Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, August 3, 2020

Cara Jitu Atasi Fenomena Gunung Es Seks Bebas


Oleh: Reni Fathonah

Belakangan, jagat maya kembali dikejutkan dengan pemberitaan ratusan remaja yang hamil di luar nikah dan meminta dispensasi menikah kepada Pengadilan Agama Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Karena sesuai UU No. 16/2019 tentang Perkawinan, bahwa batas minimal calon pengantin putri berusia 19 tahun. Sehingga, warga yang berencana menikah namun usianya belum genap 19 tahun harus mengajukan dispensasi nikah.

”Dari 240 pemohon dispensasi nikah, dalam catatan kami ada yang hamil terlebih dahulu dengan jumlah berkisar 50-an persen. Sedangkan selebihnya karena faktor usia yang belum sesuai aturan, namun sudah berkeinginan menikah,” kata Ketua Panitera Pengadilan Agama Jepara Taskiyaturobihah seperti dilansir dari Antara di Jepara pada Minggu (26/7).

Data permohonan dispensasi nikah sebanyak 240 pemohon tercatat mulai Januari hingga Juli dengan rentang usia 14 tahun hingga 18 tahun. Yang sebagian merupakan remaja putus sekolah.

Ini membuktikan bahwa undang-undang tersebut tidak efektif menekan perilaku seks bebas di kalangan remaja. Karena permohonan dispensasi nikah justru kian melonjak setelah pembatasan usia pernikahan dinaikkan dari 16 tahun menjadi 19 tahun. Sebagian besar pemohon merupakan remaja yang hamil di luar nikah dan terjadi di berbagai wilayah.

Hal ini merupakan kondisi yang sangat memprihatinkan, karena remaja yang seharusnya tengah giat berlomba menorehkan prestasi untuk negeri justru terperosok dalam pergaulan bebas karena moralnya terdegradasi.

Jadi, bagaimana bisa kita mengharapkan keberkahan bagi negeri ini jika perzinahan seolah menjadi perkara yang lazim? Sedangkan Rasulullah SAW sudah memperingatkan bencana yang akan muncul akibat maraknya seks bebas melalui sabda beliau:
«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِيْ قَرْيَةٍ، فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»
Jika zina dan riba telah marak di suatu negeri, maka sungguh mereka telah menghalalkan sendiri azab Allah (HR al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Berbagai kerusakan itupun sudah kita lihat. Seperti maraknya angka kehamilan di luar nikah, aborsi dan munculnya beragam jenis penyakit kelamin menular akibat seks bebas.

Lalu apakah solusi komprehensif untuk menyelesaikan masalah remaja yang seperti fenomena gunung es ini?

Satu hal yang pasti, kita harus mencampakkan Kapitalisme yang bercokol di negeri ini. Karena Kapitalisme, dengan asas sekuler-nya (pemisahan agama dari kehidupan) telah membuat manusia menginginkan kehidupannya bebas tanpa aturan Agama. Adapun aturan yang dibuat hanya demi kesenangan yang bersifat materi, bukan berdasarkan perintah dan larangan-Nya. Sehingga menjadikan para remaja tersebut seolah tidak merasa takut dosa saat melakukan seks bebas. Justru mereka melakukannya atas dasar suka sama suka, tanpa paksaan.

Islam adalah agama yang sempurna sebagai pedoman dalam kehidupan. Islam menentukan seperangkat aturan agar menciptakan ketentraman dan ketenangan bagi seluruh alam bila diterapkan. Selain itu, juga menetapkan berbagai pencegahan dan sanksi yang tegas terhadap pelanggaran syariat.

Dalam hal pergaulan, Islam melarang campur baur antara laki-laki dan perempuan (ikhtilat) dan berdua-duaan tanpa mahram (khalwat). Setiap orang yang telah akil baligh diwajibkan menutup aurat dan menjaga pandangan demi terpeliharanya kehormatan.

Selain itu, masyarakat berperan aktif mengontrol berbagai perilaku remaja agar tidak terjadi penyimpangan. Menasehati dengan cara yang makruf, menyibukkan remaja dengan berbagai aktivitas positif seperti kajian keagamaan yang menumbuhkan ketakwaan individu. Tatkala seorang muslim telah memiliki sifat takwa, pasti ia akan takut terhadap azab Allah SWT, akan mendambakan surga-Nya, sekaligus sangat ingin meraih keridhaan-Nya

Berbagai celah akses pornografi yang terdapat di internet, game online, sosial media, televisi dan lainnya harus ditutup. Karena semua itu adalah rangsangan seksual. Dan butuh peran negara di dalamnya. Penetapan sanksi tegas bagi pelanggarnya dan tidak membiarkan pornografi sebagai ajang bisnis.

Jika pembentukan ketakwaan individu dan pencegahan munculnya berbagai rangsangan seksual sudah ditekan namun masih saja ada yang melakukan seks bebas, negara memberlakukan hudud bagi pelaku zina yang belum menikah (ghairu muhsan) berupa jilid 100 kali dan bagi pelaku yang sudah menikah (muhsan) berupa rajam agar menimbulkan efek jera (zawajir) dan sebagai penebus atas dosa zina (jawabir).

Wallahu'alam bish-shawab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox