Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, June 23, 2020

Revisi Ideologi Umat Rasulullah SAW



Oleh : Nindira Aryudhani, S. Pi, M. Si
(Koordinator LENTERA)

Pembahasan RUU HIP tengah memasuki masa tunda. Pengumuman itu disampaikan Menko Polhukam Mahfud MD melalui akun Twitter pribadinya @mohmahfudmd (kumparan.com, 16/06/2020). Dalam cuitannya, Mahfud meminta kepada DPR agar lebih banyak menyerap aspirasi dari seluruh elemen masyarakat selama pembahasan ditunda. Penundaan itu, menurut Mahfud, dilakukan karena saat ini pemerintah masih fokus pada upaya penanganan COVID-19. Meski demikian, tentunya pembahasan RUU HIP masih berpeluang suatu saat akan dilanjutkan kembali.

Memang, RUU HIP panen pro dan kontra dari masyarakat. Tak terkecuali dari sejumlah tokoh dan mayoritas elemen umat Islam. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) secara kelembagaan di seluruh Indonesia, mengeluarkan pernyataan resmi menolak RUU HIP. MUI juga meminta agar diusut dalang di balik RUU yang bernafas komunisme sebagaimana PKI ini. Tak ayal, PDIP selaku partai pengusul yang mana kadernya menyandang jabatan Ketua Panja (Panitia Kerja), jadi ciut nyali dan berusaha melakukan kompromi.

Sampai-sampai, Presiden Jokowi yang tak lain kader PDIP juga mengaku bahwa dirinya tak ikut-ikutan soal peluncuran RUU ini. Sementara, Ketua MPR Bambang Soesatyo mengusulkan agar nama RUU HIP diganti menjadi RUU Pembinaan Ideologi Pancasila. Mungkin ini upaya-upaya agar RUU HIP tak menuai polemik yang lebih panjang.

Sementara, di antara kompromi yang ditawarkan, PDIP sepakat untuk mencantumkan TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966, menghapus konsepsi Trisila hingga Ekasila. Mengingat, letak masalah isi draft RUU HIP adalah terkait pasal 7 yang narasi lengkapnya memuat frasa “Ketuhanan yang Berkebudayaan”:

(1) Ciri pokok Pancasila adalah keadilan dan kesejahteraan sosial dengan semangat kekeluargaan yang merupakan perpaduan prinsip ketuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan/demokrasi politik dan ekonomi dalam satu kesatuan.

(2) Ciri Pokok Pancasila berupa trisila, yaitu: sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, serta ketuhanan yang berkebudayaan.

(3) Trisila sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terkristalisasi dalam ekasila, yaitu gotong-royong.

Namun, yang tak kalah berbahaya, ternyata di balik kompromi itu, PDIP menyusupkan maksud negatif dengan meminta ajaran Islam Khilafah untuk turut dicantumkan sebagai paham yang dilarang, disejajarkan dengan Komunisme, Marxisme dan Leninisme. Tak pelak, muncullah istilah "Khilafahisme" yang tentu saja begitu absurd dan cenderung menistakan ajaran Islam.

Publik memang sempat dibuat kaget dengan pernyataan kontroversial Sekjen PDPI Hasto Kristianto terkait isu “Khilafahisme” itu. Menurut Hasto, PDIP juga setuju penambahan ketentuan menimbang untuk menegaskan larangan terhadap ideologi yang bertentangan dengan Pancasila, seperti Marxisme – komunisme, Kapitalisme -Liberalisme, Radikalisme, serta bentuk “Khilafahisme”.

Artinya, jika RUU HIP disetujui jadi Undang-undang, penyebar paham Marxisme-Komunisme, Kapitalisme-Liberalisme, Radikalisme, dan “Khilafahisme” akan diburu dan ditangkap karena bertentangan dengan ideologi Pancasila. Karena itu, sesungguhnya pernyataan tersebut menggambarkan permusuhan nyata pada ajaran Islam yang sangat mulia, dan upaya menutupi masalah yang sebenarnya terjadi di negeri ini.

Khilafah adalah ajaran Islam yang agung dari Allah SWT. Khilafah sistem pemerintahan dalam Islam, sekaligus sebagai metode pelaksanaan syariat secara kaffah (menyeluruh). Khilafah bukan ideologi, karena ideologi merupakan ide dasar yang mendasari semua pemikiran yang dibangun di atasnya. Khilafah juga bukan “isme” karena ia ajaran Islam yang bersumber dari wahyu, sedangkan "isme" berasal dari akal dan hawa nafsu manusia. Dan adanya akhiran "isme" ini menandakan suatu paham, ajaran atau kepercayaan. Dengan demikian, menyebut Khilafah dengan “khilafahisme” adalah kekeliruan, penyesatan, dan pengkerdilan terhadap sesuatu yang agung.

Selain itu, kita juga harus membaca secara politik bahwa istilah tersebut adalah alat propaganda untuk menyerang Islam dan kaum muslimin. Istilah “radikalisme” –dan sekarang “khilafahisme”- selalu digunakan untuk menyerang umat Islam. Ini tak ubahnya istilah "radikalisme" yang cenderung sebagai narasi politik untuk melawan pihak-pihak tertentu yang berseberangan dengan penguasa. Bagaimana pun, nyatanya permainan istilah ini hanya menjadi alat pukul terhadap warga negara yang kritis dan berbeda cara pandang dengan rezim.

Serangan terhadap istilah "Khilafah" ini adalah bentuk kebencian terhadap Islam berupa reduksi istilah syar'iy. Upaya ini adalah sebagian dari distorsi terhadap istilah "Khilafah" dalam rangka tetap tegaknya tata kehidupan sekuler yang mereka banggakan selama ini.

Tersebab inilah umat Rasulullah saw harus memiliki agenda sendiri. Berawal dari revisi ideologi yang menjadi landasan kehidupan. Agar tak melulu tersibukkan dengan perang istilah yang tak jelas standarnya, apalagi jika sampai membelanya secara membabi buta. Padahal tiada setitik pun pembelaannya itu sebagai langkah meraih keridhoan Allah. Na'udzu billaahi.

Karena sungguh, Islam sendiri adalah sebuah ideologi. Islam terdiri dari fikroh (ide, pemikiran) dan thoriqoh (metode pelaksanaan pemikiran). Islam sangat lebih dari layak untuk diterapkan sebagai landasan dan tata aturan kehidupan umat manusia. Karena Islam adalah rahmatan lil 'alamiin. Terlebih, karena Islam datang dari Allah SWT, Al-Khaliq Al-Mudabbir. Tentu hanya kaum sekuler saja yang mengeliminasi keberadaan aturan Allah dalam kehidupan, dan justru memojokkannya hanya di ruang-ruang ibadah.

Firman Allah SWT:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ

"Dan tiadalah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam." (QS Al-Anbiya [21]: 107).

Para ulama mu’tabar menjelaskan "rahmat" dalam ayat tersebut berkaitan dengan penerapan syari’at Islam kâffah dalam kehidupan sebagai aktualisasi akidah Islam yang diemban Rasulullah saw. Bahwasanya,

وما أرسلناك يا أشرف الخلق بالشرائع، إلّا رحمة للعالمين أي إلّا لأجل رحمتنا للعالمين قاطبة في الدين والدنيا

”Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syari’at-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.”

Meski kini ideologi Islam belum lagi diemban oleh sebuah negara sebagaimana Negara Khilafah terdahulu, namun sejatinya ideologi Islam itu senantiasa ada dalam benak kaum muslimin. Yang dengannya, kaum muslimin sangat urgen untuk disadarkan dan dibangkitkan bahwa mereka memiliki aset berharga sebuah peradaban masa depan, yang tak lain adalah ideologi Islam dalam rangka meraih hidup berkah di dunia dan akhirat.

Hal ini sejalan dengan janji Allah akan turunnya keberkahan dari langit dan bumi, ketika tegaknya Dinul Islam dalam kehidupan diwujudkan oleh penduduk negeri yang beriman dan bertakwa:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا ‏يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’râf [7]: 96).

Hari demi hari terkhusus di era pandemi ini, semakin jelas bukti gagalnya ideologi kapitalisme. Alih-alih untuk mensejahterakan rakyat suatu negeri. Kapitalisme hanya berhasil memperkaya sebagian kecil warga tapi menyengsarakan sebagian besar lainnya. Apa yang terjadi saat ini tak ubahnya bom waktu di negeri kita ini.

Di tengah kesengsaraan mayoritas rakyat, sangat kontras ketika pada saat yang sama malah ada banyak pejabat yang bermewah-mewah. Mereka menumpuk harta dengan mudahnya, karena difasilitasi sistem beserta rezimnya. Sementara mayoritas rakyat kesulitan mendapatkan akses untuk bisa hidup layak. Jangankan untuk mempunyai harta, untuk bisa bekerja saja sulitnya bukan main. Yang terjadi, rezim justru memberi karpet merah pada TKA Cina di tengah gelombang tsunami PHK. Sungguh tak masuk akal. Ini yang harus membuka mata kita. Jadi, kita tinggal tunggu masanya. Kapitalisme di Indonesia tengah membunyikan lonceng kematiannya.

Dan kita sebagai umat Islam sangat harus menyadari bahwa kita punya sistem Islam yang mampu memberikan kesejahteraan kepada semuanya. Mampu menjaga dan mendistribusikan ekonomi agar aset bangsa itu tidak hanya menumpuk pada sebagian orang saja. Melainkan tersalurkan sesuai tingkat kebutuhan masyarakat.

Kini saatnya dunia bersiap—dalam waktu dekat, dengan izin Allah—untuk menyambut raksasa Islam, sistem global baru yang berdasarkan fitrah penciptaan. Meski ada upaya negara-negara besar yang menghubungkan Islam dengan berbagai propaganda istilah, dalam upaya mereka yang putus asa untuk menunda lahirnya tatanan Islam internasional yang akan datang.

Sebagai orang yang beriman, tentunya kita tidak mengabaikan janji Allah dan bisyaroh Rasulullah saw akan tegaknya Khilafah, meski NIC (National Intelligence Council) milik AS pernah merilis pada 2005 lalu, perihal pemetaan masa depan global 2020 (Mapping The Global Future 2020), yang salah satunya adalah tegaknya kekhilafahan Islam.

Firman Allah SWT:

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (TQS An-Nuur [24]: 55).

Dan bisyaroh Rasulullah saw:

ثُمَّ تَكُوْنُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ

“... Kemudian akan ada Khilafah atas metode kenabian. Kemudian beliau saw diam.” (HR Ahmad).[]

No comments:

Post a Comment

Adbox