Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, November 1, 2020

Ekspresi Cinta Hakiki di Momentum Maulid Nabi SAW

 



Oleh: Zulaikha (Mahasiswi IAIN Jember dan Aktivis Muslimah)


pojok-aktivis.com - Pandemi Covid-19 bukanlan alasan bagi kaum muslimin untuk merayakan hari Maulid Nabi Muhammad SAW 1440 Hijriyah. Sebagai bentuk kecintaan dan mengenang kembali hari penting dalam sejarah Islam yakni hari lahirnya rasulullah yang mulia, umat muslim di seluruh penjuru dunia ikut menyuarakannya, tak terkecuali Indonesia. 


Tahun ini perayaan maulid nabi di indonesia khususnya sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Perayaan maulid nabi kali ini sangat megah dengan mengangkat tema “Cinta Nabi SAW, Tegakkan Syari’ah, Wujudkan Keadilan, Lenyapkan Kedzaliman” yang diselenggarakan oleh tim Cinta Nabi Official tanggal 29 Oktober kemaren pukul 9.00 - 12.00. dikutip dari kanal resmi Cinta Nabi official sebanyak 70000 peserta dari Sabang hingga Merauke tergabung dalam acara yang disiarkan langsung Melalui aplikasi zoom, YouTube dan mex bazz ini.


Dalam acara ini hadir beberapa pembicara dari kalangan Pakar Intelektual dan Ulama. Acara dibuka dengan opening speach oleh KH. Rokhmat S. Labib dengan memaknai cinta kepada Rosulullah.

“Cinta Nabi ialah mengikuti syariat Nabi secara kafah. Tanpa kecuali, tanpa nanti.”


Setelah itu, acara dilanjut dengan pemutaran video yang menayangkan kehidupan setelah Rosulullah wafat. Kehidupan yang umatnya tidak lagi mempedulikan syariat dan senantiasa bermaksit.


Acara dilanjut dengan Talksow yang dipandu oleh Ustadz Karebet Widjajakusuma, MA dengan pantun pembukaan “Bunga Mawar Bunga Melati, Cinta Nabi Tanpa tapi Tanpa Nanti”. Turut hadir secara langsung dalam Talkshow dua Narasumber Nasional yaitu H. Ismail Yusanto dan KH. Rokhmat S. Labib.


Dalam Talkshow, H. Ismail Yusanto menyampaikan sudah sangat kasat mata kedzaliman dan ketidakadilan hari ini, dalam perkara yang sama tetapi dihukumi secara berbeda, hukum tumpul pada kawan dan tajam pada lawan. Pangkal dari semua ini adalah korporatokrasi, berbuat sesuatu demi kepentingan dirinya tidak ada lagi kepentingan rakyat. Maka tatkala menerapkan hukum buatan manusia, yang terjadi adalah ketidakadilan dan kedzaliman. Semestinya kedaulatan tidak berada di tangan rakyat tapi di tangan Allah. Pemimpin mestinya memakai aturan terbaik yakni aturan penciptanya.


Disela Talkshow juga ditayangkan testimoni Tokoh dari kalangan pakar intelektual dan ulama. Testimoni yang pertama disampaikan oleh DR. Ichsanuddin Noorsy, BSC, SH, MSI sebagai pakar Ekonom Nasional. Beliau menjelaskan bahwasannya Nabi Muhammad SAW memang terbukti menjadi pemimpin yang besar dan yang paling berpengaruh di dunia yang awalnya hanya diikuti oleh 4 orang, sekarang berjumlah milyaran. Karakter khas Rasulullah sebagai seorang pemimpin adalah tegas dan jelas dalam mengambil keputusan. Dan hal terpenting bagi seorang pemimpin adalah senantiasa mewujudkan segala pemikirannya dalam tindakan, bukan omong kosong atau hoax. Bukan seperti pemimpin saat ini yang penuh kebohongan.


Disusul dengan testimony dari Prof. DR. Suteki, S.H., M.Hum sebagai Guru Besar dalam bidang Hukum. Beliau memaparkan pentingnya menolak kedzaliman yang terjadi di negeri ini dengan melakukan amar makruf nahi munkar (Dakwah). Dan merupakan hal yang wajar jika dalam dakwah akan banyak rintangan dan jalan terjal, karena itu semua pasti dilalui. Oleh karena itu, Bliau mengajak seluruh umat islam untuk mencintai nabi dan berjuang menegakkan syariat agar cahaya peradaban Islam terus bersinar. Dan islam akan tetap jaya baik di Indonesia maupun di dunia.


Selanjutnya testimony dari kalangan Ulama yang diwakili oleh KH. Thoha Cholili sebagai Pengasuh Ponpes Al Khililiyah Madura. Dalam testimuninya beliau menyampaikan bahwa perayaan Maulid Nabi ini bukan hanya luapan kegembiraan kaum muslim atas lahirnya Rasulullah muka bumi, tapi bagaimana mengembalikan semangat juang menegakkan Syariah Islam seperti yang Rasul dicontohkan. 


Beliau juga menyeru kepada seluruh umat Islam untuk menunjukkan Ghiroh Islam kepada para penghina agar mereka mengetahui bahwa umat islam tidak hanya diam saat agamanya dihina. Dengan menunjukkan bahwa Islam adalah ideologi dan jalan hidup sebagai wujud penghambaan kepada Allah secara utuh, sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah SAW. Seandainya Khilafah tegak di bumi, maka penghinaan terhadap agama manapu tidak mungkin terjadi lagi.


Testimoni terakhir disampaikan oleh Wakasekjen Majelis Ulama Indonesia yaitu Najamudin Ramli. Beliau menyampaikan harapan dalam momentum peringatan Maulid Nabi SAW kali ini menjadi momen bagi umat Islam Indonesia agar memiliki sikap tegas dan tidak setuju dengan pranata-pranata kedzaliman yang ada di negeri ini.


Acara ini ditutup oleh Kyai Haji Yasin Muthohar yang memimpin doa bersama agar umat Islam kuat membuktikan cintanya kepada Rasulullah tidak hanya berhenti pada motivasi dan kata-kata Cinta Semata dan dilanjutkan dengan kesimpulan bahwa Cinta Nabi Cinta Syariah, memiliki satu arti yaitu dengan mewujudkan keadilan di Indonesia berkah. Cinta Nabi Cinta Sejati.


Kesimpulan akhir dalam event Maulid Akbar Online disampaikan oleh Ust. Karebet sebagai host. Bahwasannya ada dua hikmah dalam momen Maulid Nabi SAW ini adalah yang pertama, mencintai Rasul SAW tidak sekadar mencintai tapi mempraktikkan apa yang diperintahnya. Kedua, berupaya mengimplementasikan ajaran Islam yang akan menolak kedzaliman dan mewujudkan keadilan dalam aktivitas dakwah amar makruf nahi munkar.


Wallahu'alambishawab.

#MaulidNabi

No comments:

Post a Comment

Adbox