Hanya sekotak bantuan berisi beras, mie dan minyak. Dan beberapa kalimat pemanis tentang kesabaran, yang sebenarnya hanya sebuah pencitraan.


Kalau pemerintah benar benar berpacu pada kesabaran, seharusnya juga dibekali solusi yang memuaskan. Pasalnya sistem kapitalis-demokrasi yang mencengkram Indonesia tak membiarkan, kalau tak ada permainan uang. Mau selama apapun banjir yang menimpa di kota Sitang atau kec. Sukaresmi, atau separah apapun. Pemerintah tak kunjung beranjak. Karena keuntungan yang didapat pada rakyat hanya saat pemungutan suara, saat janji manis diumbar sebagai eksistensi.


Maka, negeri pertiwi kita butuh koreksi agar menghasilkan negeri yang damai abadi, tanpa kekacauan atau kekecewaan atas pemerintah yang dipilih sendiri.


Dua sisi yang salah. Sistem dan sosok memimpin. Bukan menyalahkan hanya menyampaikan kenyataan. Prestasi apa yang sistem kapitalis-demokrasi berikan? Yang hebat hanya, bagaimana kesenjangan sosial semakin melebar.


Sepatutnya, pemerintah justru mengevaluasi diri, dengan adanya bencana seperti ini. Artinya sang Pencipta masih menegur semua kerusakan alam yang terjadi. Jika Allah sudah membiarkan, negeri ini akan semakin hancur melebihi bencana yang datang akhir-akhir ini.


Bagaimana Islam dengan lembutnya memberi solusi. Cara menata kekayaan alam negeri yang melimpah agar tidak jatuh ketangan yang rakus, negara mengelola bukan swasta. Dengan itu pembagian hasil akan didedikasikan untuk rakyat saja. Bukan individu. Islam sudah mempunyai solusi berabad-abad lalu, tinggal bagaimana pemerintah mau mengganti sistem dan terhentak dari segala kesalahan dalam memimpin negeri ini.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox