Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 8, 2020

Investasi Pertanian Bikin Petani Mati di Lumbung Sendiri

 

Oleh : NS. Rahayu 

(Pengamat Sosial)


Fakta dahulu para petani sudah biasa memiliki lumbung padi sebagai tempat menyimpan gabah hasil panen mereka. Lumbung ini sebagai stok persediaan konsumsi pangan dan kebutuhan lainnya. Sekarang kata ini menasional dengan istilah lumbung pangan (persediaan pangan di saat paceklik). Negara memproyeksikan ketersediaan pangan meski kondisi sulit dengan lumbung-lumbung pangan.

Namun persoalan pangan tidak semata menjadi domain tanggung jawab pemerintah namun perlu melibatkan dan memberdayakan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan. Pasal 33 ayat 2 Undang-Undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 mengamanatkan bahwa Pemerintah dan Pemerintah Daerah memfasilitasi pengembangan cadangan pangan masyarakat sesuai dengan kearifan lokal. (Pertanian.go.id)

Sehingga banyak daerah dengan kearifan lokal masing-masing memberdayakan lahan-lahan pertanian produktif yang masih sangat luas menjadi sentral pemasok kebutuhan pangan nasional. 

Termasuk Kabupaten Ngawi yang menjadi ikon lumbung pangan Jawa Timur sekaligus nasional sehingga menjadi incaran para investor di sektor pertanian. Ini terbukti dengan masuknya investor dari PT WPI. 

Sebagaimana yang dilansir Radarmadiun.co.id (22/7/2020) - PT Wilmar Padi Indonesia (WPI) menanamkan investasi di Ngawi di sektor pertanian karena Ngawi merupakan lumbung padi di Jawa Timur bahkan Indonesia. WPI melihat potensi besar Ngawi untuk pengembangan industri padi. Ada dua kerja sama utama : pertama peningkatan produksi padi dengan demonstration plot  (demplot), kedua pengolahan padi dengan menampung hasil produksi petani. Harapannya, petani akan lebih sejahtera jika produksi padinya meningkat dan PT WPI akan mendapatkan keuntungan dari pengolahan padi tersebut.

Sekilas masuknya investasi akan menguntungkan semua pihak baik petani, daerah dan PT. Apalagi  WPI akan turut meningkatkan produksi padi. Namun jika ditelisik wewenang dari PT WPI ini bukan sekedar hilir (penanam modal) namun sampai ke ranah hulu yaitu kewenangan produksi, pengelolaan dan distribusi dari lahan pertanian daerah, ini jelas sangat berbahaya di sektor pertanian. 

/Petani mati di lumbung padi sendiri/

Karena pangan merupakan kebutuhan vital rakyat Indonesia dan pertanian adalah sektor strategis bangsa. Jika swasta masuk hingga ke hulu maka pertanian Indonesia sangat mudah untuk disetir sesuai dengan kepentingan pemilik modal (investor). 

Akibatnya petani tradisional akan terancam dan terpinggirkan karena kalah bersaing dengan mereka yang bermodal besar. Bahkan bisa menjadi buruh atas lahannya sendiri. Terbayang bagaimana petani perlahan mati di lumbungnya sendiri, menjadi ironi di negeri agraris. 

Sedangkan negara yang seharusnya sebagai penjaga wong cilik malah menjadi regulator untuk memudahkan para investor berdatangan untuk menguasai sektor vital nasional yaitu pangan.

Tidak hanya hilir bahkan hulu saat ini telah dikuasai swasta (investor). Jika hal ini dibiarkan maka pihak swasta akan mudah mengatur hasil produksi padi, pengelolaannya hingga pendistribusiannya dan bisa menentukan harganya sendiri. 

Disinilah permainan harga dapat dimonopoli dengan mudah yang berdampak tidak hanya merugikan petani tapi juga para konsumen. Termasuk ekspor yang dapat dilakukan pihak swasta. Dan kita tinggal gigit jari.

Kita seharusnya berkaca pada kasus-kasus yang telah terjadi sebelumnya, seperti kasus ekspor CPO sawit yang akhirnya membuat harga minyak goreng melambung tinggi. Padahal ribuan hektar perkebunan sawit ada di ibu pertiwi tapi rakyatnya harus membayar mahal untuk minyak goreng. 

Kasus seperti ini bisa juga terjadi pada padi, bukankah ini sangat mengerikan? Beras adalah makanan pokok bangsa Indonesia, jika mahal apakah harus diganti dengan makan singkong atau jagung?

Visi pengelolaan yang jelas

Sudah sering kita terjebak dengan investasi yang seakan manis dan menjanjikan namun banyak aturan karet yang merambah kemana-mana dimana ujungnya menguntungkan pengusaha. Sehingga sangat penting negara punya visi yang jelas dalam mengelola kekayaan alam beserta potensinya. 

Jika semua sektor dari hulu hingga hilir diserahkan pada investor maka bisa terjadi nama Indonesia tinggal kenangan. Peningkatan ekonomi tidak bisa disandarkan pada investasi karena investasi merupakan bentuk penjajahan gaya baru para kapitalis untuk makin mencengkeram jajahannya sehingga tidak bisa lepas lagi.

Menerapkan sistem kapitalis di negara ini justru sangat berbahaya karena mengancam eksistensi bangsa. Ketika semua di ukur dengan tolok ukur kapital (materi) maka tidak ada yang tersisa kecuali mind set keuntungan secara materi, tanpa memperhitungkan kerugian bagi para petani dan rakyat dalam jangka panjang kedepannya. 

Islam mengatur pengelolaan sumber pangan

Dalam sistem Islam pangan merupakan sektor strategis yang wajib di jaga oleh negara. Pada dasarnya islam memperbolehkan investasi di sektor pertanian namun tetap dalam rambu-rambu syariat dan tidak boleh terjadi monopoli pertanian. 

Sedangkan negara berfungsi sebagai garda terdepan dalam pengolahan, pengelolaan, pendistribusian terjaminnya pangan di tengah masyarakat dengan harga yang murah sekaligus pemegang hak untuk melakukan ekspor apabila terjadi surplus pangan. 

Meskipun diperbolehkan pihak swasta melakukan investasi namun negara tidak diperbolehkan menyerahkannya ke swasta. Sehingga fungsi negara dalam sektor pertanian ini harus tetap menjadi yang terdepan dan pelindung rakyat kecil. 

Kewajiban negara memberikan dana yang besar untuk menghasilkan produk pertanian yang berkualitas sesuai dengan kebutuhan, mengajarkan pengelolaan pertanian berteknologi maju, menjalankan pendistribusian pertanian secara merata sehingga tidak terjadi kelangkaan, memberikan gaji yang tinggi bagi petani sehingga tidak akan menjadi rakyat kelas nomer dua. Meski berbiaya besar pada awalnya namun berbuah kesejahteraan pada akhirnya.

Hal itu dilakukan negara semata untuk menjaga stabilitas pangan dan keamanan negara dan menjaga agar terjadi monopoli pasar. Bukan justru membuka peluang besar para investor menguasai semua aspek, termasuk sektor pertanian.

Dari sini dapat dipahami bahwa wujud kecintaan kita pada Indonesia bukan dengan menerapkan kapitalisme tapi dengan menerapkan sistem yang berasal dari Sang Pencipta. Karena dengan sistem Islam akan mampu menjadikan Indonesia sebagai negara maju dan sejahtera tanpa tergantung siapapun . Wallahu’alam bishawab


No comments:

Post a Comment

Adbox