Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Monday, June 22, 2020

Utang Menggunung, Negeri Kian Terpasung



Oleh Dyan Ulandari


Utang merupakan salah satu instrumen pendapatan dalam ekonomi kapitalistik selain pajak dan pencetakan uang. Utang yang menjadi aktifitas rutin suatu negeri tentu menandakan keuangan tak sehat, baik Utang Luar Negeri (ULN) maupun Utang Dalam Negeri (UDN).

Terlebih ULN bertumpuk dan menggunung, maka bersiap menjadi jatah generasi selanjutnya kian terpalak dalam besarnya pajak serta beban lain yang siap menyertai. Tercatat utang Indonesia jumlahnya kian waktu kian fantastik.

ULN Indonesia pada akhir 2014 sebesar US$ 293,328 miliar atau setara Rp 5.410,86 triliun (US$ 1= Rp 15.000). Pada akhir Agustus 2018 total ULN sebesar US$ 360,724 miliar. Pada laman asiatoday.id (15/6/2020) tercatat oleh BI (Bank Indonesia) terjadi pembengkakan ULN pada akhir April 2020 menjadi USD 400,2 miliar.

Defisit Anggaran (budget deficit) menjadi alasan mengambil pinjaman ULN. Bahkan sudah sejak lama menjadi langganan hingga kini. Utangnya pun bukan tanpa kompensasi, yakni hutang ribawi yang bunganya membengkak dan sarat dikte kreditur yang terbukti mendominasi kebijakan disana-sini.

Bulan ini Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pemerintah telah menarik utang sebesar Rp356,1 triliun untuk membiayai defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Mei 2020. (www.vivanews.com, 16/6/2020)

/_Dept Trap_ Pembawa Petaka/

Utang Luar Negeri telebih disertai riba tentu sangat berbahaya. Pertama, mendatangkan laknat Allah yang artinya menjauhkan keberkahan. Kedua, terdapat bahaya politis karena mengancam kedaulatan.

Dalam paradigma kapitalis tentu tak ada yang gratis. Termasuk utang luar negeri pasti mengandung konsekuensi.

Utang luar negeri menghasilkan konsekuensi, terlihat dalam kebijakan dan produk perundang-undangan yang mengikuti. Misal UU Migas, UU Minerba, dan lain sebagainya yang dampaknya merugikan bagi masyarakat luas.

Utang riba yang menumpuk disertai beban bunga yang tinggi akan menjerumuskan negeri ini dalam jebakan utang (debt trap). Utang pokok serta bunga tahun sebelumnya belum jua lunas terbayar, tertumpuk lagi dengan utang baru. Bahkan hingga bunga melambung melampaui pokok pinjaman. Jika tak terbayar, konsekuensi ditukar dengan aset penting negeri ini.

Kalaulah menggunakan SDA (Sumber Daya Alam) yang ada, sudah berapa persen yang sudah diswastanisasi dan menjadi kepemilikan asing. Tinggal sisa berapa persen untuk dinikmati anak-anak negeri. Generasi kian terpingggirkan, bak terpasung di negeri sendiri.

Dengan kepemimpinan kapitalistik, negeri salah kelola dan kian terjerembab dalam lumpur utang yang mematikan. Terlebih saat ini ketika menghadapi wabah virus corona, makin nampak bagaimana cara kapitalisme mengatur keuangannya. Sangat carut marut dan timpang dimana-mana.

/Allah Melarang Riba dan Membahayakan Umat/

الَّذِي يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطَانُ مِنَ الْمَسِّ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبا وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبا ...

"Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaithan lantaran (tekanan) penyakit gila keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat) “Sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba,” padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”  (QS. Al-Baqarah [2]: 275)

Al-‘Alim al-Syaikh Atha’ bin Khalil menjelaskan dalam tafsirnya:
Allah SWT menyebutkan dalam ayat-ayat tentang riba, dan Allah SWT pun menjelaskan besarnya kejahatan dan betapa buruknya perbuatan pelakunya, disamping (menjelaskan) hukuman yang sangat keras dan adzab yang sangat pedih atas kejahatan dan kemungkaran yang besar ini, setelah Allah SWT menjelaskan balasan pahala bagi orang-orang yang mengeluarkan harta yang halal dan baik di jalan Allah.”

Rasulullah SAW bersabda:
«إِذَا ظَهَرَ الزِّنَا والرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ»
“Jika perzinaan dan riba telah merajalela di suatu negeri maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan adzab Allah atas mereka.” (HR. Al-Thabrani dan Al-Hakim)

Syaikh Abdul Qadim Zallum dalam kitab Al-Amwâl fî Daulah al-Khilâfah menjelaskan bahwa pinjaman dari negara-negara asing dan lembaga-lembaga keuangan internasional tidak diperbolehkan oleh hukum syara`. Karena pinjaman seperti itu terkait dengan riba dan syarat-syarat tertentu. Utang luar negeri merupakan bencana berbahaya atas negeri-negeri Islam dan menjadi penyebab penguasaan kaum kafir atas negeri-negeri kaum muslim.

" ... dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman." (TQS. An Nisa`: 141)

/Islam Menghindarkan Utang Riba Maupun Bersyarat/

Islam mengharamkan riba dan utang bersyarat yang merugikan ummat. Dengan peraturan Islam, Allah menjauhkan umat ini dari jebakan utang, terlebih utang riba.

Karena dalam Islam telah diklasifikasi kepemilikan menjadi 3 jenis kepemilikan. Selain itu dengan pembiayaan berbasis baitul mal, maka kelangsungan hidup bernegara sudah terdapat pos-pos yang jelas pembiayaan dan sumber pendapatannya sesuai aturan syari'ah.

Dalam Islam selain tidak membebani rakyat, juga tidak akan tumpang tindih dan kebingungan mencari sumber pendapatan. Negara akan terjauh dari jebakan utang, terlebih utang luar negeri.

Sekalipun terpaksa utang, disertai dengan syarat akad sesuai syari'ah yakni tanpa riba dan tanpa syarat/kompensasi. Dengan sistem yang ada dan izin Allah negara dengan cepat mampu segera melunasi. Sehingga tak akan terjadi utang menggunung akibat dijadikan agenda rutin untuk penyelenggaraan yang membutuhkan berbagai pembiayaan.

Begitulah sistem dari Allah yang pasti sesuai fitrah untuk semua manusia. Maka sudah semestinya kita benahi diri. Bangkit dari kubangan berbagai keterpurukan termasuk lepas dari utang menumpuk, gemilang dan tak lagi terpasung. Bersama membawa negeri yang gemah ripah loh jinawi menuju aturan ilahi, yakni sistem Islam yang menjadi rahmat jika diterapkan secara keseluruhan.

"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ..." (TQS. Al Anfaal: 24)

Wallahua'lam bisshowab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox