Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, August 12, 2020

Covid-19 Dalam Secangkir Perhatian

 


Dede Wahyudin (Tabayyun Center)


Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengklasifikasikan penyebaran virus corona (covid-19) sebagai epidemi global. Dan per hari Senin 10 Agustus 2020, dikabarkan jumlah kumulatif kasus positif Covid-19 di Indonesia sebanyak 127.083 orang di Indonesia. Sebanyak 82.236 orang di antaranya sembuh dan 5.765 orang meninggal dunia.


Wabah Covid-19 mampu membuat repot semua negara.  Mau tidak mau masing-masing negara harus mengurus urusan mereka sendir-sendiri. Termasuk  Indonesia negeri tercinta ini yg memang pd kondisi sedang tidak baik-baik saja (jika tak mau disebut carut marut). 


Kaum muslim harus ikut ambil bagian untuk menyelesaikan pandemi global ini. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallama, yang bersabda:


«إذَا سمِعْتُمْ الطَّاعُونَ بِأَرْضٍ، فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإذَا وقَعَ بِأَرْضٍ، وَأَنْتُمْ فِيهَا، فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا»


"Jikalau kalian mendengar ada wabah tha'un di sesuatu negeri, maka janganlah kalian memasuki negeri itu. Dan jika wabah terjadi di daerah di mana kalian sedang berada di dalamnya, maka jangan keluar dari daerah itu untuk melarikan diri darinya." (HR Bukhari-Muslim).


Dari 'Aisyah radhiyallahu 'anha, yang berkata: "Aku pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tentang masalah tha'un, lalu beliau mengabarkan aku bahwa tha'un (penyakit sampar, pes, lepra) adalah sejenis siksa yang Allah kirim kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan sesungguhnya Allah menjadikan hal itu sebagai rahmat bagi kaum Muslim dan tidak ada seorangpun yang menderita tha'un lalu dia bertahan di tempat tinggalnya dengan sabar dan mengharapkan pahala, dan mengetahui bahwa dia tidak terkena musibah melainkan karena Allah telah mentaqdirkan kepadanya, maka dia mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid." (HR Bukhari).


Masuk akal jika saat ini ada tawaran solusi suntuk  pergantian arus berfikir. Pergantian peradaban. Pergantian ideologi yang lebih baik dari kapitalisme dan komunisme. 


Ditambah lagi, usangnya ikatan-ikatan semu bersifat lokal sudah tidak relevan untuk kemaslahatan umat manusia. 


Covid 19  ini semakin menegaskan bahwa dunia ini ibarat satu wadah. Memiliki satu kesatuan dan harus ditata oleh sistem yang satu. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.


Sebagai contoh, dalam perdaban Islam, Masa Sayyidina Umar RA  Syam pernah tertimpa pandemi hebat. Sebagai Kepala Negara, Sayyidina Umar RA mengambil kebijakan lockdown dengan segala konsekuensinya, karena Syam merupakan bagian dari Khilafah Islamiyah. Pandemi dan bebagai dampaknya berhasil ditangani.


Fakta historis tersebut sangat berbeda dengan peradaban saat ini dalam merespon pandemi global. Saat peradaban diambil alih oleh kapitalisme global. Siapa yg bisa me-lockdown Wuhan bahkan China? hingga Covid 19 merembas hampir ke seluruh belahan dunia.


Apakah kedepan akan terjadi krisis ekonomi, krisis sosial, krisis pangan? Wallahu 'Alam. Yang sangat nampak zahir saat ini adalah krisis solusi, dampak dari krisis Ideologi. Berpotensi berujung pd krisis peradaban.


Kalau ke depan saat ini kita harus antisipasi krisis pangan dengan memanfaatkan ruang untuk pemenuhan kebutuhan pangan, maka yg tak kalah penting bagi seoarang muslim  harus mempersiapkan diri jika terjadi perubahan besar dunia akibat krisis peradaban. 


Poinnya, dalam berfikir tidak hanya menjadikan Islam sebagai ajaran Spiritual atau sekedar fiqh muamalah semata. Kita harus belajar bareng memvisualisasikan Islam sebagai sebuah solusi. Sebuah Ideologi. Sebuah peradaban. 


Sehingga saat terjadi wabah, wacana dan wawasan kita tdk hanya pada aspek bahasan seputar hudhurul Jumu'ah, soal zakat untuk pemenuhan asnaf, soal shaf sholat,  tetapi lebih jauh kita mencoba memotret gagasan Islam secara menyeluruh.  Seperti sistem ekonomi Islam, pelayanan kesehatan dlm pespektif Islam, Sistem pemerintahan Islam termasuk pemecahan Islam dalam menangani pandemi.


Dalam kondisi saat ini, negara harus melakukan kewajiban syar'iynya karena penguasa adalah pelayan bagi rakyatnya. Saat menyebar wabah menular, negara juga harus menjamin pelayanan kesehatan berupa pengobaan dan obat secara gratis untuk seluruh rakyat, mendirikan rumah sakit dan laboratorium pengobatan dan lainnya yang termasuk kebutuhan asasi rakyat seperti halnya pangan, pendidikan dan keamanan.


Walhasil, dengan kondisi yang seperti ini, kita benar-benar membutuhkan negara rabbani dan seorang Imam (Khalifah) yang adil, yang berusaha mengangkat masyarakat dari jurang krisis dan kemiskinannya, menegakkan keadilan bagi mereka yang tertindas, mengurusi urusan mereka dengan cara yang menjamin keamanan dan martabat mereka melalui penerapan hukum Allah di tengah-tengah mereka, dan membersihkan negeri dari penindasan kaum penjajah.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox