Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, November 16, 2020

HARISY PULANG: Mengapa Rakyat Riang Rezim "Meriang"?





Endah Sulistiowati

(Dir. Muslimah Voice) 


Pojok-aktivis.com - Harisy. Bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November 2020, sekitar pukul 09.00 Harisy tiba di bandara Soekarno-Hatta. Jelang kepulangan beliau sampai hari H animo masyarakat sangat besar sekali. Bahkan beritanya menghiasi head line media offline maupun online. 


Dari berbagai video yang viral, massa yang berpakaian putih-putih menyemut di sisi jalan yang akan dilalui Harisy dari bandara menuju markas FPI di Petamburan, Jakarta. Sembari bershalawat, massa di berbagai tempat tersebut mengibarkan liwa dan rayah. Tampak sangat semarak. Sambutannya bak pemimpin yang benar-benar dirindukan rakyatnya. 


Dari mimik wajah massa (yang teridentifikasi bukan hanya dari FPI) yang tampak dari banyak video pendek yang viral, semua tampak riang gembira menyambut tokoh umat yang berhasil memimpin jutaan massa dalam Aksi Bela Islam 212 tersebut di Jakarta pada 2016. Dimana setelahnya berbagai kasus menjerat beliau, hingga beliau harus hengkang sementara dari Indonesia. 


Disisi lain berbagai informasi negatif juga menghiasi kepulangan beliau. Bahkan tersebar informasi bahwa kasus yang menjerat beliau akan dibuka kembali. Inilah yang mengusik kesadaran umat Islam, karena rezim justru menunjukkan sikap perlawanan. Hal tersebut tercermin dari statemen-statemen yang dilontarkan dari pihak istana.


Gambaran uraian diatas setidaknya ada tiga permasalahan yang perlu dibahas dalam tulisan ini, yaitu: 


(1) Bagaimana pengaruh sepak terjang Harisy dalam dunia politik pemerintahan di Indonesia?


(2)  Bagaimana dampak kepulangan Harisy terhadap rezim penguasa dan umat Islam di Indonesia dalam penegakan hukum dan keadilan?


(3)  Bagamana strategi umat Islam dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar di bawah kepemimpinan Harisy?


/Pengaruh Perlawanan Harisy Terhadap Rezim/


Kepulangan Harisy setidaknya mengingatkan kita pada kasus Ahok 4 tahun silam tentang penistaan Al-Qur'an surat Al-Baqarah ayat 51. Pada akhirnya menyeret Buni Yani yang mengupload vidio Ahok ke penjara. Setelah sementara itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan video Ahok yang menyinggung surah Al-Maidah 51 saat berbicara di Pulau Seribu adalah penistaan agama. Setelah melakukan kajian, MUI menyebut ucapan Ahok memiliki konsekuensi hukum.


Fatwa MUI itu membuat sejumlah umat Muslim juga melaporkan Ahok ke polisi. Mereka menganggap Ahok telah melakukan penistaan agama melalui kata-katanya. Salah satunya Front Pembela Islam (FPI), organisasi bernaungnya Harisy sebagai Imam Besar. 


Di bawah kepemimpinan Harisy, FPI menjadi garda terdepan untuk meminta aparat kepolisian mengusut tuntas kasus tersebut. Mereka menggelar demo di depan Balai Kota DKI Jakarta pada 14 Oktober 2016 lalu. Merasa tidak ditanggapi, mereka lantas mengumumkan akan menggelar Demo lanjutan, aksi ini diberi nama Aksi Bela Islam (ABI) jilid II, yang digelar 4 November 2016 lalu, hingga ABI jilid III yang dikenal sebagai Aksi 212 yang sangat fenomenal, hingga menggerakkan jutaan umat Islam berkumpul di Monas dengan satu suara, satu tuntutan, satu kepemimpinan.


Aksi heroik inilah yang menyebabkan beberapa tokoh umat Islam harus merasakan dinginnya jeruji besi, dikriminalisasi, dipersekusi, hingga terkesan sengaja dicari-cari masalahnya agar bisa dijerat oleh Undang-undang. Harisy sendiri sepanjang 2015 hingga 2017, pernah tujuh kali dilaporkan ke polisi. 


Harisy ini menambah daftar panjang jumlah orang-orang yang melakukan perlawanan rezim. Sehingga dengan full power dukungan umat terhadap Harisy mampu membuat rezim harus berpikir keras untuk menaklukkan Harisy ini. 


Lantas apa yang sangat menakutkan rezim hingga terkesan rezim seperti menghalang-halangi kepulangan Harisy? Bahkan terkesan membiarkan informasi negatif terhadap Harisy terus berkembang.


Setidak ada beberapa poin yang bisa ditarik benang merah atas penolakan rezim terhadap Harisy, yaitu:


1) Kemampuan Harisy memimpin pergerakan umat saat ABI I,  II,  III,  dan juga Aksi 212 yang menyita perhatian dunia. Setidaknya dari hal tersebut Harisy memiliki nilai tawar politik yang cukup tinggi dan tidak bisa dipandang sebelah mata. 


2) Rezim panik jika Harisy ada ditengah-tengah pendukungnya akan melakukan revolusi, sebagaimana yang didengungkan media. Karena bagaimanapun rezim masih butuh untuk mempertahankan kekuasaannya. 


3) Pengaruh Harisy yang dipandang kuat cukup berbahaya bagi rezim jika sampai digunakan oleh lawan politiknya untuk mengambil alih kekuasaan. Sebagaimana ditengarai ada dukungan Harisy terhadap PS saat Pilpres tahun 2019 lalu.


Setidaknya umat Islam masih menjadi umat terbesar di negeri ini. Suaranya sangat dibutuhkan demi melenggang dan melanggengkan kekuasaan. Jika semua umat sadar sebagaimana Harisy dan pengikutnya atas ketidak adilan yang ditunjukkan oleh rezim, dan mereka menuntut sendiri kepada rezim, bisa dipastikan rezim akan kebakaran jenggot. Jadi rezim pun butuh kepastian bahwa tidak ada perlawanan dari umat Islam.


/Kedatangan Harisy Semakin Menunjukkan Kepanikan Rezim/


Awal Oktober tahun ini bertepatan dengan bulan Rabiul Awal kelahiran Rasulullah SAW umat dikejutkan dengan ulah Presiden Prancis yang membela Charlie Hebdo atas kasus penghinaan Nabi Muhammad atas nama kebebasan. Kemudian penangkapan aktivis dakwah Gus Nur atas tuduhan pelanggaran UU ITE, sebelumnya telah menjerat Ali Baharsyah dan Despianoor. 


Sebelumnya, di bulan Muharram atau Agustus 2020, terjadi berbagai persekusi terhadap tokoh-tokoh umat Islam pasca diputarnya film fenomenal JKDN di beberapa daerah. Merupakan bukti bahwa umat Islam tengah berada pada posisi lemah, umat butuh perisai yang melindungi mereka, memperhatikan kebutuhannya, dan menjamin hidupnya.


Hingga saat ini kepulangan Harisy, ibarat musafir menemukan oase, Harisy sedikit memberikan kesejukan. Umat seakan melihat tumpuan yang bisa menjadi sandaran dalam memperjuangkan haknya. Umat merindukan pemimpin yang akan memberikan pembelaan-pembelaan. 


Namun kesejukan ini tidak akan bertahan lama jika kita berpangku tangan. Umat akan kembali dihadapkan pada kondisi riil, bahwa umat tengah terpuruk. Umat harus melanjutkan perjuangan. Karena pasti rezim tidak akan tinggal diam. 


Lihat saja, umbaran cemoohan dan hinaan berhamburan dari mulut-mulut buzer rezim. Mereka bebas bersuara tanpa takut jeratan hukum. Umat harus memahami kondisi ini. Bisa jadi kedepan jalan perjuangan semakin terjal. Umat harus mampu bermain cantik tanpa membuat keruh air dipermukaan. 


Umat harus benar-benar sadar politik dan menajamkan kepiawaian dalam menangkap fakta maupun data. Sehingga mampu mengolahnya dengan benar, agar mampu terhindar dari jerat rezim yang kian masif. 


/Bersama Harisy, Umat Berjuang Tegakkan Khilafah/


Lebih dari 96 tahun, umat tidak memiliki pegangan. Sejak Khilafah Islamiyah dihilangkan eksistensinya pasca PD I atas konspirasi global negara-negara Eropa yang dipimpin Inggris pada saat itu.


Sejak Khilafah diruntuhkan, mulailah penghinaan, penderitaan bahkan darah tertumpah atas umat Islam di dunia terjadi silih berganti. Makin kesini umat semakin sadar, bahwa umat membutuhkan Khilafah, yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Rasulullah SAW.: 


انما الامام جنة يقاتل من ورائه و يتقى به


Artinya: "Imam (Khalifah) itu laksana perisai. Kaum Muslim diperangi dibelakang dia dan dilindungi oleh dirinya." (HR. Muslim) 


Dengan kata lain, Khalifah adalah pelindung sejati umat. Apa yang disabdakan Rasulullah SAW telah dibuktikan dalam sejarah, ketika Khalifah Al Mu'tashim Billah menaklukkan kota Amuriyah (Turki), kota terpenting bagi imperium Romawi saat itu, selain Konstantinopel. 


Al Qalqasyandi dalam kitabnya, Ma'atsir Al Inafah, menjelaskan salah satu sebab penaklukan kota Amuriyah pada tanggal 17 Ramadhan 223 H. Diceritakan bahwa penguasa Romawi telah menawan wanita mulia keturunan Fathimah ra. Wanita itu disiksa dan dinistakan hingga menjerit meminta pertolongan. Berita tersebut didengar Al Mu'tashim, Khalifah saat itu sedang berada ditempat tidurnya, Ia bangkit seraya berkata, *"Aku segera memenuhi panggilanmu."*


Bagaimana penguasa sekarang? Alih-alih melindungi warganya, justru mereka sibuk mempersekusi orang-orang yang berbeda dengannya. Kekuasaan dan undang-undang beralih fungsi menjadi alat gebuk untuk mempertahankan kekuasaan. Inilah yang terjadi pada Harisy, hingga dia lebih dicintai pengikutnya daripada pemimpin negeri ini. 


Semoga saja umat Islam diseluruh dunia segera memiliki Khilafah, yang memiliki Khalifah sebagaimana Al Mu'tashim Billah. Khakifah yang akan nengayomi umat Islam, melindungi dan menjamin kehidupannya. Menyatukan berbagai negeri-negeri muslim dan tentu saja menjaga kehormatan kaum muslimin serta menolong dari ketertindasan. 


Hanya saja umat harus sadar, tidak cukup menunggu tegaknya Khilafah seraya berdoa. Diperlukan upaya dan perjuangan sungguh-sungguh umat Islam se dunia untuk menegakkan Khilafah 'alaa minhaj an nubuwwah, agar segera terwujud kembali di muka bumi ini, tentu saja dengan izin Allah SWT.


Hari ini umat Islam berharap pada Harisy. Umat berharap Harisy mampu menjadi pemimpin mereka untuk mendobrak kedzaliman. Umat berharap Harisy tidak goyah dengan tipu daya rezim sehingga mampu tsiqoh dijalan kebenaran sebagaimana para pemimpin-pemimpin terdahulu. Sehingga institusi Islam mampu tegak di muka bumi ini. FainsyaAllah. 


Untuk itu Harisy, tokoh-tokoh Islam dan umat harus terus bersinergi. Mengambil benang merah permasalahan umat, yaitu tidak diterapkannya Islam dalam kancah kehidupan. Kemudian jika masalah sudah ditentukan, baru kemudian menentukan jalan untuk menyelesaikan masalah. Tentu saja semua butuh kerja keras, kesabaran, istiqomah, dan juga pengorbaan. Hingga akhirnya Islam bisa Jaya dan tegak kembali. 


#LamRad

#LiveOppresedOrRiseUpAgaints

No comments:

Post a Comment

Adbox