Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, August 12, 2020

75 Tahun Pada Monumen Peringatan

 


Adam Syailindra (Koordinator Forum Aspirasi Rakyat)


75 tahun merdeka. Ini adalah usia yang tua. Tapi, apalah daya, nyatanya di usia setua ini, bangsa dan negeri ini nyatanya belum merdeka. Secara fisik mungkin sudah, karena tak ada lagi penjajah yang menginvasi dan menodongkan senjata ke kepala kita. Tetapi, secara non-fisik, nyatanya belum.


Liberalisasi BUMN, tambang emas, Freeport dan problem gerakan separatisme, adalah fakta. Hancurnya mata uang Rupiah, dikuasainya sebagian besar kekayaan alam Indonesia oleh modal swasta di seluruh Indonesia adalah fakta. Indikasi tidak berdayanya negara dan penguasanya di hadapan mereka di satu sisi, sementara begitu perkasanya mereka ketika menindak umat Islam di sisi lain, adalah fakta.


Masihkah kita menutup mata, bahwa bangsa dan negeri ini belum merdeka? Masihkah menutup mata, bahwa Indonesia yang diproklamirkan 75 tahun lalu merdeka itu faktanya belum merdeka? Iya, negeri yang dihuni mayoritas umat Islam ini nyatanya tak berdaya. Umat Islam lemah, terpinggirkan, bahkan nyaris tertindas. Mengapa? Apa salah mereka?


Jawabannya itu ada pada hadits Nabi saw. saat baginda memekikkan sabda di atas Jabal Ajyad, "Qulu kalimat[an] wahidah tu'thunaha yakhdha' lakum al-'Arab, wa yu'thi al-jizyata lakum al-'A'ajim." [Ucapkanlah satu kata, jika kalian memberikannya, maka seluruh bangsa Arab akan tunduk kepada kalian, dan orang non-Arab akan membayar jizyah kepada kalian]. Nabi melanjutkan, "Qulu La Ilaha illa-Llahu Muhammad Rasulu-Llah." [Nyatakanlah, tiada sesembahan yang berhak disembah, kecuali Allah. Muhammad adalah utusan Allah].


Tepat, 13 tahun setelah itu, Nabi saw. mendapatkan kekuasaan di Madinah. Ketika La Ilaha illa-Llahu Muhammad Rasulu-Llah ini dijadikan dasar negara, dan hukum positif yang tak hanya mengatur kehidupan umat Islam, tetapi juga Yahudi dan Musyrik di Madinah. Hanya dalam waktu 9 tahun, seluruh Jazirah Arab tunduk dan menjadi wilayah Negara Islam yang dipimpin oleh Nabi saw. Setelah baginda saw. wafat, estafet kepemimpinannya dipegang oleh para Khalifah. Dua Emperium, Romawi dan Persia pun tunduk kepadanya. Apa yang disabdakan Nabi saw. pun terbukti.


Namun, setelah kalimat tauhid itu tidak lagi menjadi dasar negara, dan hukum positif yang mengatur kehidupan umat Islam, mereka pun hina dan tak berdaya. Negeri kaum Muslim yang mayoritas Muslim itu pun hingga kini tetap terjajah, setelah kalimat tauhid itu dicampakkan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tepatnya, setelah runtuhnya Khilafah, 3 Maret 1924 M.


Kalimat tauhid itu masih ada, dan menghujam di dalam dada-dada umat Islam, tetapi hanya digunakan saat beribadah mahdhah saja. Ketika shalat, puasa, haji dan zakat. Selebihnya, kalimat tauhid itu mereka aplikasikan entah ke mana. Lihatlah, saat umat ini melakukan aktivitas politik, pemerintahan, peradilan, ekonomi, sosial, pendidikan, sungguh jauh dari kalimat tauhid yang mereka ikrarkan. Mereka kemanakan, kalimat tauhid itu? Maka, wajar jika mereka tidak pernah memenangkan kontestasi. Kalau pun menang, tentu yang mereka hasilkan bukanlah sistem yang Allah titahkan.


Allah SWT berjanji memberikan kekuasaan kepada orang Mukmin yang melakukan amal shalih, jika mereka menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apapun [Q.s. 24: 55]. Artinya, mereka harus benar-benar men-tauhid-kan Allah, bukan hanya dalam ibadah mahdhah mereka saja, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan yang lain. Kekuasaan bukan sembarang kekuasaan, tetapi kekuasaan yang Allah titahkan. Itulah sistem Islam. Kekuasaan yang akan mengakhiri penjajahan, dan mengembalikan kemuliaan umat Islam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox