Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Sunday, July 26, 2020

Ekonomi mengalami Resesi, bagaimana solusi negara seharusnya?


Oleh  Antika Rahmawati
(Aktifis Dakwah Kampus)

Resesi ekonomi sudah di depan mata. Para ahli mendorong masyarakat mengantisipasi dengan gaya hidup hemat dan menyiapkan alternative pekerjaan. Tidak cukup hanya mengantisipasi, tapi perlu solusi tuntas atas resesi akibat berlakunya ekonomi kapitalisme. Perlu mendorong masyarakat memahami cacat bawaan sistem kapitalisme yang menghasilkan krisis termasuk resesi dan bagaimana sistem ekonomi islam menciptakan ekonomi yang stabil dan tidak rentan resesi. Sistem kapitalisme ini bukan hanya merusak tatanan kehidupan manusia, namun tidak mampu menolong perekonomian negara, sebab, semua aturan yang dibuat adalah hasil daripada pemikiran lemah manusia itu sendiri.

Dilaman Detikfinance, Perekonomian dunia berada di ambang ketidakpastian akibat pandemi virus corona (covid-19). Begitu juga dengan perekonomian Indonesia yang diprediksi kuat pada kuartal II-2020 ini mengalami kontraksi. Belum lagi isu resesi yang berada di depan mata, melihat negara tetangga Singapura sudah menelan pil pahit akibat pandemi. Bahkan, dalam peluncuran laporan Bank Dunia untuk ekonomi Indonesia edisi Juli 2020, tidak ada jaminan bagi ekonomi Indonesia terbebas dari resesi. Indonesia bisa mengalami resesi jika infeksi Covid-19 terus bertambah banyak. Sebenarnya apa itu resesi?
Resesi adalah kondisi ketika produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif selama dua kuartal atau lebih dalam satu tahun. Hal itu juga pernah dijelaskan oleh Menteri Keuangan, “Technically kalua 2 kuartal berturut-turut negatif memang resesi. Kan itu definisi resesi memang pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut negatif. Itu berarti ekonomi mengalami resesi.”, kata dia dalam konferensi pers virtual APBN Kita pada 16 Juni 2020 lalu. Dan masih banyak pendapat lain tentang resesi ini. Jika kita lihat faktanya hari ini, bahwa resesi ini bukanlah akibat dari bencana pandemi virus corona saja, namun, peran negara yang masih alot dalam mengurus dan meri’aya umat (Rakyat).

Dan lagi-lagi masyarakat dihadapkan kenyataan yang begitu getir, saat mereka menghadapi masa-masa kemrosotan ekonomi dikehidupan mereka pemerintah belum mampu memberi kepastian kapan kondisi akan kembali seperti semula. Dan yang lebih menyedihkan, kini, angka kemiskinan semakin meningkat. Negara hanya menjamin kebutuhan pangan yang itupun rakyat harus memiliki identitas asli DKI sedangkan untuk pendatang yang masih berdomisili di luar DKI tidak mendapat bantuan sama sekali. Dimana keadilan pada saat itu? Rakyat dibiarkan mandiri dalam mengahadapi krisis pandemi ini. Maka tak heran jika perekonomian negara yang terbilang anjlok ini menambah keresahan rakyat kecil. Di sistem kapitalis ini, pemerintah hanya membuat undang-undang yang menguntungkan corporate. Pemerintah kurang memperhatikan keuangan negara yang seharusnya dalam kepemilikan anggaran sesuai Islam terbagi menjadi tiga kepemilikan, yakni kepemilikan negara, umum dan pribadi. Sayangnya dengan sistem kapitalisme yang menjungjung tinggi kebebasan kepemilikan membuat seluruh kekayaan negara hanya dikuasai segelintir orang saja. Dan negara mengalami kekosongan kas atau defisit anggaran lantaran SDA semua dikeruk oleh corporate sedang negara hanya dapat sedikit devisa.

Dan negara mempunyai hutang terhadap negara lain yang bunganya membengkak. Apakah akan mempertahankan sistem yang notabene hanya menginginkan kehancuran negara nya sendiri dengan mengorbankan rakyatnya untuk melunasi hutang negara. Dengan banyaknya kenaikan biaya hidup berkedok asuransi yang sebenarnya tidak sama sekali membantu kesejahteraan rakyat. Banyaknya korupsi yang melibatkan tiga pilar yang ada di lembaga konstisional yaitu legislatif, yudikatif dan eksekutif. Itu semua adalah contoh rusaknya sistem negara yang dianut oleh negeri manapun termasuk negeri +62 ini. Kebijakan demi kebijakan yang tak urung membawa persoalan yang merugikan banyak pihak, termasuk dalam perekonomian negara yang saat ini sudah terjadi penurunan drastis.

Di beberapa sumber juga mengklaim bahwa krisis merupakan tabiat dari sistem kapitalis ini. Bahkan dikatakan sebelum wabah corona menyerang berbagai negeri, sebenarnya dunia sudah terancam krisis ekonomi. Pada 16 Oktober 2019, IMF menyatakan pertumbuhan ekonomi dunia berada pada laju terburuk sejak krisis keuangan global. IMF menudig perang dagang, ketidakpastian Brexit dan krisis-krisik geopolitik lainnya sebagai penyebab lesunya pertumbuhan ekonomi dunia. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, krisis ekonomi selalu terjadi mengikuti siklus sepuluh tahunan. Pada 1998 terjadi krisis moneter. Sepuluh tahun kemudian padsa tahun 2008, dunia mengalami krisis finansial yang diawali kejatuhan Lehman Brothers. Kini tahun 2020 krisis ekonomi datang lagi. Wabah corona memperparah krisis yang ada. Negara sekelas Amerika Serikat (AS) saja sudah mengalami puluhan kali resesi. Melansir Investopedia, AS (negara dengan nilai ekonomi terbesar dimuka bumi ini) sudah mengalami resesi selama 33 kali.-Sumber : MuslimahNews.com

Berbeda dengan Islam yang mempunyai sistem khas dalam mengatur semua lini kehidupan termasuk kehidupan bernegara. Pemimpin / khalifah yang menerapkan hukum syari’at, mampu meri’aya ummat dengan sangat adil seadil-adilnya. Karena Islam mempunyai akidah aqliyah yang peraturannya sesuai dengan fitrah manusia. Termasuk dalam sistem ekonomi islam yang dahulu pernah dicontohkan oleh Nabi Shalallahu’alaihi wasallam dan masa pemerintahan khulafaur Rasyidin serta para khalifah sesudahnya. Yang dimana khalifah tidak lah pantas memakai pakaian yang lebih bagus dibanding rakyatnya, memakan makanan yang lezat sedangkan rakyatnya kelaparan, dan tidak bermewah-mewahan diatas penderitaan rakyatnya. Seperti yang pernah dicontohkan oleh khalifah Umar Radiyallahuanhu di masa mengahdapi wabah tha’un yang mematikan, ia berusaha untuk mencukupi seluruh rakyatnya bahkan beliau sampai kelaparan.

Khalifah yang menjabat sebagai pemimpin dalam daulah juga mau dikritik jika ia salah membuat kebijakan, karena ciri khas masyarakat Islam adalah satu pemikiran dan ketika mereka salah, mereka akan berterimakasih jika diingatkan. Dari sisi pandangan ekonomi, perbedaan antara sistem Islam dan kapitalis adalah dalam menetapkan apa yang menjadi permasalahan problematika ekonomi yang sebenarnya, dan dalam menentukan berbagai langkah dan stragtegi yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan ekonomi tersebut. Menurut An-nabhani (1990), pandangan Islam terhadap masalah ekonomi dari segi pengadaan dan produksi harta kekayaan (barang dan jasa) dalam kehidupan adalah berbeda dengan pandangan Islam terhadap tatacara perolehan, pemanfaatan, dan pendistribusiannya. Aspek yang pertama dimasukkan ke dalam pembahasan ilmu ekonomi (‘ilmuniqtishadiyun) yang bersifat universal dan sama untuk setiap bangsa di dunia, sementara aspek kedua dimasukkan ke dalam pembahasan sistem ekonomi (Nidzamuniqtishadiyun) yang dapat berbeda diantara setiap bangsa sesuai dengan pandangan hidupnya (ideologinya).

Menurut Islam, dari segi keberadaannya, harta kekayaan terdapat dalam kehidupan secara alamiah, Allah Subhanahu Wata’ala telah menciptakannya untuk diberikan kepada manusia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam banyak ayat-Nya antara lain : “Dialah yang telah menciptakan untuk kalian semua apa saja yang ada di bumi.(Q.S. Al-baqarah[2]:29). -EkonomiIslam.com dan masih banyak firman allah yang lain seperti Q.S. Al-Jatsiyah [45]:13 dan Q.S Abasa [80]:24-32.
Ayat-ayat diatas serta yang lain yang serupa menunjukan bahwa Allah menegaskan Dia-lah yang telah menciptakan benda-benda (harta) agar bisa dimanfaatkan oleh manusia secara keseluruhan. Berbeda dengan sistem saat ini yang semuanya tidak diatur dalam naungan Khilafah Islamiyyah, semua hanya dilihat dengan kacamata liberalis dimana negara bebas dalam bertindak, membuat hukum, dan dalam perekonomiannya pun, harta dan kekayaan itu hanya dinikmati oleh kaum neolib yang senantiasa membunuh siapapun yang mengahalangi jalan nya untuk meraup keuntungan. Jadi, hanya Islam yang mampu menjadikan rahmat bagi seluruhnya, termasuk dalam mengatur ekonomi negara. Dan negara daulah tidak memperbolehkan adanya riba, korupsi, hutang dengan negara kafir harbi yang pada dasarnya akan menimbulkan riba yang menyengsarakan rakyatnya sendiri.

Melalui dakwah dan ‘Amar makruf nahi munkar, kita harus terus bertahan dalam dakwah ini, sekaligus menyongsong kembali tegaknya Daulah Khilafah Islamiyyah. Menegakkan yang haq dan menumbangkan yang bathil dengan selalu menyuarakan Islam dengan lantang. Dan terus memberikan pencerahan pada pemikiran setiap ummat agar mereka kembali kepada Islam Kaffah yang dulu pernah berdiri tegak diatas seorang pemimpin yang tunduk akan syari’at-Nya. Seperti janji Rasulallah bahwa khilafah ‘alamimn hajinnubuwwah akan tegak kembali kekhilafahan sesuai dengan manhaj kenabian yang ke 2.
Wallahu'alam bishawwab. []





No comments:

Post a Comment

Adbox