Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, July 5, 2020

Minim "Sense of Crisis", Penyakit Bawaan Sistem Kapitalis



Oleh Dyan Ulandari

Beberapa hari lalu viral rilisan video rapat internal kabinet Presiden Joko Widodo. Presiden marah dan menunjukkan  ketidakpuasannya terhadap kinerja para menteri dalam menangani pandemi covid-19. Para menteri hilang sense of crisis, begitu paparnya. Sense of crisis yang tidak sama ditengarai menyebabkan kebijakan yang dibuat biasa saja, seolah keadaan normal. Banyak anggaran yang harusnya digunakan untuk stimulus namun banyak yang belum terserap. Bahkan presiden mengancam jika para menteri membuat kebijakan yang biasa saja seperti kondisi normal tak segan-segan diresshuffle. (katadata.co.id, 28/6/2020)

Di kesempatan lain Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan 'musuh baru'  kebijakan stimulus fiskal dan Penanganan Ekonomi Nasional, yakni pada operasional dan proses administrasi. Beliau memaparkan hal itu menyebabkan rendahnya serapan belanja di beberapa program sektoral. (www.idntimes.com, 27/6/2020)

Di sisi lain ada anggota komisi XI DPR mengkritik Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang masih menggunakan pola lama dan kurang sense of crisis dalam menghadapi  perekonomian yang memburuk akibat pandemi penyakit virus covid-19. Menkeu dinilai tidak tepat dengan menempatkan dana di empat Himbara (Himpunan Bank Negara) karena itu berarti tak beda jauh dengan penanganan krisis finansial global tahun 2008, padahal krisis yang dihadapi saat ini sangat berbeda. (wartaekonomi.co.id, 1/7/2020)

*Pelajaran Menangani Wabah*

Wabah datang bukan tanpa sebab. Sewajarnya manusia harus menghindari dan segera melakukan tindakan ketika wabah ini menyerang.

Belajar dari langkah-langkah global dalam penanganan wabah, kita harusnya bisa mencontoh dari cara-cara terbaik yang pernah ada. Umat Islam masa lalu pernah berhasil mengatasi serangan wabah terhitung singkat dan efektif terlebih teknologi pada masa itu belum secanggih saat ini.

Bagaimana bisa begitu? Karena kehidupan bernegara waktu itu berpijak pada sesuatu yang haq. Maka dari itu negara dan jajarannya akan berusaha tanggap mengurus rakyat sebagai amanah dengan sebaik-baiknya. Landasan yang sama akan meminimkan bias rasa termasuk _sense of crisis._

Masyarakat bukanlah sekelompok individu yang bisa menghindari serangan virus dengan mencukupkan kekuatan individu saja, melainkan secara komunal. Terlebih menghindari dan mengobati virus covid,  tentu skala individu akan mengalami keterbatasan. Maka sudah seyogyanya penguasa dengan tanggap melindungi seluruh rakyat dengan upaya yang terbaik.

*Ketika Kapitalis Memimpin Kebijakan*

Namun apalah daya hari ini kepemimpinan berlandaskan pada sistem kapitalistik. Tak sedikit bagian dari penguasa yang kehilangan rasa peka dalam memenuhi hak rakyat yang menunggu pelayanannya. Administrasi, birokrasi, dan operasional ribet, sosialisasi yang minimalis, dan sebagainya mengharuskan antrian panjang bahkan ketidak sinkronan satu sama lain.

Hal itu mudah saja muncul bahkan menjadi 'kewajaran' dalam sistem kapitalistik. Karena segala hal dihitung bermula dari pertimbangan materi. Rugi materi, maka tak dikerjakan. Tak ada untung maka lamban mengerjakan. Rakyat kesusahan butuh segera pertolongan biarlah berhenti menjadi urusan pribadi.

*Bersegera Menuju Kebaikan dengan Islam*

Menjadi pertanyaan, masih adakah orang baik dan tanggap di jajaran penguasa hari ini? Jikapun ada yang baik dan tanggap, semua itu tak urung terlindas dengan tata aturan dan protokol ala kapitalis.

Maka orang baik tak akan cukup menjadikan masyarakat terurus dengan baik jika tata aturan yang dijadikan pijakan bersumber dari sistem yang tidak baik. Sistem kapitalistik sistem yang materialistik terbukti telah merusak nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan menyuburkan budaya egoisme.

Manusia adalah makhluk mulia dan sempurna. Ia berakal dan mempunyai hati, bisa berfikir dan memiliki rasa. Mari kita bersama bersegera meninggalkan yang buruk menuju yang baik saja.

Ibarat kata jika ingin memanen buah apel yang manis maka harusnya kita menanam bibit pohon apel manis. Sangat mustahil apel manis tumbuh dari akar pohon alang-alang.

Jika menginginkan kehidupan yang baik, para penguasa yang tidak kehilangan sense, cepat tanggap mengurusi rakyat baik kala normal maupun krisis, maka tak hanya cukup mengharap dan mengganti orang-orang sedangkan aturan mainnya tetap sama. Sudah saatnya kita mengganti sistem hingga ke akar-akarnya.

Cabut, dan gantikan dengan sistem yang baik yakni sistem Islam. Maka orang baik akan terjaga baiknya, bahkan orang yang berniat jahat akan tersuasanakan bisa berubah menjadi baik. Karena yang baik itu akan menjadi rahmat seluruh alam. Bukan hanya untuk ras kulit putih, hitam, muslim, non muslim, bahkan alam semestapun akan merasakan rahmatnya.

Lantas, apalagi yang kita tunggu? Bukankah Allah SWT telah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Maidah: 50).

_Allahua'lambisshowab_

No comments:

Post a Comment

Adbox