Pojok-aktivis

Dari Gelap Menuju Terang

Menyalinkode AMP
Menyalinkode AMP

Tuesday, June 16, 2020

Korsleting Tata Kelola Listrik, "Daya" Penguasa VS Sengatan Tarif



(Pipit Agustin)

Pemberitaan media tentang keluhan masyarakat soal tagihan listrik yang membengkak kembali merebak. Masyarakat menduga ada kenaikan tarif listrik secara diam-diam atau ada subsidi silang yang diterapkan untuk pengguna daya 450 VA dan 900 VA.

Terdapat 4,3 juta pelanggan PLN yang mengalami kenaikan tagihan. Pelanggan yang mengalami kenaikan 20% - 50% jumlahnya mencapai 2,4 juta pelanggan. Sementara pelanggan yang tagihannya mengalami kenaikan di atas 200% dialami 6% dari total pelanggan yang mengalami kenaikan tagihan. (CNBC Indonesia. 06/06/2020)

Sementara itu seorang warga di Depok Jawa Barat bahkan mengalami kenaikan hingga lima kali lipat. Tak heran warga curiga adanya kecurangan dalam hitungan kwh perjam dari meteran listrik, yang menyebabkan tagihan listrik membengkak. Hingga beramai-ramai melakukan protes ke kantor PLN, bersama warga Depok lainnya. (jabarnews.com 09/06/2020).

Merespons keluhan-keluhan tersebut, PT PLN (Persero) angkat suara. Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril memastikan seluruh anggapan itu tidak benar. PLN tidak pernah menaikkan tarif listrik karena bukan kewenangan BUMN.

"Pada intinya bahwa PLN itu tidak melakukan kenaikan tarif karena tarif itu adalah domain pemerintah. Kan sudah ada UU yang diterbitkan pemerintah melalui Kementerian ESDM. Jadi PLN tidak akan berani karena itu melanggar UU dan melanggar peraturan dan bisa dipidana bila menaikkan tarif," ujar Bob dalam konferensi pers bertajuk 'Tagihan Rekening Listrik Pascabayar', Sabtu (6/6/2020).

Senada dengan PLN, pihak Istana Negara angkat suara atas beragam keluhan masyarakat mengenai tingginya tagihan listrik selama pandemik Covid-19.

Dikatakan pemerintah, tingginya pembayaran bukan karena kenaikan tarif listrik, melainkan meningkatnya konsumsi masyarakat yang banyak beraktivitas di dalam rumah.

Fenomena yang menarik. Narasi kebijakan pemerintah Indonesia hanya mentranslet hubungan penguasa dan rakyat semata dalam bahasa dagang, yakni bagaimana sumber daya listrik ditransaksikan kepada rakyat dengan skema harga yang profitable.

Nampaknya, cara pandang kapitalis-sekuler telah merasuk ke dalam jiwa pemerintah hingga mereka rabun terhadap hubungan pelayanan dan perlindungan kepada rakyat sebagaimana amanat jabatan yang mereka terima melalui sebuah sumpah setia atas nama Tuhan.

Lantas bagaimana solusi pemerintah?
PLN telah menyiapkan skema atas kejadian ini, yaitu dengan pembayaran bertahap bagi pelanggan yang merasa terbebani. Skema perlindungan ala PLN untuk mengantisipasi lonjakan drastis yang dialami oleh sebagian konsumen, akibat pencatatan rata-rata tagihan menggunakan rekening 3 bulan terakhir. Yaitu lonjakan yang melebihi 20% akan ditagihkan pada bulan Juni sebesar 40% dari selisih lonjakan, dan sisanya dibagi rata tiga bulan pada tagihan berikutnya.

Sungguh, prinsip kapitalisme yang diadopsi pemerintah telah mengkhianati tugas pelayan dan pelindung (raain dan junnah) dari negara dan meninggikan apa yang disebut "regulator" sebagai profesi tertinggi pemerintah. Lalu mengaruskan skema "cicilan" sebagai solusi penolong bagi rakyat yang terbebani.

Ini menegaskan watak kapitalis memang tidak peduli terhadap kesulitan rakyat. Sebagai sektor layanan publik pun, tidak menyesuaikan pelayanannya dengan pendekatan meringankan kesulitan yang dihadapi masyarakat di masa pandemik.

Di sisi lain, ambisi penguatan ekonomi di era new normal membuat penguasa negeri ini menumbalkan nyawa rakyat hanya karena memandang kematian di luar kasus covid-19 jumlahnya lebih banyak dibandingkan kematian akibat covid-19. Naudzubillah.

Jika pemerintah Indonesia benar-benar terbukti menaikkan tarif di masa pandemi, maka sungguh hal ini adalah kezaliman dan bertentangan dengan Islam. Sebagai negeri mayoritas Muslim dan dipimpin seorang Muslim, maka seharusnya sikap pemimpin adalah sejalan dengan kitab Suci yang ia sumpah dengannya. Alquran telah memberi petunjuk seluruh persoalan kehidupan, pun persoalan listrik.

Allah SWT berfirman:
"Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya." TQS. Al-Hasyr: 7).

Alquran memerintahkan umatnya untuk mengikuti pedoman yang telah diberikan Rasulullah. Dalam persoalan listrik, terdapat hadis Nabi saw yang patut kita renungkan. Rasulullah saw. bersabda:

"Manusia itu berserikat (punya andil) dalam tiga perkara, yaitu air, padang rumput, dan api." (HR. Ahmad dan Abu Dawud).

Para ulama menafsirkan yang dimaksud air, padang rumput, dan api pada hadis tersebut adalah segala sumber daya alam yang menjadi milik umum rakyat, berupa BBM, gas, listrik, hutan, tambang, dsb. Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Anas dari Ibnu Abbas, ada tambahan kalimat penutup: "wa tsamanuhu haramun" (dan harganya adalah haram).

Paradigma Islam berbeda diametral dengan kapitalisme. Berdasarkan ketundukan dan ketaatan dalam memaknai hadis di atas, dapat dipahami bahwa jangankan menaikkan harga, mengkomersilkan listrik kepada rakyat saja adalah haram, apalagi menaikkan tarifnya hingga berlipat-lipat.

Jadi, seharusnya listrik itu gratis untuk seluruh rakyat. Jika tidak mampu menggratiskan, maka boleh hanya dengan beban biaya produksi, dan tidak mengambil profit dari hasil penjualan listrik kepada rakyat sebagai owner hakiki sumber daya listrik. Sehingga maknanya, tarif listrik untuk seluruh rakyat tetap harus murah!

Pemerintah Indonesia perlu belajar dari jejak-jejak keagungan Islam, di mana pertumbuhan ekonomi ditopang oleh sistem politik berbasis iman dan takwa. Menyandarkan segala solusi permasalahan kepada petunjuk wahyu, yaitu Kitabullah dan Hadis Rasulullah.

Semoga era covid-19 ini menjadi momen muhasabah dan introspeksi total pemerintah dan seluruh rakyat untuk kembali beriman dan bertakwa totalitas dan merenungkan Firman Allah SWT:

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa,  pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya".(TQS. Al-A'raf: 96). Wallahu a'lam bish-shawwab.
 Wallahu a'lam bish-shawwab.[]

No comments:

Post a Comment

Adbox