Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, September 4, 2020

Indonesia Berduka: Kematian 100 Dokter Karena Covid-19 Salah Siapa?

 



Endah Sulistiowati 

Dir. Muslimah Voice 



Compas.com - Enam bulan sejak laporan kasus pertama Covid-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 174.796 kasus. Dari jumlah tersebut, sebanyak 7.417 orang meninggal dunia. Sementara 125.959 orang dinyatakan pulih.


Dari jumlah korban meninggal tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat lebih dari 100 dokter yang gugur dalam melawan virus corona jenis baru atau SARS-CoV-2 hingga Selasa (1/9/2020). Adapun nama-nama dokter tersebut berasal dari sejumlah daerah yang tersebar di Jawa, Sulawesi, Bali, Sumatera, Kalimantan, Kepulauan Riau, hingga Papua.


https://www.kompas.com/tren/read/2020/09/01/113000865/100-dokter-meninggal-akibat-covid-19-apa-saja-dampaknya-?page=all


/Jumlah Dokter Semakin Minus/


Berdasarkan data Ikatan Dokter Indonesia (IDI), jumlah dokter di Tanah Air hanya sekitar 160 ribu per akhir tahun 2019 lalu. Bahkan di daerah Timur Indonesia, jumlah dokter dan tenaga medis sangat minim bahkan termasuk sangat kekurangan tenaga medis.


"Total jumlah data terakhir dokter yang terdaftar di IDI dan sudah kita cocokkan dengan dewan dokter Indonesia itu ada 168 ribu. Tapi, itu data dinamis ya. 138 ribu dokter umum, selebihnya sekitar 30 ribu dokter spesialis," ujar Ketua IDI, dr Daeng M Faqih.


Dokter adalah profesi yang sangat diminati, namun sayang untuk berprofesi sebagai seorang dokter tidak semudah membalik telapak tangan. Apalagi Indonesia harus kehilangan 100 dokter dalam tempo 6 bulan saja. Meskipun kita paham, bahwa ajal ada ditangan Sang Maha Kuasa. Namun kita tidak pernah tahu takdir untuk Indonesia seperti apa, tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan korban.


Apalagi ditengah pandemi saat ini, tentu keberadaan dokter dan tenaga kesehatan adalah yang utama. Ibarat perang, maka posisi mereka ini berada digarda terdepan. Harus kondisi fisik dan psikis mereka harus benar-benar prima agar bisa bertugas dengan maksimal. 


Namun sayangnya, lambatnya mengambil kebijakan sejak awal datangnya serangan Covid-19 ini justru memperburuk keadaan. Akhirnya ketika dipuncak pandemi banyak para dokter dan nakes harus tumbang. Minimnya fasilitas APD dan kurangnya waktu istirahat diduga menjadi pemicu utama para dokter harus tertular dan menghadapi kematian. 


Buruknya pelayanan pemerintah terhadap para dokter dan tenaga kesehatan bisa jadi akan memicu masalah yang lain. Tidak bisa membayangkan, bagaimana jika para dokter dan tenaga kesehatan jika mundur dari tugas, dan memilih berada di zona nyaman. 


Pemerintah harusnya peka dengan kondisi semacam ini. Tapi sayangnya, jauh panggang dari api. Sikap mereka cenderung acuh dan abay, dianggap gugur dalam menjalankan tugas adalah hal biasa, dan cukup dengan memberikan gelar pahlawan Covid. Astagfirrullah. 


Apalagi ditengah pandemi saat ini, tentu keberadaan dokter dan tenaga kesehatan adalah yang utama. Ibarat perang, maka posisi mereka ini berada digarda terdepan. Harus kondisi fisik dan psikis mereka harus benar-benar prima agar bisa bertugas dengan maksimal. 


Namun sayangnya, lambatnya mengambil kebijakan sejak awal datangnya serangan Covid-19 ini justru memperburuk keadaan. Akhirnya ketika dipuncak pandemi banyak para dokter dan nakes harus tumbang. Minimnya fasilitas APD dan kurangnya waktu istirahat diduga menjadi pemicu utama para dokter harus tertular dan menghadapi kematian. 


Buruknya pelayanan pemerintah terhadap para dokter dan tenaga kesehatan bisa jadi akan memicu masalah yang lain. Tidak bisa membayangkan, bagaimana jika para dokter dan tenaga kesehatan jika mundur dari tugas, dan memilih berada di zona nyaman. 


Pemerintah harusnya peka dengan kondisi semacam ini. Tapi sayangnya, jauh panggang dari api. Sikap mereka cenderung acuh dan abay, dianggap gugur dalam menjalankan tugas adalah hal biasa, dan cukup dengan memberikan gelar pahlawan Covid. Astagfirrullah. Betapa tidak berharganya. 


/Pemerintah Tidak Fokus Menyelesaikan Masalah/


Pandemi belum ada tanda-tanda berakhir, ketika Pemerintah di akhir bulan Juni menetapkan kondisi new normal. Masyarakat sudah diperbolehkan beraktivitas sebagaimana biasa.  


Kebijakan ini pula yang turut memperparah kondisi penyebaran Covid-19 di Indonesia. Sehingga dengan segala keterbatasan sarana prasarana kesehatan para dokter dan tenaga kesehatan mendapat guyuran pasien.


Sehingga dengan faktor serba terbatas itulah kondisi kesehatan para dokter rentan tertular virus. Meskipun Pemerintah mengklaim telah mengucurkan banyak dana untuk pandemi ini


Diketahui, dana penanganan penyebaran virus corona sudah naik sebanyak tiga kali. Awalnya, pemerintah hanya mengalokasikan sebesar Rp405,1 triliun, lalu naik menjadi Rp677 triliun, dan awal pekan ini dinaikkan lagi menjadi Rp695,2 triliun.


Dana Rp695,2 triliun itu akan diberikan untuk seluruh sektor yang terdampak penyebaran virus corona. Jika dirinci, pemerintah akan menggunakannya untuk sektor kesehatan sebesar Rp87,5 triliun, perlindungan sosial Rp203,9 triliun, insentif usaha Rp120,61 trililun, UMKM Rp123,46 triliun, pembiayaan korporasi Rp53,57 triliun, dan sektoral kementerian/lembaga serta pemerintah daerah Rp106,11 triliun.


Melihat besarnya dana yang digelontorkan dalam penanganan Covid-19 ini, seharusnya pandemi ini bisa teratasi. Namun sayangnya, sekali lagi pemerintah tidak fokus menyelesaikan masalah, untuk sektor kesehatan hanya kebagian Rp 87,5 trilyun saja dari anggaran Rp 695,2 trilyun. Angka yang sangat kecil untuk menyelamatkan nyawa tenaga kesehatan dan rakyat. Padahal dokter dan tenaga kesehatan harus bertaruh nyawa.


/Nyawa Manusia Sangat Berharga/


Dilihat dari cara menyikapi meninggalnya 100 lebih dokter Indonesia di saat pandemi ini, sepertinya pemerintah kurang bahkan tidak menghargai nyawa rakyatnya. Padahal bagi Allah nyawa manusia itu sungguh sangat berharga. 


Di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia.


Dari al-Barra’ bin Azib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ


“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).



Allah berfirman : 



وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ


“Jangan sekali-kali kamu mengira, Allah akan melupakan tindakan yang dilakukan orang dzalim. Sesungguhnya Allah menunda hukuman mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak (karena melihat adzab).” (QS. Ibrahim: 42).


Perbuatan pembiaran, ataupun tidak maksimal dalam menghadapi pandemi ini tergolong pada perbuatan dzalim. Kedzoliman ini jika dilakukan terus menerus, bisa jadi akan mengundang murka Allah Ta'ala. []

No comments:

Post a Comment

Adbox