Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, September 4, 2020

Gusar Gusur Ajaran Khilafah




Oleh: Pipit Agustin


Selamat! Itulah ucapan yang pantas ditujukan kepasa pihak penyelenggara pemutaran Film Dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara. Filmnya sukses.  menyedot 250 ribu penonton di seluruh tanah air. 


Indonesia patut berbangga memiliki generasi muda yang kreatif dan inovatif dalam menyajikan sejarah. Selain menarik dari segi penyajian, konten film ini juga berbasis riset ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan akurasinya. Film ini mampu menjawab tantangan zaman. 


Namun, geger film bertajuk Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) ini rupanya membuat sebagian pihak gusar. Terbukti adanya pemblokiran beberapa kali saat penayangan premiernya pada 20 Agustus 2020 lalu. Sungguh sebuah kegusaran yang tidak argumentatif. Pasalnya, film ini bertepatan dengan momen tahun baru Islam, 1 Muharam 1442 H. Yang mana sangat tepat bagi umat Islam untuk napak tilas sejarah sejak zaman Rasulullah saw. di jazirah Arab hingga masa Kesultanan Islam di Nusantara. 


Selama ini pemahaman umat Islam akan sejarah keislamannya terbatas pada narasi kebangsaan semata. Seolah Islam datang tanpa disengaja alias tiba-tiba lalu berkembang pesat di Nusantara. Sampai di situ. Semacam ada korsleting atau hubungan pendek yang menyebabkan terputusnya aliran sejarah Islam dari pusatnya di Negeri Arab nun jauh di sana. 


Hadirnya film JKdN seakan menjadi konektor arus sejarah yang terputus. Publik yang menyaksikan dengan hati jernih akan merasa diinstal memorinya tentang masa lalu nenek moyang umat Islam. Puzzle sejarah yang berserakan seolah dapat disusun satu persatu dari tayangan film ini. Bahwa ternyata nenek moyang mereka adalah petarung hebat (al-ghazi),  penakluk 92 pulau (gelar Sultan Baabullah), dan para jendral mujahid yang melibas kolonial tiga bangsa: Portugis, Inggris, dan Belanda. 


Sungguh naif jika ada pihak-pihak yang mengatakan adanya propaganda terselip dalam film ini. Dapat dipastikan pihak tersebut tidak/ belum menyaksikan isi film melainkan hanya menyaksikan judulnya saja. Memang, tendesiusitas mereka terhadap diksi Khilafah sudah seubun-ubun. Sentimen yang melampaui argumen. Inilah yang kita sebut kekalahan intelektual. Tak mampu menghadapai gagasan dengan gagasan tandingan. Hanya karena merasa gusar lalu main gusur ajaran Islam Khilafah. 


Kalau mau jujur, film ini sudah sangat menjawab tantangan zaman. Ketika selama ini sajian sejarah masih sebatas teks book, JKdN hadir dalam bentuk film dokumenter. Bahkan film ini pun telah memenuhi keinginan Kemenag. Yang mana, pihak kemenag telah menggeser materi ajar Khilafah dari pelajaran fikih ke sejarah. Lalu atas alasan apalagi film sejarah ini "dipersekusi"? Apakah ajaran Khilafah harus digusur dari kehidupan umat? Apa sebenarnya tujuan yang dikehendaki? 


Dari sini kita melihat bahwa ada dusta yang hendak dipopulerkan oleh berbagai pihak pembenci Khilafah dan yang skeptis terhadapnya. Di antara jalan yang ditempuh itu adalah dengan penguburan dan pengaburan sejarah Khilafah melalui manipulasi fakta sejarah. Salah satunya apa yang telah dilakukan kemenag yaitu melalui kurikulum pendidikan. Jalan lainnya adalah melalui lisan intelektual liberal dan sejarawan-sejarawan orientalis. 


Sesungguhnya masalah pengaburan dan penguburan potret sejarah Islam oleh para intelektual Barat dan sejarawan orientalis bukanlah hal baru. Juga tidak akan menjadi hal baru pada saat berdirinya Khilafah yang kedua nanti. 


Pihak-pihak inilah yang senantiasa berupaya mengaburkan Khilafah pada masa Umayyah dan Abbasiyah. Bahkan di antara mereka ada yang mengaburkan potret Khulafaur Rasyidin, seperti peristiwa di Tsaqifah Bani Saidah, Pembunuhan Ali r.a, dan fitnah terhadap panglima seperti Khalid bin Walid. 


Para pembenci Khikafah akan fokus pada pertikaian politik yang dahsyat pada sepanjang kekhilafahan, keburukan personal para Khalifah, dan struktur Khilafah yang disebut-sebut tidak baku, bahkan tidak lagi relevan, dsb. Tak sepatah kata syukur dan bangga apalagi pujian mereka ucapkan atas jasa Khilafah yang begitu besar. Mereka menutup mata bahwa kebaikan dan jasa-jasa Khilafah


sampai saat ini masih dapat kita nikmati. Seburuk-buruk kondisi pada masa kekhilafahan, masih jauh lebih baik daripada masa pasca runtuhnya Khilafah. Sebab hukum Islam masih diberlakukan dan ditaati serta para ulama masih dihormati dan didengar oleh kaum Muslimin. 


Dari sini kita tahu, segala upaya untuk memfitnah Khilafah harus dilawan dengan pemahaman dan argumentasi yang baik. Bukan dengan jalan kekerasan verbal apalagi kekerasan fisik. Itulah sebaik-baik teladan sebagaimana yang Nabi ajarkan. 


Cukuplah firman Allah SWT kita jadikan pemantik semangat mendakwahkan ajaran Khilafah sebagai bukti keimanan. 


"Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik." (TQS. an-Nuur: 55)[]

No comments:

Post a Comment

Adbox