Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, November 22, 2020

Kebebasan Berekspresi Antara Teori dan Realita

 


Istnaini Afrida

Presiden Perancis Emmanuel Macron menuai kontroversi dan kecaman dari seluruh umat Islam di dunia. Pasalnya, Macron mengatakan tidak akan melarang percetakan pembuatan karikatur Nabi Muhammad Saw. Penghinaan dan pelecehan terhadap suri tauladan umat Islam yaitu Rasulullah tidak hanya terjadi sekali, namun pernah terjadi tepatnya pada tahun 2015, terjadi serangan di kantor  surat kabar satir Charlie Hebdo yang menewaskan 12 orang. Penyebab serangan tersebut dikarenakan penerbitan kartun yang dianggap sebagai penghinaan terhadap agama Islam. 


Macron menekankan akan terus membela kebebasan untuk menulis, berfikir, menggambar di negaranya. Perancis menjunjung tinggi Liberte, Egalite, Fraternite yang memiliki arti kebebasan, persamaan, persaudaraan. Macron dalam wawancaranya menyampaikan bahwa pembuatan kartun Nabi Muhammad merupakan sebuah kebebasan berekpresi yang boleh dilakukan siapa pun. Setelah pernyataan yang melukai umat Islam, hastag #BoycottFrance #BoycottFranceProducts #MacronGoneMad menghiasi twitter dan menjadi trending topik dunia. Negara mayoritas penduduk muslim di seluruh dunia diantaranya Turki, Arab, Afrika, timur tengah bahkan Indonesia ramai-ramai bersuara untuk melakukan pemboikotan terhadap produk Perancis dan menuntut permintaan maaf Macron. 


Kebebasan berekspresi memang menjadi bagian dari sistem kapitalisme liberalisme yang memberikan nilai-nilai kebebasan bagi umat manusia untuk bebas berpendapat, memeluk agama, hidup, bertempat tinggal dan lain-lain. Kebebasan tersebut menjadi permasalahan baru yang muncul ditengah-tengah masyarakat. Ketika manusia diatur oleh peraturan yang bukan berasal dari Sang Pencipta akan berdampak negatif pada kehidupan manusia seluruhnya, misal munculnya kesenjangan sosial, pelecehan agama, penghinaan terhadap ajaran agama, kesejahteraan yang tidak merata dan sebagainya.


Hari ini umat mampu melihat bahwasanya ketika seseorang anti dengan orang berkulit hitam disebut Rasisme, ketika membenci Yahudi disebut anti-semit. Akan tetapi, ketika seseorang menyerukan kebenciannya kepada Islam disebut kebebasan berekspresi. Dalam sistem kapitalisme memiliki standar ganda dalam pelaksanaannya, mereka akan mendukung ketika seseorang melakukan penghinaan terhadap Islam dengan tujuan untuk meghancurkan Islam dan akan menghukum bahkan mempersekusi ketika umat Islam berusaha untuk bangkit dari keterpurukan.


Umat Islam mengalami kemunduran dalam ekonomi, akhlak, politik, kesehatan, hingga pendidikan. Bahkan Macron, menyatakan seluruh agama yang mayoritas muslim sedang mengalami krisis. Kenyataan pahit yang harus diterima bahwa umat Islam mengalami kemunduran dikarenakan sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadits dicampakkan dan dijauhkan dari kehidupan. Terbukti, banyak diantara kita yang sudah merasa nyaman dengan hukum warisan Barat ketimbang hukum yang pernah diterapkan oleh Rasulullah Saw. Pernyataan-pernyataan yang memojokkan Islam menganggap bahwa hukum Islam tidak dapat diterapkan di zaman sekarang, karena sudah ketinggalan zaman dan sudah tidak relevan di kehidupan modern.

Sebagai seorang muslim yang mengaku bergama Islam sudah sewajarnya bukti keimanan kita kepada Allah dan Rasulullah diwujudkan dalam ketundukan kepada hukum Allah. Konsekuensi terhadap keimanan adalah patuh, taat akan perintah dan meninggalkan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat yang diturunkan. Waktunya Islam bangkit dengan Islam untuk menuju perubahan yang hakiki dengan aturan yang berasal dari Allah.[]


#PresidenPrancis #CintaNabi





No comments:

Post a Comment

Adbox