Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Saturday, July 25, 2020

Perencanaan Kota Dan Aspek Pertahanan Pada Era Itu...




Agung Wisnuwardana
[Straregic And Military Power Watch]

Seribu tahun yang lalu, tidak banyak kota besar di dunia dengan penduduk di atas 100.000 jiwa. Menurut para sejarahwan perkotaan, Modelski maupun Chandler, Baghdad di Irak memegang rekor kota terbesar di dunia dari abad-8 M sampai abad-13 M. Penduduk Baghdad pada tahun 1000 M ditaksir sudah 1.500.000 jiwa. Peringkat kedua diduduki Cordoba di Spanyol yang saat itu juga merupakan wilayah Islam dengan 500.000 jiwa. Baru kemudian Konstantinopel yang saat itu masih ibukota Romawi-Byzantium dengan 300.000 jiwa.

Meski banyak penduduknya, sebagaimana laporan para pengelana Barat, baik Baghdad maupun Cordoba adalah kota-kota yang tertata rapi. Saluran sanitasi pembuang najis ada di bawah tanah. Jalan-jalan luas, bersih dan diberi penerangan pada malam hari. Ini kontras dengan kota-kota di Eropa pada masa itu yang kumuh, kotor dan di malam hari gelap-gulita sehingga rawan kejahatan.

Pada 30 Juli 762 M Khalifah al-Mansur mendirikan Kota Baghdad. Al-Mansur percaya bahwa Baghdad adalah kota yang akan sempurna untuk menjadi ibukota Khilafah. Modal dasar kota ini adalah lokasinya yang strategis dan memberikan kontrol atas rute perdagangan sepanjang sungai Tigris ke laut dan dari Timur Tengah ke Asia. Ketersediaan air sepanjang tahun dan iklimnya yang kering juga membuat kota ini lebih beruntung daripada ibukota Khilafah sebelumnya, yakni Madinah atau Damaskus.

Namun, modal dasar di atas tentu tak akan efektif tanpa perencanaan yang luar biasa. Empat tahun sebelum dibangun, tahun 758 M al-Mansur mengumpulkan para surveyor, insinyur dan arsitek dari seluruh dunia untuk datang dan membuat perencanaan kota. Lebih dari 100.000 pekerja konstruksi datang untuk mensurvey sejumlah rencana. Banyak dari mereka disebar dan diberi gaji untuk langsung memulai pembangunan kota. Kota dibangun dalam dua semi-lingkaran dengan diameter sekitar 19 kilometer. Bulan Juli dipilih sebagai waktu mulai karena dua astronom, Naubakht Ahvaz dan Masyallah, percaya bahwa itu saat yang tepat karena air Tigris sedang tinggi sehingga kota dijamin aman dari banjir. Batubata yang dipakai untuk membangun berukuran sekitar 45 cm pada seluruh seginya. Abu Hanifah adalah penghitung batubata dan dia mengembangkan sistem kanalisasi untuk membawa air, baik untuk pembuatan batubata maupun untuk kebutuhan manusia.

Untuk setiap bagian kota yang direncanakan dengan jumlah penduduk tertentu dibangunkan masjid, sekolah, perpustakaan, taman, industri gandum, area komersial, tempat singgah bagi musafir hingga pemandian umum yang terpisah antara laki-laki dan perempuan. Bahkan pemakaman umum dan tempat pengolahan sampah juga tidak ketinggalan. Sebagian besar warga tak perlu menempuh perjalanan jauh untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya serta untuk menuntut ilmu atau bekerja. Pasalnya, semua berada dalam jangkauan perjalanan kaki yang wajar, dan semua memiliki kualitas yang standar. Negara juga dengan tegas mengatur kepemilikan tanah berdasarkan syariah Islam. Tanah pribadi yang ditelantarkan lebih dari tiga tahun akan ditarik kembali oleh negara. Dengan begitu selalu tersedia tanah-tanah yang dapat digunakan untuk membangun fasilitas umum.

Perencanaan kota juga memperhatikan aspek pertahanan terhadap ancaman serangan. Ada empat benteng yang mengelilingi Baghad; masing-masing diberi nama Kufah, Basrah, Khurasan dan Damaskus—sesuai dengan arah gerbang untuk perjalanan menuju kota-kota tersebut. Setiap gerbang memiliki pintu rangkap yang terbuat dari besi tebal, yang memerlukan beberapa lelaki dewasa untuk membukanya.

Tidak aneh jika kemudian Baghdad dengan cepat menutupi kemegahan Ctesiphon, ibukota Kekaisaran Persia yang terletak 30 Kilometer di tenggara Baghdad, yang telah dikalahkan pada Perang al-Qadisiyah pada tahun 637. Baghdad meraih zaman keemasannya saat era Harun al-Rasyid pada awal abad ke-9 M.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox