Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Friday, July 31, 2020

Jadilah Guru Terbaik



Romadhon Abu Yafi
(Laras)

Para guru adalah generasi pendidik. Sistem pendidikan sebenarnya tak melulu bicara output, dimana siswa/mahasiswa berperan sebagai peserta didik. Tapi juga memperhatikan kualitas sang pendidik, yang tak lain adalah para guru. Baik pendidik maupun anak didik, mereka sama-sama kaum terpelajar, yang oleh Allah SWT dikaruniai kedudukan sangat utama. Firman Allah SWT:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (TQS Al-Mujaadilah [58]: 11).

Bahkan aktivitas menuntut ilmu, disanjung oleh Rasulullah saw sebagai investasi akhirat, sebagaimana dalam sabdanya:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara yaitu: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau do’a anak yang sholih.” (HR. Muslim no. 1631).

Guru, mengemban amanah agung jika dilakukan semata untuk mendapat ridho Allah SWT. Guru adalah cahaya. Dan bukankah Nabi kita Muhammad SAW adalah seorang guru? [3]. Allah SWT berfirman:

﴿كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولاً مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْوَيُعَلِّمُكُمُالْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَوَيُعَلِّمُكُممَّا لَمْ تَكُونُواْ تَعْلَمُونَ﴾

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al-Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (TQS Al-Baqarah [1]: 151).

Jadi, guru adalah pewaris dakwah para Nabi, pembina dan pencetak generasi masa depan yang mempunyai pengaruh besar dalam kehidupan kita, kehidupan anak-anak kita, sikap dan perilaku anak-anak kita, bahkan kecenderungan dan aspirasi mereka. Imam Al-Ghazali memuliakan profesi guru. Beliau mengatakan, “Siapa saja yang berilmu dan mengajarkannya, maka ia disebut ‘orang besar’ di segenap penjuru langit” [3].

Ironisnya, peran guru saat ini dibelokkan oleh musuh-musuh Islam dengan beragam cara. Guru seringkali tak sejalan dengan misi suci pendidikan. Tak jarang, guru malah menjadi pihak yang mengosongkan benak pemuda muslim dari konsep-konsep aqidah Islam, agar laksana air tawar yang bisa diwarnai apa saja sesuai pengajaran musuh. Akibatnya, pemuda muslim membenci sejarah umatnya dan berburuk sangka bahwa Islam-lah yang menjadi penyebab kemunduran, kelemahan dan kehinaan umat [3].

Padahal di luar sana, realita sekularisasi kehidupan telah menjadikan anak didik tak selalu semanis dan sebaik prestasi mereka saat belajar di sekolah/kampus. Ini adalah bukti bahwa guru tak boleh sekedar menjadi profesi mencari nominal gaji. Lebih dari itu, guru adalah pendidik, sekaligus pembina. Karenanya, menjadi guru harus ada faktor “panggilan jiwa”. Semata demi menunaikan amanah agung tadi. Yakni menuju penyelamatan generasi penerus output sistem pendidikan.

Ini juga demi mewujudkan dunia pendidikan agar tak lekat dengan citra negatif dan pengaruh buruk di berbagai institusi masyarakat. Untuk itu, para guru harus memiliki curahan upaya dan inovasi, motivasi dan keikhlasan untuk melaksanakan kurikulum secara visioner. Semua dalam rangka membekali peserta didik tentang berbagai aspek terkait cara pandang terhadap kehidupan. Dan hal ini dapat terselenggara secara efektif melalui pendidikan yang kolektif dan sistemik.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox