Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, September 14, 2020

Aksi Rasisme Pembakaran Qur’an Atas Nama Kebebasan?

 



Oleh : Antika Rahmawati 

(Aktivis Dakwah Kampus)


Swedia digencarkan oleh kelompok Rasis Anti-Islam yang membakar Mushaf Al-Qur’an seolah tak pernah cukup membuktikan bahwa sistem yang berasaskan kebebasan ini ternyata sudah berani terang-terangan menyatakan bahwa ia menentang ajaran Allah. Mereka menganggap bahwa setelah mereka melakukan Aksi tersebut Allah takkan pernah menunjukan kebesaran-Nya untuk menurunkan azab yang amat pedih bagi yang menghina firmanNya. Itu semua adalah tindak kejahatan tersistem, artinya kejahatan ini karena berasal dari sistem kapitalis yang mana dalam hal ini menjadikan individu-individunya hanya diarahkan pada nafsu dunia yang amat merusak tatanan kehidupan. Baik sosial maupun spiritualnya. Sebelum Aksi ini terjadi di Swedia, Aksi ini pernah terjadi di Norwegia, dimana seorang wanita yang merupakan aktivis feminisme yang meludahi Al-Qur’an lalu membakarnya dengan diselipkannya daging babi di dalam Al-Qur’an tersebut, juga merupakan kegagalan sistem saat ini dalam menjaga harmoni antar individu beragama. 


Ketegangan memuncak di Ibukota Norwegia, Oslo ketika seorang pengunjuk rasa anti-Islam merobek-robek berlembar-lembar halaman Alquran. Kepolisian Norwegia sampai menembakkan gas air mata untuk memisahkan dua kelompok yang bentrok. Sedikitnya ada 30 orang yang ditangkap polisi Norwegia. Akibat bentrokan itu, unjuk rasa anti-Islam di Oslo pada Sabtu (29/8) membuat acara itu diakhiri lebih awal dari jadwalnya. Seperti dilansir Deutsche Welle (DW) pada Ahad (30/8), unjuk rasa anti-Islam itu diorganisir kelompok Stop Islamisasi Norwegia (SIAN). Sementara itu dilaporkan kantor berita DPA ratusan pengunjuk rasa lainnya juga berkumpul dengan meneriakkan tidak ada rasis di jalanan kami. Situasi ini pun memuncak ketika seorang wanita yang merupakan anggota SIAN merobek halaman Alquran dan meludahinya. Wanita itu sebelumnya pernah didakwa kemudian dibebaskan atas ujaran kebencian. Dalam unjuk rasa itu, wanita tersebut mengatakan pada para pengunjuk rasa "lihat sekarang saya akan menodai Alquran," (Republika.co.id). 


Dan bentrok antar dua kelompok ini tak dapat dihindarkan, dan dikatakan ada beberapa anak dibawah umur. Pasalnya, kelompok sayap kanan telah menodai Al-Qur’an. Apa yang mendasari mereka melakukan penodaan tersebut dengan dalih kebebasan? Apakah mereka yang berteriak kebebasan itu adalah kebebasan menodai Agama? Tak jauh dari norwegia, seorang yang Anti-Islam Rasmus Paludan, juga ikut dalam memimpin kelompok aksi pembakaran Al-Qur’an, dan menuai banyak kontroversi yang lagi-lagi menyayat hati kaum muslim. Hal yang mereka lakukan sudah sangat melampaui batas, tetapi mereka sama sekali tidak merasa bersalah melakukan itu. Diketahui bahwa Rasmus pernah dilarang masuk Swedia karena dikhawatirkan akan menimbulkan perpecahan, kemudian Rasmus membuat kata sindiran pada akun Facebooknya “dilarang pulang ke Swedia selama dua tahun, namun pembunuh dan pemerkosa selalu diterima” tulisnya. Dugaan kuat polisi Swedia bahwa Rasmus akan melakukan pelanggaran hukum. Sudah ada penindakan atas peristiwa ini, namun pendukungnya tetap melanjutkan aksi bahkan tiga orang telah ditangkap karena telah menghasut kebencian rasial. -Detik.com 


Kebebasan yang hakiki adalah bagaimana cara kita menyikapi seorang yang berbeda agama, ras, suku itu bebas menjalankan aktivitas mereka namun tetap harus pada koridor syari’at. Kenapa demikian? Sebab Ketika kebebasan itu hanya sekedar mengikuti akal manusia dan hawa nafsu semata, maka dunia ini hanya akan menampakan kerusakan, bahkan menjadikan manusianya menjadi manusia yang amoral. Islamophobia yang dilakukan oleh kelompok rasis ini contohnya, mereka ingin manusia tidak mengikuti aturan yang berasal dari allah dan rasul-Nya, karena menurut mereka itu tidak sesuai dengan kehendak individu masing-masing. Adanya penodaan Al-Qur’an adalah merupakan bukti sistem saat ini tidak menjaga fitrah kita sebagai manusia yang memiliki Gharizah tadayyun (naluri beragama). Mereka hanya ingin hukum ini tetap pada asas yang bebas sebebas-bebasnya. Kalau dahulu manusia menentang Al-Qur’an dengan lisan mereka, sekarang mereka berani menggunakan tangannya untuk menentang Al-Qur’an. Padahal Al-Qur’an itu sendiri telah menantang mereka dalam surah Hud [11] : 13 yang artinya : “Katakanlah: Maka datangkanlah sepuluh surat yang (dapat) menyamainya” dan ayat lain yang serupa pula. Allah juga berfirman pada Surat Yunus [10] : 38 yang artinya : “(Kalau benar apa yang kamu katakan), maka cobalah datangkan sebuah surat yang menyamainya”. 


Pendapat dari Ustadzah Pratma Julia Sunjandari selaku pengamat politik menanggapi hal ini, “Menjadi negara yang paling Bahagia sedunia menurut World Happiness Report 2017, nyatanya tidak membuat Norwegia menjadi negara yang paling aman bagi siapapun.” Menurut beliau pula, “Bisa jadi Norwegia adalah habitat negara yang nyaman bagi pemuja kebebasan, namun tidak mampu memberi ruang aman bagi Islam dan kaum muslimin”. “Pembelaan PM Norwegia Erna Solberg atas aksi unjuk rasa kelompok SIAN, yang dianggapnya sebagai bentuk kebebasan berpendapat sekali lagi menunjukkan kemunafikan demokrasi” tegasnya lagi. Padahal demonstrasi menentang islam dan muslim yang terjadi di sejumlah negara Skandinavia bermula karena kegagalan negara-negara tersebut mengatasi krisis migrasi Eropa sejak 2015. Adanya islamophobia ini disebabkan oleh dendam berabad-abad akibat futuhat Khilafah Islamiyyah sejak abad ke-8 yang menjadikan Muslim Afrika Utara (mereka sebut kaum “Moor”) memasuki Spanyol, Portugal, Italia Selatan dan Malta, diikuti serangkaian kekalahan dalam perang salib, menjadi api dalam sekam yang dipelihara hingga anak cucu mereka. Sebuah kutipan ayat yang dikutip oleh beliau (Pengamat politik) ini yang artinya:”…mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (kami), jika kamu memahaminya.” (TQS. Ali-Imran [03]:118) –MuslimahNews.Id


Mereka yang melakukan penodaan tanpa dasar hanya ingin menentang bahwa Al-Qur’an adalah bohong belaka. Namun, cara mereka lebih sadis disbanding para pemuka Quraysy terdahulu sebelum mereka. Zaman Mulkan Jabriyatan ini, memang sangat berpengaruh pada kemunduran Umat muslim. Maka, ini justru amanah terbesar untuk kita yang meyakini akan tegaknya Kembali khilafah. Karena khilafah akan menjaga kemurnian Al-Qur’an lewat pemimpinnya, sistem kenegaraan yang akan mengatur bagaimana kita harus bebas namun tetap pada koridor syari’at-Nya. Jangankan agama, kemuliaan seluruh alam semesta ini, juga akan terjaga oleh negara nya. Namun tak cukup sampai disitu, kita juga akan terus mendakwahkan ajaran islam karena itu hukumnya wajib bagi seluruh ummat yang mengaku mencintai Allah dan menjadikan Rasulallah sebagai hakim dalam menyelesaikan suatu perkara. Tidak hanya muslim yang dijamin harta, harga diri dan kehormatannya, tapi juga umat non muslim yang juga tunduk pada hukum Allah akan dijamin keselamatannya oleh sang khalifah. Apakah ada kebebasan tetapi cara yang digunakan itu amat merugikan yang lain? Inilah tabi’at sistem demokrasi yang mana sang penganut hanya meneriakan kebebasan berpendapat, namun tidak memahami apa arti kebebasan itu sendiri. Standar yang mereka agungkan tidaklah berpengaruh baik bagi semua kalangan umat (Masyarakat). Hanya Khilafah, sistem yang dapat menjadikan semua tatanan kehidupan menjadi lebih baik lagi. Karena selain aturannya berasal dari sang Khaliq, Allah juga maha tahu apa yang terbaik untuk makhluk-Nya.


Ini akan menjadi tugas kita, para pejuang dakwah syari’ah. Tetap menyampaikan walaupun medan yang ditempuh amat curam. Kini, satu persatu allah bongkar kebobrokan sistem kufur ini. Dan lambat laun seiring perjuangan kita, do’a kita agar tegaknya khilafah islamiyyah, Allah akan tepati janji yang dahulu pernah terucap oleh lisan mulia Rasulallah Shalallahu’alaihi wasallam. Wallahu a’lam bisshawab.[]





No comments:

Post a Comment

Adbox