Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, November 12, 2020

AADP alias Ada Apa Dengan Pompeo

 


Oleh : Umi Rizkyi 

Komunitas Setajam Pena


Akhir bulan Oktober lalu, ternyata ada momen  penting! ada apakah dengan akhir November 2020 kali ini? Ternyata, negeri kita tercinta ini kedatangan tamu dari Amerika Serikat (AS). Dia lah, Pompeo, seorang Menteri Luar Negeri Amerika Serikat.


Seperti dilansir dari okezone.com (29/10/2020) Jakarta_Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo akan menggelar pertemuan dengan gerakan pemuda (GP) Ansor Nahdlatul Ulama (NU) di Jakarta.


Pertemuan ini bertajukkan, " Nurturing The Share Civilization Aspirations of Islam Rahmatan Lil Alamin The Republic of Indonesia and the united state of America digelar di hotel Four Season".


Ketua GP Ansor Takut Cholil menyampaikan, "GP Ansor memiliki beberapa kesamaan tujuan, yang pertama, GP Ansor ingin agar citra soal Islam, terutama di dunia Barat tidak melulu citra yang identik dengan kekerasan dan teror. Ke dua, Islam yang penuh dengan rahmah, penuh kasih sayang yang selalu dikenal dengan Islam Rahmatan Lil Alamin". Pertemuan ini diawali dengan Declaration of Humanitarian Islam yang dilakukan GP Ansor dua tahun lalu di Jombang.


Mengapa pertemuan ini terjadi  dan harus digelar? dengan alasan kunjungan Pompeo ke Indonesia, Takut menyatakan "bahwa politik luar negeri Indonesia menganut paham politik bebas aktif, sehingga Indonesia bebas melakukan kerjasama dengan negara mana saja. Asal dinilai terbaik dan paling adil untuk masyarakat dunia, pasti itu yang dipilih Indonesia" jelasnya.


Sungguh suatu hal yang menyesakkan dada nasib negeri kita tercinta ini, betapa tidak! bagaikan buah simalakama. Meski harus disadari bahwa tak selamanya Indonesia bisa bersikap netral dalam berbagai konflik. Misalnya, kasus laut China Selatan. Sesungguhnya Amerika Serikat dan China terus menyeret Indonesia ke pihak masing-masing. Hal ini tidak hanya berlaku di bidang ekonomi saja, bahkan banyak sektor, misal kesehatan, sosial, pendidikan, pertahanan keamanan dan lain-lain.


Mereka melakukan itu, bukan tanpa tujuan. Adapun tujuannya tak lain adalah penjajahan di kawasan Asia. Di mana Amerika Serikat terus membendung usaha China yang terus berupaya menjadi penguasa kawasan. Karena hal yang demikian sangat penting bagi ke dua negara ini.


Seharusnya, Indonesia harus tegas menolak setiap bentuk penjajahan dan intervensi asing, baik dari Timur atau Barat. Akan tetapi, hal itu mustahil bisa dilakukan jika Indonesia masih menerapkan sistem Kapitalisme-sekulerisme. Karena sikap tegas ini hanya bisa dilakukan jika Indonesia menerapkan ideologi sebagai acuan politik luar negeri.


Dengan demikian, ideologi yang benar akan menjadikan Indonesia memiliki tanjakan dan pijakan yang kuat dalam setiap kebijakan (baik kebijakan dalam negeri ataupun kebijakan luar negeri). Dengan kata lain, jika Indonesia masih menjadikan kepentingan ekonomi (investasi) sebagai acuan politik luar negeri, maka Indonesia tetap terombang-ambing antara " gelombang Barat dan Timur, sehingga tidak bisa bersikap independen.


Satu-satunya solusi adalah, Indonesia menerapkan ideologi Islam. Mengapa harus Islam? karena ideologi Islam ini kebenarannya dijamin Wahyu. Dengan diterapkannya ideologi Islam, maka Indonesia akan menjadi negara yang kuat, yang tidak bisa disetir oleh negara lain dan mandiri.


Kalau kita pahami, bahwa Amerika Serikat dan China memiliki tujuan yang sama yaitu melakukan penjajahan dengan cara membungkusnya dengan dalih investasi dan kerjasama ekonomi. Sekilas bagus dan sangat baik sekali. Namun di balik semua itu, ada udang di balik batu. Indonesia berbagai kawasan industri diserahkan dan dikuasi oleh asing. Sumber daya alam yang melimpah diambil sebanyak-banyaknya.


Maka dari itu, jika Indonesia menerapkan ideologi Islam maka Indonesia akan mampu mewujudkan kesejahteraan dalam segala aspek kehidupan. Sehingga tidak lagi membutuhkan hutang luar negeri baik dari China, Amerika Serikat,  Bank Dunia dan sebagainya.


Dengan seperti itu maka Indonesia akan mandiri tidak hanya di sektor ekonomi saja, bahkan segala sektor. Misalnya pendidikan, kesehatan, keamanan dan sebagainya.


Meskipun demikian, tidka menutup kemungkinan Indonesia melakukan impor, tetapi akan dilakukan pada produk nonstrategis dan terhadap negara yang tidak memiliki motif menjajah. Karena setiap titik perbatasan akan dijaga dari tangan-tangan asing yang hendak merebut.


Rosullah saw bersabda yang artinya, "Menjaga wilayah perbatasan satu malam di jalan Allah SWT, lebih baik dari pada seribu malam yang pada malamnya mengerjakan solat Sunnah serta siangnya berpuasa". HR ATH Thabrani dan Al Hakim.


Kini saatnya Indonesia menjaga dan mempertahankan negara, menjadi negara yang kuat dan mandiri, agar melahirkan kebijakan yang tidak didekte oleh negara asing manapun. Termasuk China dan Amerika Serikat. Tanpa alasan apapun, apalagi hanya karena investasi atau bekerjasama bilateral.


Harus kita semuanya menyadari bahwa semua investasi dan bantuan asing itu sejatinya adalah racun penjajahan untuk menguasai negara-negara kaum muslim. Maka dari itu, bagi kita setiap muslim hendaknya bangkit, terbangun dari tidur lelapnya dan bersegera untuk memperjuangkan diterapkannya ideologi Islam.


Jangan biarkan diri kita terperdaya dengan perangkap asing. Sudah suatu keharusan, Indonesia membangun sebuah kekuatan negara agar menjadi negara yang kuat dan mampu melindungi seluruh rakyatnya dan mengambil kebijakan tanpa campur tangan negara asing. Maka dari itu, maka Indonesia akan mampu mengelola kekayaan alam dengan mandiri dengan sistem ekonomi Islam. Dan sebagai contohnya, Indonesia akan dengan mudah dan cepat mengatasi kasus letak strategis laut China Selatan.


#pompeo

No comments:

Post a Comment

Adbox