Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, November 12, 2020

ISLAM MENJAMIN KEBEBASAN BERPENDAPAT

 



Oleh : Rahayu Kushartati, S.H.

Pemerhati Umat, Komunitas Perempuan Hijrah Sorowako


Dikutip dari Merdeka.com - Lembaga Indikator Politik Indonesia mencoba memotret kondisi demokrasi di Indonesia melalui survei opini publik. Salah satu yang menjadi variabel yakin hak menyatakan pendapat. Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Burhanuddin Muhtadi mengatakan, pihaknya menanyakan setuju tidaknya responden dengan adanya pernyataan bahwa warga makin takut dalam menyatakan pendapat."Hasilnya 21,9 persen sangat setuju; 47,7 persen agak setuju, 22 persen kurang setuju; dan 3,6 persen tidak setuju sama sekali," tutur Burhanuddin saat diskusi virtual, Minggu (25/10).


Pertanyaan selanjutnya, apakah responden setuju dengan pendapat bahwa warga makin sulit berdemonstrasi. Hasilnya adalah 20,8 persen sangat setuju; 53 persen agak setuju; 19,6 persen kurang setuju; dan 1,5 persen tidak setuju.


"Kemudian, setuju tidak bahwa aparat makin semena-mena menangkap warga yang berbeda pilihan politik dengan penguasa. 19,8 Persen sangat setuju; 37,9 agak setuju; 31.


Indikator pun menjumlahkan hasil survei sangat setuju dengan agak setuju. Hasilnya, mayoritas setuju bahwa kebebasan sipil mulai terganggu. "Survei menunjukkan meningkatnya ancaman terhadap kebebasan sipil. Mayoritas publik cenderung setuju atau sangat setuju bahwa saat ini warga makin takut menyuarakan pendapat 79,6 persen, makin sulit berdemonstrasi atau melakukan protes 73,8 persen, dan aparat dinilai semena-mena menangkap warga yang berbeda pandangan politiknya dengan penguasa 57,7 persen," terang Burhanuddin.


Survei tersebut dilakukan pada 24 September hingga 30 September 2020 dengan mengandalkan panggilan telepon karena pandemi Covid-19. Metode yang digunakan adalah simple random sampling dengan 1.200 responden yang dipilih secara acak berdasarkan data survei tatap muka langsung sebelumnya pada rentang Maret 2018 hingga Maret 2020.Adapun margin of error sekitar 12.9 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen. Sampel berasal dari seluruh provinsi di Indonesia yang terdistribusi secara proporsional.


Penangkapan sejumlah tokoh dan aktivis dakwah yang dalam rangka menasehati pemimpinnya sebagai bukti bahwa hasil survei diatas bukan abal-abal. Hal ini juga menunjukkan semakin represifnya rezim ini. UU ITE yang ditelurkan sejatinya sebagai alat memperlancar sikap represif dan otoriter penguasa. Dengan dalih memberantas radikalisme, tindakan ini bisa dijadikan alat untuk membungkam sikap kritis terhadap pemerintah dan berbagai kedzaliman yang dilakukan oleh negara-negara penjajah, khususnya di negeri-negeri Islam.


Tindakan sewenang-wenang pemerintah juga akan menambah daftar kriminalisasi terhadap ajaran, simbol, dan dakwah Islam. Hanya karena memakai berpenampilan rapi, seorang muslim dicurigai sebagai anggota kelompok radikal. Hanya karena menyuarakan syariah dan khilafah dianggap sebagai ancaman. Propaganda besar-besaran seputar radikalisme akan berpotensi menjadi mosterisasi dan kriminalisasi yang berdampak pada umat Islam. Hal itu akan membuat umat Islam merasa takut untuk sekedar ikut pengajian, misalnya, karena takut dicap radikal.


Didalam Islam, nasehat-menasehati adalah merupakan suatu kewajiban. Ibarat sebuah kapal besar ketika ada orang yang hendak melubangi kapal tidak kita hentikan maka kapal dan seluruh isinya akan tenggelam. Maka menjadi kewajiban bagi kita semua ketika kita melihat suatu kemungkaran dan kedzaliman untuk mencegahnya secara langsung atau menasehati sang pembuat kemungkaran dan kedzaliman. 


Sesungguhnya Islam diturunkan agar menjadi rahmat(an)lil ‘alamin. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Anbiya [21] : 107 yang artinya,”Tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam”.


Rahmat(an) lil ‘alamin itu menjadi sifat dari Islam secara keseluruhan yaitu akidah, syariah dan hukum-hukumnya termasuk khilafah, jihad, hudud, dan lain-lain. Karena itu rahmat(an) lil ‘alamin secara sempurna hanya akan terwujud ketika Islam secara keseluruhan diterapkan secara nyata ditengah-tengah kehidupan. Penerapan Islam secara menyeluruh itu tidak lain melalui Khilafah ar-Rasyidah ‘ala minhaj an Nubuwwah. Dan ketika itu terjadi maka keberkahan akan benar-benar meliputi negeri dari segala sisi. Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al-A’raf [7]:95,”Jika saja penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi..”


Wallahu a’lam bi ash shawab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox