Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, July 10, 2020

Jika Pelangi Tidak Indah Lagi



Oleh: Pipit Agustin

Perusahaan besar Unilever mendeklarasikan dirinya mendukung komunitas "Pelangi" (LGBT) beberapa waktu lalu. Pernyataan itu diposting lewat akun instagramnya, Unilever Global pada Jumat 19 Juni 2020. Tidak hanya Unilever, dukungan terhadap LGBT juga mengalir dari sejumlah perusahaan internasional, seperti Apple, Google, Facebook, Youtube, dan Microsoft Corp.

Dukungan Unilever terhadap gerakan kaum Pelangi telah menuai kecaman di dunia maya. Tak sedikit seruan untuk memboikot produk Unilever. Seruan boikot juga disampaikan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung, menegaskan akan mengajak masyarakat untuk beralih pada produk lain. “Saya selaku ketua komisi ekonomi MUI akan mengajak masyarakat berhenti menggunakan produk Unilever dan memboikot Unilever,” kata Azrul saat dihubungi Republika, Ahad (28/6).

Di negeri-negeri Muslim, resistensi terhadap gerakan LGBT masih terlihat jelas. Berbagai reaksi penolakan seperti yang dilakukan MUI juga dilakukan berbagai elemen masyarakat di seluruh Indonesia dan dunia. Bahkan para Ulama Al-Azhar telah mengeluarkan fatwa haramnya menikah sesama jenis pada 2013 lalu melalui Lembaga Riset Islam (Majma' al-Buhuts al-Islamiyyah).

Sejak lama, praktik kaum Pelangi ini dianggap penyimpangan fitrah kemanusiaan. Namun tak dipungkiri, gejala LGBT saat ini terus menyebar dan menginfeksi negeri-negeri Muslim. Karena itu, resistensi saja belum cukup. Boikot produk juga masih kurang untuk menangkis ekspansi budaya kaum LGBT. Diperlukan kesadaran politik yang sempurna dari umat Islam dalam menyikapi pergerakan kaum Luth modern ini.

Hal ini cukup beralasan mengingat gerakan LGBT memiliki Amerika dan Barat sebagai kekuatan politik yang mem-backingi. Di abad millenial ini, kaum LGBT telah bertransformasi menjadi kekuatan politik. Sebagai buktinya, eksistensi mereka telah diakui secara politis oleh AS sebagai pionir dalam konstelasi Internasional. AS memfasilitasi puncak perjuangan kaum LGBT, yakni "pernikahan sejenis". Pada 2008 bahkan PBB telah mengakui hak-hak mereka melalui instrumen deklarasi.

Era ini bisa dibilang puncak keberhasilan mereka, dimulai dari Belanda sebagai negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis tahun 2001, disusul Belgia (2003), Spanyol dan Kanada (2005), Afsel (2006), Norwegia-Swedia (2009), Argentina (2010), Denmark (2012), Brazil-Inggris-Perancis (2013), Irlandia-Meksiko (2015), AS (2015).

Sementara itu, di Asia, Taiwan menjadi negara pertama yang melegalkan pernikahan sejenis pada tahun 2019. Di Indonesia, pernikahan sejenis hampir saja terjadi di beberapa daerah seperti Medan, dan Sopeng pada 2015-2016, meski tidak secara terang-terangan. Mereka memanipulasi data, tampilan fisik, ataupun nama ketika prosesi ijab-kabul.

Hari ini, kita menyaksikan dengan terang benderang, perusahaan konsumen raksasa Unilever dan semisalnya menjadi supporter LGBT. Industri medsos dan dunia hiburan menjadi bensin bagi lifestyle menyimpang yang diekspor ke negeri-negeri Muslim ini. Dukungan terang-terangan ini juga mengukuhkan eksistensi kaum LGBT secara struktural dan kultural pada masyarakat Muslim Indonesia.

Kampanye massif pemuja kebebasan ini juga dilakukan melalui media sosial. Sebut saja Instagram. Beberapa hari lalu membuat netizen geram atas diluncurkannya empat paket fitur terbaru yang merupakan wujud dukungan terhadap LGBT. Kaum liberalis tak kehabisan dalih. Mereka beralasan mendukung kaum minoritas LGBT agar mendapatkan hak yang sama dan diakui sebagaimana manusia lainnya.

Oleh karena itu, resistensi dan boikot saja masih belum cukup untuk menghapus jejak kaum Pelangi. Sikap dan tindakan yang demikian tidak boleh dibiarkan karena sifatnya hanya temporal dan sporadis. Sedangkan kita tahu, sesungguhnya musuh yang dihadapi sudah menjelma menjadi kekuatan politik sistematis, disupport dana fantastis, dan efeknya sangat destruktif.

Tidak ada jalan lain, secara taktis-strategis, para ulama dan aktivis Muslim harus aktif melakukan setidaknya tiga tindakan riil berikut;

Pertama, mengkampanyekan visi Islam yang sangat manusiawi dalam hal melestarikan keturunan dan memelihara keluhuran peradaban manusia. Hal ini bisa ditempuh melalui edukasi ke tengah-tengah umat bahwa seluruh larangan Allah pasti juga bertentangan dengan fitrah manusia. Termasuk dalam hal fitrah melestarikan jenis.

Allah SWT berfirman:
" Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telahenciptakan kamu dari seorang diri, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)  hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu." (QS. An-Nisa': 1).

Meluasnya kaum pelangi dalam sebuah masyarakat dapat mengakibatkan bahaya depopulasi demografi. Kaum LGBT mustahil menghasilkan keturunan, terlebih keturunan yang shalih. Karena itulah Allah SWT menciptakan hanya laki-laki dan perempuan di Kerajaan Bumi sebagai pasangan untuk melestarikan jenis. Allah SWT juga telah menetapkan sanksi tegas bagi manusia-manusia nekat pelaku liwath (LGBT). Sanksi berupa hukuman mati atau diasingkan tidak lain adalah untuk menghapus penyimpangan fitrah sekaligus sebagai jalan merealisasi maqashid syariah (tujuan hakiki syariat Islam), yaitu memelihara nasab (keturunan) manusia. Inilah visi humanis Islam.

Kedua, Merekonstruksi praktik amar ma'ruf nahi munkar di tengah masyarakat. Selama ini, praktik amar ma'ruf nahi munkar terkungkung dalam selimut individualisme dan spirit HAM yang tebal. Hampir-hampir tidak terlihat wujudnya. Padahal umat Islam memiliki tugas kolektif mencegah kemunkaran pada masyarakat. Setiap Mukmin memiliki gugus fungsi sebagai imunitas yang kuat dalam masyarakat guna mencegah infeksi penyakit sosial seperti LGBT.

Bukti kepedulian terbaik kepada para pelaku penyimpangan adalah dengan "menyadarkan" bahwa perilakunya menyimpang. Dukungan terbaiknya adalah dengan mengobati 'mindset' mereka agar bisa sembuh dan kembali kepada kodrat insaniahnya. Bukan malah 'dimotivasi' agar tetap eksis dengan mengidap LGBT lalu dibenarkan atas nama HAM.

Ketiga, mendidik masyarakat bahwa ide dan konsep Kebebasan dan HAM yang sering menjadi hujah para pegiat LGBT adalah konsep batil. Tidak hanya bertentangan  dengan fitrah manusia, tetapi juga mengandung bahaya bagi eksistensi manusia itu sendiri. Paham kebebasan individu yang menjadi nyawa para pegiat LGBT merupakan paham kebebasan ekstrem. Di dalamnya terkandung racun yang dapat membunuh kemaslahatan orang banyak, terutama generasi yang akan datang. Itu di satu sisi. Sementara di sisi lain, HAM sendiri menjadi bedil politik bagi AS untuk memantau dunia Islam. Hal ini dapat dilihat dari standar ganda AS dalam menilai implementasi HAM.

Selain ketiga hal di atas, ada satu hal lagi yang tidak kalah penting, yaitu menyeru negeri-negeri Muslim untuk menggalang persatuan dalam institusi politik Islam (khilafah). Karena sesungguhnya inilah perisai hakiki umat manusia yang menjamin kemuliaan generasi dan martabat manusia dari perilaku hewani kaum pelangi. Dengan khilafah, jejak pelangi akan benar-benar terhapus dari muka bumi, selamanya. Wallahu a'lam.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox