Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Wednesday, July 15, 2020

"Kawin Kontrak" Vokasi dan Industri, Cermin Kapitalisasi Pendidikan Tinggi



Oleh : Dwi Indah Lestari, S.TP (aktivis Muslimah, member WCWH Madura)

Layaknya kisah Siti Nurbaya, Perguruan Tinggi saat ini sedang di"jodoh"kan dengan industri. Pemerintah berharap dengan perjodohan ini, akan mampu menjawab persoalan SDM yang kurang berkompetensi untuk memenuhi kebutuhan industri. Namun tepatkah ini dilakukan pada perguruan tinggi?

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, melalui Dirjen Pendidikan Vokasi akan memulai pernikahan massal antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja. Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, Ph.D, pun menjelaskan tujuan utama Program Penguatan Program Studi (Prodi) Pendidikan Vokasi Tahun 2020 tersebut, yaitu agar kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja (kagama.co, 26 Mei 2020).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim, memang berupaya mendorong "perjodohan" atau kerjasama antara pergruruan tinggi atau kampus dengan industri. Strategi ini dinilai penting untuk menghubungkan kampus dengan industri sehingga bisa saling memperkuat keduanya. Kampus nantinya bisa menciptakan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh industri (lensaindonesia.com, 4 Juli 2020).

Kebijakan yang dikeluarkan oleh Kemendikbud itu ditujukan agar tercipta mahasiswa unggul  dalam rangka menyambut era disrupsi revolusi industri 4.0. Peran pemerintah dalam hal ini adalah sebagai pendukung, regulator dan katalis. Sebagai regulator pemerintah turut mendukung program link-match pendidikan tinggi dengan industri melalui pemberian insentif terkait sejumlah penelitian vokasi (lensaindonesia.com, 4 Juli 2020).

Demi suksesnya per"kawinan kontrak" tersebut, Kemendikbud melalui program penguatan prodi vokasi PTN dan PTS kemudian menggulirkan langkah-langkah strategis. Diantaranya dengan melakukan program pembinaan PTS, memasukkan materi-materi training industri ke dalam kurikulum dan melibatkan praktisi indutri untuk memberikan pengajaran di perguruan tinggi.

Melalui perkawinan massal ini, diharapkan lulusan-lulusan perguruan tinggi akan memiliki kompetensi yang dibutuhkan oleh industri, sehingga memudahkan untuk mendapatkan pekerjaan. Sementara pihak industri juga akan diuntungkan dengan tersedianya SDM siap pakai untuk memenuhi kebutuhannya terhadap tenaga kerja.
----------------
Kapitalisasi Pendidikan

Apa yang terjadi saat ini pada perguruan tinggi dengan program link-match tersebut, mengundang keprihatinan. Pasalnya, Perguruan Tinggi diarahkan hanya untuk membentuk kompetensi semata tanpa pembangunan karakter yang benar. Lulusan Perguruan Tinggi terkesan diarahkan hanya untuk memenuhi kebutuhan "jasmani" indutri akan tenaga kerja saja.

Padahal tanpa ruh karakter yang benar, mereka akan menjelma ibarat individu-individu yang minim kepedulian terhadap umat dan hanya bekerja untuk kepentingan privatnya saja. Potensi generasi yang seharusnya ditujukan untuk membangun peradaban bangsa, diamputasi hanya untuk mencapai tujuan sesaat mengejar recehan dunia.

Lebih jauh lagi, kawin kontrak dunia vokasi dengan industri ini menjadi cerminan bagaimana dunia pendidikan telah mengalami kapitalisasi akut. Melalui corong-corong indutri yang dikuasai para kapitalis, generasi bangsa dihisap energinya untuk memutar roda perindustrian yang dikuasainya. Ini semakin mengukuhkan dominasi kapitalisme dan negara-negara pengusungnya atas negeri ini.

Sementara itu negara tak ubahnya berperan hanya sebagai makcomblang. Regulasi yang dikeluarkan berupa pemberian insentif, tak ubahnya hanya untuk memuluskan kepentingan para kapitalis. Hasil penelitian tersebut tak sedikitpun yang memberikan manfaat untuk rakyat, sebab dari awal tujuan program link-match tersebut adalah untuk menguntungkan para pengusaha.

Sementara narasi bahwa hal itu juga menguntungkan lulusan PT karena lebih mudah mendapat kerja, hanyalah pemanis saja. Sebab mereka tak lain hanyalah dipersiapkan sebagai buruh semata. Di sini tergambar bagaimana kebijakan “kawin paksa” ini sebenarnya lebih untuk mengakomodir kepentingan kapitalis daripada untuk kepentingan rakyat.
----------------
Kemana Pendidikan Seharusnya Diarahkan

Sesungguhnya pendidikan adalah satu bagian dari urusan rakyat yang menjadi tanggung jawab negara. Pendidikan tidak boleh diarahkan hanya untuk mencetak sumber daya manusia yang siap kerkiprah di dunia kerja saja. Lebih daripada itu, pendidikan tinggi seharusnya ditujukan untuk menciptakan sosok-sosok generasi yang memliki kualitas karakter yang baik dan terpuji serta menguasai kompetensi dan ketrampilan untuk bisa menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di tengah masyarakat.

Untuk itu sistem pengajaran yang diberikan di perguruan tinggi harus melingkupi dua hal, yaitu pembentukan karakter dan penguasaan ilmu dan teknologi. Dengan begitu generasi yang tercipta akan memiliki sense terhadap permasalahan-permasalahan umat dan tidak hanya berambisi memenuhi hajat hidupnya sendiri. Lebih dari itu generasi seperti inilah yang akan diharapkan bisa berkontribusi memperbaiki dan membangun negara menjadi lebih maju.

Tentu saja hal seperti ini tidak akan diperoleh dengan penerapan sistem kapitalisme yang saat ini mencengkeram negeri ini. Kapitalisme dengan aspek manfaat yang mendominasi semua cara pandang kehidupannya, hanya akan menjadikan rakyat di negeri yang di"jajah"nya sebagai budak yang mengikuti apa mau para pemilik modal. Bahkan penguasa negeri tersebut tak lebih hanya menjadi pembebek atas segala kebijakan-kebijakan negera-negara kapitalis.

Nyata sekali kerusakan sistem kapitalisme yang jauh dari fitrah manusia ini. Sistem ini tak lebih hanya membawa kenestapan pada umat manusia. Sehingga semestinya umat mulai menengok sistem lain untuk menggantikannya. Agar umat tak terus-menerus dalam jurang kesengsaraan.
---------------
Sistem Pendidikan Islam Sebagai Solusi

Islam adalah sebuah sistem hidup yang sempurna. Lahir dari Sang Pencipta alam semesta, Allah Swt, sistem ini menjamin aturannya akan memberikan penyelesaian yang tuntas dan menyeluruh serta membawa kebaikan. Seluruh aspek kehidupan manusia tak ada yang luput dari pengaturannya, termasuk pendidikan.

Dalam Islam, sistem pendidikan dibangun berlandaskan pada akidah Islam semata. Landasan ini meniscayakan aturan-aturan yang terpancar darinya adalah dalam rangka menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Dengan demikian tidak ada pemisahan antara ilmu dunia dengan agama dalam Islam. Semuanya harus didasarkan pada akidah Islam saja.

Sistem pendidikan harus dibangun dengan memperhatikan dua tujuan pokok. Yang pertama adalah membangun kepribadian Islami, yaitu pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) yang Islami. Hal ini akan dicapai dengan jalan menanamkan tsaqafah Islam ke dalam akal dan jiwa anak didik.  Dengan demikian output yang dihasilkan adalah individu-individu yang senantiasa mengikatkan seluruh pola pikir dan pola sikapnya pada hukum syara'.

Tujuan kedua adalah mempersiapkan generasi untuk menjadi ulama-ulama yang ahli di setiap aspek kehidupan, baik dalam ilmu keIslaman maupun ilmu terapan. Mereka inilah yang akan membawa Islam dan kaum muslimin berada di posisi puncak diantara bangsa-bangsa lain. Bukan sebagai pengekor atau pengikut negara lain.

Dalam hal pendidikan tinggi, penanaman dan pendalaman kepribadian Islam secara intensif akan terus dilakukan. Dengan peningkatan kualitas kepribadian ini, para mahasiswa diharapkan akan siap menjadi pemimpin-pemimpin, yang memiliki kepekaan terhadap permasalahan umat dan memiliki kemampuan untuk menyelesaikannya dengan sudut pandang Islam.

Sementara itu berbagai ilmu terapan yang diajarkan akan diarahkan agar mereka bisa menjadi sekumpulan orang-orang yang mumpuni dalam mengelola urusan umat, seperti para hakim, para pakar fiqh, dokter, guru, perawat dan lain-lain. Perguruan tinggi juga dituntut untk melahirkan para peneliti yang kompeten dalam ilmu dan praktek, untuk menciptakan berbagai sarana dan teknik yang terus berkembang di berbagai bidang, seperti pertanian, pengairan, keamanan dan kemaslahatan hidup lainnya.

Tentu saja sistem pendidikan seperti ini hanya bisa ditegakkan dalam sebuah insitusi yang lahir dari akidah yang sama, yaitu sistem pemerintahah Islam (khilafah). Dengan khilafah, berbagai kebutuhan dan pembiayaan yang dibutuhkan untuk terselenggaranya sistem pendidikan Islam akan dikelola dengan penuh tanggungjawab. Sebab menerapkan seluruh hukum Islam atas umat adalah kewajiban yang diemban oleh khilafah, termasuk dalam aspek pendidikan.

Khilafah wajib menyediakan fasilitas berupa bangunan, alat-alat, laboratorium, perpustakaan, buku-buku dan lain-lain yang akan mendukung terwujudnya pendidikan Islam di tengah-tengah umat. Termasuk diantaranya adalah menyediakan para pengajar yang kompeten. Negara pulalah yang akan menyusun kurikulum yang berlaku bagi setiap lembaga pendidikan yang ada, yang dibangun berdasarkan pada akidah Islam semata. Seluruh sistem pengajaran yang diterapkan nantinya tidak boleh keluar dari kurikulum yang sudah ditetapkan oleh khalifah.

Khilafahpun akan mendukung secara penuh dan serius terhadap upaya-upaya pengembangan ilmu dan pengetahuan demi kemaslahatan umat. Semua pembiayaannya akan diambil dari baitul mal. Pemasukan baitul mal yang berasal dari berbagai sumber seperti fa'i, kharaj, pengelolaan harta milik negara dan milik umum, lebih dari cukup untuk bisa merealisasikan pemenuhan kebutuhan pendidikan bagi setiap warga negara Islam. Sehingga mimpi pendidikan gratis akan terwujud menjadi kenyataan dengan sistem pendidikan islam.

Lulusan perguruan tinggi pun tak perlu khawatir tak akan mendapatkan pekerjaan saat lulus nanti. Sebab tanggung jawab negara salah satunya adalah menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup untuk setiap orang agar dapat memenuhi hajat hidupnya sehari-hari. Bahkan sistem pendidikan Islam tidak boleh diarahkan hanya utuk mendapatkan pekerjaan setelah keluar dari jenjang pendidikan yang ada.

Dengan penegakan syariat Islam secara sempurna oleh khilafah, pendidikan akan melahirkan individu-individu pada hakikat yang sesungguhnya, yaitu terbentuknya generasi bersyakhsiyah Islam tinggi dengan kompetensi mumpuni yang siap menjadi pemimpin di tengah-tengah umat. Dengan merekalah umat Islam akan lahir menjelma menjadi peradaban agung dan mulia, yang menjadi mercusuar bagi bangsa dan umat lainnya. Generasi Islam akan tampil menjadi pembebas yang membawa cahaya dan menyingkap kegelapan yang menutupi dunia. Wallahu'alam bisshowab.



No comments:

Post a Comment

Adbox