Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Thursday, July 9, 2020

Ketika Politisi Islam Ideologis Terjun Dalam Kancah Pergolakan Global



Lalang Darma (Islamic Independent Journalist)

Dalam buku "Pemikiran Politik Islam", Abdul Qadim Zallum menguraikan, bahwa Politik dalam Islam memiliki makna mengatur urusan Ummat baik di dalam maupun luar negeri. Dalam implementasinya, politik dilaksanakan oleh negara maupun ummat. Negara adalah institusi yang yang mengatur urusan tersebut secara praktis, sedangkan ummat melakukan koreksi (muhasabah) terhadap pemerintah dalam menjalankan tugasnya (Zallum: 2001;11).

Rasulullah SAW bersabda ;

"Adalah bani Israil yang mengatur urusan mereka adalah para nabi. Bila wafat seorang nabi, diganti nabi berikutnya. Tetapi tidak ada nabi setelahku. Akan ada para khalifah." (THR. Muslim dari Abi Hurairah)

Hadits ini menunjukan bahwa kepentingan kaum muslimin akan dipelihara dan diurus oleh para khalifah. Khalifah (penguasa) memiliki tanggung jawab dalam memelihara dan mengatur urusan ummat. Bahkan Rasulullah SAW melakukan langsung aktivitas tersebut sebagai penunjukan bahwa tanggung jawab pengurusan ummat dan kekuasaan adalah milik beliau. Sebagai contoh, Rasulullah SAW langsung membangun masjid sebagai tempat shalat sekaligus pusat musyawarah dan aktivitas pemerintahan, pasca hijrah ke madinah. Rasululllah SAW memberikan tempat di masjid bagi para ahlu shuffah, beliau juga yang mendistribusikan harta shadaqah pada fakir miskin. Beliau menerapkan sanksi pada warga negara yang melanggar aturan, memberikan layanan pendidikan dan kesehatan, serta mengangkat kepala polisi untuk menjaga keamanan warga. Beliau mengangkat para wali, amil, dan hakim, petugas pengumpul harta baitul maal, mengangkat qaidul jaisy (pemimpin pasukan perang), para duta/utusan negara, mengumumkan peperangan dengan negara kafir, mengikat perjanjian damai, gencatan senjata, dan lainnya. Inilah politik dalam negeri daulah Islam.

Adapun politik luar negeri daulah Islam adalah mengatur hubungan negara Islam dengan negara-negara, umat dan bangsa-bangsa lain. Hubungan ini bertujuan untuk mengurus kepentingan umat Islam. Asas politik luar negeri daulah Islam adalah menyebarkan risalah Islam dengan menyeru umat dan bangsa-bangsa lain untuk masuk ke dalam Islam. Firman Allah SWT yang artinya; "dan tidaklah Kami mengutus engkau, melainkan untuk seluruh manusia" (TQS: Saba; 34). Rasulullah SAW bersabda (yang artinya): "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka berkata "laa ilaha illa Allah, Muhammad Rasulullah". Jika mereka mengatakannya, berarti mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku, kecuali dengan alasan yang benar."

Dari aspek ummat Islam, pelaksanaan politik adalah dalam bentuk muhasabah pada penguasa. Sehingga sangat penting umat memiliki kesadaran politik dan menjadi para politisi ideologis. Sebab hanya para politisi ideologis lah yang bisa melakukan muhasabah pada penguasa. Politisi ideologis adalah politisi yang menjadikan ideologi (Islam) sebagai landasan berfikir dan bertindak. Politisi Islam ideologis adalah individu yang beraktivitas dalam rangka memellihara dan mengatur urusan ummat (riayah) yang didasarkan pada ideologi (mabda) Islam.

Maka politisi Islam ideologis akan terjun dalam kancah percaturan politik dunia. Dia akan terjun untuk memperjuangkan dan menanamkan pemahamannya kepada manusia lain. Dia akan terjun untuk melawan semua pemahaman dan arah pandang yang bertentangan dengan arah pandang Islam. Secara praktis, politisi Islam ideologis akan senantiasa melakukan kontak, dan opini untuk memperjuangkan pemahamannya. Politisi seperti inilah yang akan membangkitkan ummat, mewujudkan khilafah Islamiyah dan memeliharanya, seraya mengemban risalah Islam ke seluruh penjuru alam. Politisi seperti inilah yang akan mampu merubah kegelapan dunia menjadi terang dengan cahaya Islam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox