Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, August 15, 2020

Amerika Memprovokasi Ketegangan Antara China VS India?

 


Aminudin Syuhadak (Direktur LANSKAP) 


Hubungan India - China memanas ditandai dengan konflik perbatasan kedua negara tersebut. China menganggap garis batas di sepanjang Line of Actual Control (LAC) Ladakh merupakan bagian dari wilayah teritorialnya. Klaim serupa juga dilakukan oleh India. 


Pasca bentrokan berdarah di Ladakh, perwakilan dua negara itu telah melakukan pertemuan pada tanggal 22 Juni dan 30 Juni lalu di sekitar perbatasan Ladakh. Dalam beberapa kali pertemuan, kedua belah pihak hanya menyepakati untuk memundurkan pasukan sementara dari titik poin 14 atau lokasi bentrokan fisik di Ladakh. 


Sampai sekarang kedua negara masih terus bersiap-siap untuk perang di sepanjang perbatasan. Karena pemerintah China dan pemerintah India telah mengerahkan ribuan tentara dan sejumlah armada tempurnya di titik-titik lokasi yang tak jauh dari perbatasan Ladakh. Dengan demikian, perang besar antara China dan India sangat mungkin kembali terjadi lagi dalam waktu dekat ini. 


Tensi konflik politik dan militer kedua negara meningkat sejak terpilihnya Narendra Modi sebagai Perdana Menteri pada tahun 2014, India telah mengikuti kebijakan yang disengaja dan diperhitungkan untuk mengintensifkan konfrontasinya dengan Cina, suatu kebijakan yang sangat berisiko bahwa India tidak mendapatkan apa-apa darinya dan ini hanya bisa dipahami untuk dipaksakan kepada Pemerintahan BJP India oleh Amerika.


Bagi Cina dengan ambisinya untuk menjafi raksasa regional memiliki tujuan ingin memisahkan Ladakh, agar India meningkatkan pengembangan infrastruktur militer di daerah maju yang sangat strategis ini antara Garis Kontrol China di timur dengan Garis Kontrol Pakistan di barat, sementara di sebelah utara Ladakh berbatasan dengan Karakoram Pass yang bersejarah, yang merupakan rute terpendek antara India dan Cina.


Demi meningkatkan kekuatan internalnya, China semakin memperkuat diri secara internal melalui kepemimpinan kuat Xi Jinping yang telah mengkonsolidasikan dan memperbarui otoritas politik, militer, komersial dan budaya di tangan Partai Komunis Tiongkok.


Bagi India, tidak mungkin Modi mengadopsi politik provokatif ini tanpa dukungan Amerika melalui Perjanjian 123 yang ditandatangani pada tahun 2005 yang memungkinkan India mendapatkan suplai tetap bahan bakar nuklir untuk reaktor sipil. Berikutnya bahan bakar nuklir itu digunakan di program nuklir India. Pemerintahan Trump mengisyaratkan dengan jelas bahwa ingin membangun kemajuan yang telah dicapai oleh pemerintahan Amerika sebelumnya untuk India. Pada 8 Februari 2017, menteri pertahanan Amerika Jenderal James Matis dalam kontak telepon dengan sejawatnya Menteri Pertahanan India Manohar Parrikar, ia memuji 'kemajuan besar' yang dicapai India dalam 'tahun-tahun terakhir'. Ia menunjuk kepada "kerjasama bersama antara Amerika dan India dalam bidang pertahanan". Ia mengatakan bahwa pemerintahan baru konsern untuk "menjaga momentum dan membangun di atasnya.


Walhasil, bisa diprediksi bahwa Amerika akan memanaskan konflik antara India dengan China untuk menjerumuskan Cina dalam konflik militer. Tujuan Amerika dari hal itu adalah menjauhkan Cina dari aktivitas ekonomi ke aktivitas militer untuk memudahkan kehancuran Cina, sama persis seperti yang telah dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap Uni Soviet. Pada waktu kontemporer, Cina terus menjaga pada batas minimal untuk pencegahan nuklir dan menolak provokasi ke arah perlombaan senjata nuklir.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox