Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, September 14, 2020

MEMBABI BUTA GENCARKAN BAHAYA RADIKALISME, REZIM HALANGI KEBANGKITAN ISLAM

 


Tuti Daryanti

Mahasiswa STKIP Kusumanegara


Isu Radikalisme nampaknya masih menjadi propaganda andalan rezim untuk menyerang umat Islam dan menghalangi bangkitnya Islam. Menteri agama (Menag) Fachrul Razi belakangan menimbulkan polemik di masyarakat, akibat pernyataannya yang kontroversial. Kegeraman masyarakat dimulai dari pernyataan Menag yang menyebutkan paham radikal masuk melalui anak yang good looking. Fachrul menyampaikan pernyataan itu di acara webinar bertajuk 'Strategi Menangkal Radikalisme pada Aparatur Sipil Negara' yang disiarkan di Youtube KemenPAN-RB, Rabu (2/9). Beliau berkata "Cara masuk mereka gampang. Pertama, dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arab bagus, hafiz, mulai masuk, ikut-ikut jadi imam, lama-orang orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid. Kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide yang tadi kita takutkan,"  Sontak pernyataannya ini menimbulkan kritikan  dan kecaman dari berbagai kalangan. 


Wakil Ketua Komisi VIII Ace Hasan menilai pernyataan Menteri Agama Fachrul Razi soal radikalisme yang masuk melalui anak good looking hingga hafiz Al-Qur'an tak sepenuhnya tepat bahkan menyarankan Fachrul mempelajari secara komprehensif soal cara penyebaran paham radikal. Ace menilai good looking dan hafiz Al-Qur'an bisa jadi salah satu modus saja. Ace meminta Fachrul Razi tidak menggeneralisasi karena, menurutnya, bisa memunculkan kekeliruan di masyarakat. Dikutip dari Detiknews (04/09/2020).


Kecaman juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta menag untuk menarik ucapannya karena menyakiti umat Islam. "MUI minta agar Menag menarik semua tuduhannya yang tak mendasar karena itu sangat menyakitkan dan mencederai perasaan umat Islam yang sudah punya andil besar dalam memerdekakan negara ini dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata," kata Wakil Ketua MUI Muhyiddin Junaidi, detiknews (04/09/2020).


Pernyataan Menag lainnya yang menyudutkan umat Islam yaitu ketika meminta kepada seluruh kementerian dan lembaga pemerintahan untuk tak menerima peserta yang memiliki pemikiran dan ide mendukung paham khilafah sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) atau Pegawai Negeri Sipil (PNS). “Pemikiran seperti itu [khilafah] enggak usah diterima di ASN. Tapi kalau sudah diwaspadai sebaiknya enggak masuk ASN," kata Fachrul dalam webinar 'Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara' di kanal Youtube KemenPAN-RB, Rabu (2/9).


Pernyataan ini terasa janggal dan aneh meski Menag juga menyadari bahwa khilafah bukan ide yang dilarang, namun pelakunya dilarang menjadi ASN. Tentu hal ini memperlihatkan bagaimana rezim saat ini ketakutan akan ajaran Islam. Seperti yang diketahui oleh khalayak ramai khilafah adalah ajaran Islam dan sampai sekarang masih diajarkan di sekolah-sekolah.


Bukan hanya itu saja, masih dalam acara yang sama Menag menyampaikan bahwa Kementerian Agama akan menerapkan program sertifikasi penceramah. ”Kemenag bentuk program penceramah bersetifikat. Akan kami mulai bulan ini. Tahap awal kami cetak 8200 orang”. Ujar Fachrul. Dikutip CNNIndonesia.com, 03/09/2020.


Fachrul menegasakan program tersebut bertujuan untuk mencetak penceramah yang memiliki bekal wawasan kebangsaan dan menjunjung tinggi ideologi Pancasila sekaligus mencegah penyebaran paham radikalisme di tempat-tempat ibadah. Tentu hal ini langsung menimbulkan kegaduhan di Masyarakat. Isu sertifikasi penceramah juga sebelumnya menuai banyak protes sejak dikemukakan oleh Menteri Agama sebelumnya, Lukman Hakim. Isu itu tenggelam karena kecaman dari berbagai pihak. 


MUI menolak dengan tegas program yang dirancang oleh kemenag ini.  "Oleh karena itu MUI menolak rencana program tersebut," kata Wakil Ketua MUI Muhyiddin Junaidi yang tertuang dalam Pernyataan Sikap MUI Nomor Kep-1626/DP MUI/IX/2020 yang dikutip CNNIndonesia.com, 09/09/2020.


Muhyiddin menjelaskan, MUI menolak program sertifikasi penceramah lantaran usulan itu telah menimbulkan kegaduhan, kesalahpahaman, dan kekhawatiran intervensi dari pemerintah pada aspek keagamaan di Indonesia. Potensi intervensi itu dalam pelaksanaannya dapat menyulitkan umat Islam.


Selain MUI ketua PP Muhammadiyah Dadang Kahmad dan Ketua Umum PA 212 Slamet Maarif juga menolak program tersebut. "Kita itu menolak program sertifikasi ulama/dai. Ini Kemenag kurang kerjaan, anggaran enggak punya, sok-sokan mau buat sertifikasi ulama," kata Slamet dikutip CNNIndonesia.com, 09/09/2020. Slamet juga menilai program sertifikasi penceramah lebih banyak mudaratnya ketimbang manfaat bagi penceramah dan umat Islam.


Meski menuai penolakan dari berbagai kalangan dan umat Islam, Menteri Agama saat ini menegaskan akan tetap  melanjutkan program yang rencananya dilangsungkan bulan ini. Tentu saja masyarakat mengkritik keras kebijkan Menag dan heran mengapa pemerintah sekarang sibuk mengurusi sertifikasi penceramah alih-alih fokus pada masalah lain yang lebih genting untuk ditangani seperti covid 19 dan masalah lainnya yang lebih membahayakan Indonesia seperti masalah korupsi, krisis moral, ekonomi, kemiskinan dan lain-lain. 


Kebijakan dan pernyataan yang dilontarkan Menteri Agama yang menyatakan khilafah bukan ide yang dilarang, namun pelakunya dilarang menjadi ASN, dicap radikal dan masyarakat terus dicekoki dangan Islam versi rezim melalui dai bersertifikat. Semua ini menegaskan kebijakan Kemenag yang makin ngawur. Sebagai leading sector penanganan radikalisme agama, Kemenag semakin nampak menyerang umat Islam dan memojokkan pemeluk Islam yang taat syariat. Sejak isu radikalisme digulirkan, umat Islam memang selalu menjadi yang tertuduh. Yang menjadi target radikal ini adalah kaum muslimin yang menjadikan agamanya sebagai dasar berpikir untuk kehidupannya yang senantiasa terikat dengan seluruh hukum syara.


Bila kita telisik lebih dalam sesungguhnya radikalisme adalah proyek kaum kapitalis penjajah khususnya barat yang menjadikan radikalisme sebagai alat mereka untuk menghadang lajunya perkembangan Islam di negara-negara kaum muslimin termasuk Indonesia, khususnya kesadaran untuk menjalankan Islam Kaffah. Mereka berkonspirasi dengan penguasa negeri-negeri muslim yang mau dijadikan boneka dengan imbalan receh dan sejalan dengan kepentingan mereka. Isu Radikalisme dijadikan sebagai isu politik untuk menumbuhkan Islamophobia ditengah masyarakat. Dengan tujuan menyerang gagasan-gagasan politik Islam ideologis yang belakangan mendapatkan dukungan yang luar biasa dan mendapatkan dukungan luas di dunia Muslim. Isu ini sekaligus menutupi kegagalan sistem kapitalisme dalam mensejahterakan masyarakat dan untuk melanggengkan bercokolnya para penjajah di negeri-negeri kaum muslimin.


Isu radikalisme dibungkus dan direncanakan sedemikian cantik, seolah untuk melindungi Islam dan umat Islam dari ajaran yang menyimpang padahal isu ini digunakan untuk menyerang Islam, memecah belah kaum muslimin dan menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang sesungguhnya bahkan dijadikan alat gebuk untuk orang-orang yang mengkritik dan bersebrangan dengan rezim. Dengan terus digorengnya isu radikalisme ini menjadikan umat Islam ketakutan untuk mempelajari dan mengamalkan Islam yang Kaffah. Hal ini menegaskan agenda deradikalisasi hanya kedok menghambat kembali tegaknya Islam Kaffah.


Padahal Allah SWT menyeru kaum muslimin untuk menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh tidak dipilah pilih. Sebagaimana Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah ayat 208 “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan . Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.


Maka sudah saatnya umat Islam sadar ada bahaya besar dibalik isu radikalisme ini. Jangan sampai kita terprovokasi sehingga menghalangi perjuangan menegakan agama Islam dan menegakan hukum-hukum Allah dalam kehidupan kita. Sebesar apapun upaya musuh-musuh Islam menghambat kebangkitan Islam, ingatlah firman Allah dalam Q.S Al-Imran ayat 56 “Orang-orang kafir itu membuat tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya”. Mari kita berpegangan erat, jangan mau dipecah belah. Terus semangat memperjuangkan tegaknya Islam Kaffah. In syaa Allah kemenangan Islam Semakin dekat. Wallahu a’lam bishawab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox